
"Permisi bu! " Ucap Reva sebelum masuk kelas.
"Kamu! Sudah jam berapa ini? Baru datang? " Maki bu Yuli.
"Maaf Bu! Saya tidak akan mengulangnya lagi. " Sahut Reva dengan kepala tertunduk.
"Masuk! Kali ini kamu saya maafkan, mengerti! " Ucap bu Yuli.
"Mengerti bu! " Ucap Reva yang langsung menuju tempat duduknya.
"Kaki lu kenapa Va? " Tanya Niar saat melihat Reva berjalan dengan pincang.
"Jatuh dari sepeda! " Jawab Reva sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
"Kok bisa sih? Makanya lu tuh nurut sama gue! Di ajak bareng gue gak mau, ya gini deh akibatnya. " Niar sering kali menawari Reva agar berangkat bareng ke sekolah. Tapi Reva tetap saja menolak. Sungguh beruntung sekali Reva yang mempunyai teman sebaik Niar, yang tidak memilih milih teman.
"Kerjakan halaman lima puluh tujuh! Besok harus di kumpulkan ! " Ucap bu Yuli yang mengakhiri mata pelajaran nya.
"Kita ke kantin yuk? " Ajak sisil.
"Kita ke UKS dulu! Kaki Reva terluka! " Sahut Niar.
"Astaga! " Sahut Sisil .
"Gue gak papa, cuma lecet dikit doang kok! " Sahut Reva sambil tersenyum.
"Udah lu diem, dan nurut sama kita! Ucap Sisil, kita ke UKS sekarang! " Sisil menarik tangan Reva.
"Lepas Sil! Gue bisa jalan sendiri! " Rengek Reva .
"Oke, tapi lu harus nurut kita! " Sisil melepas tangan Reva.
"Siap bu bos! " Reva memberi hormat kepada Sisil.
Setelah dari UKS mereka bertiga, Reva, Sisil dan juga Niar menuju kantin sekolah.
Sisil tersenyum manis saat melihat Roky , yang sudah duduk manis di bangku kantin.
"Ngapain lu senyum-senyum sendiri? " Niar menyodok lengan Sisil.
"Haa... E.. Enggak! " Sahut Sisil gelagapan.
"Aneh lu! " Ucap Niar.
Di saat mereka asik berbincang, Tiba-tiba Rafi datang menghampiri mereka .
"Ini sebagi tanda terimakasih gue , karena lu sudah bersedia nolongin gue! " Rafi menyodorkan satu gelas cup jus Strawberry.
"Jangan mau Va! Siapa tau jus itu sudah di campur sesuatu! " Ucap Niar yang merasa curiga.
"Lu bisa lihat sendiri kan? Ini masih tersegel rapi, jadi mana mungkin gue campuri sesuatu di dalamnya. " Sahut Rafi .
"Coba lu minum duluan! Perintah Niar, biar gue bisa percaya."
Sialan nih bocah! Batin Rafi.
"Oke, siapa takut! " Ucap Rafi tapi sorot matanya mengarah ke Reva.
"Gak usah kak! Ucap Reva yang menyaut jus itu dari tangan Rafi.
" Terimakasih kak! " Reva langsung menyeruput jus itu.
"Lu kok percaya gitu aja sih sama dia? " Omel Niar.
__ADS_1
"Tadi gue telat gara-gara nolongin dia! " Sahut Reva sambil tertunduk.
"Lu nolongin dia? Tanya Niar, apa lu gak ingat sama kelakuan dia kemarin? "
"Ingat, kita kan harus saling tolong menolong! "Sahut Reva.
" Ckk... Terserah lu deh!" Ucap Niar.
"Loh! Sisil ke mana? " Tanya Niar saat menyadari jika Sisil tidak bersama mereka.
"Gak tau! Reva mengedarkan pandanganya untuk mencari keberadaan Sisil.
" Bukanya tadi dia di sini? "
Sedangkan di taman belakang sekolah, Sisil dan Roky tertawa bersama.
Hahahaha
"Pasti mereka saat ini sedang bingung! " Ucap Roky yang tangannya masih menggandeng tangan Sisil.
"Udah pasti lah bingung! " Sahut Sisil.
"Temenan kakak juga bingung nyari kak Roky. " Lanjut Sisil.
"Biarin aja lah! Lagian ini sebagai gantinya yang tadi pagi. " Ucap Roky sambil duduk.
"Maaf ya kak! Soalnya tadi pagi Niar udah jemput aku duluan. "
"Mau nolak juga gak enak aku nya. "Ucap Sisil sambil tersenyum manis.
" Iya gak papa! Tapi nanti pulang bareng aku ya? " Ajak Roky.
"Bukanya aku gak mau kak! Tapi aku sudah terlanjur janji sama Niar. " Jelas Sisil.
"Maaf kak! Lain kali ya? " Sisil memegang lengan Roky.
"Lagian kakak juga udah culik aku dari teman-teman ku ! " Ucap Sisil sambil tersenyum. Senyum Sisil tak pernah pudar dari bibir mungilnya.
"Ya udah deh! Tapi janji ya lain kali harus mau? " Tangan Roky mengacak rambut Sisil.
"Iihh... Jangan dong kak! Jadi berantakan nih rambut ku! " Sisil merapikan rambutnya sambil cemberut.
"Sini-sini aku bantu rapiin rambutnya! " Roky membatu Sisil merapikan rambutnya dengan jari-jari tangannya.
Sisil yang semula cemberut, kini tersenyum manis.
"Dulu mama kamu nyidam apa sih? Tanya Roky, kok bisa punya anak cantik dan manis kaya kamu? " Roky mencubit dengan gemas hidung mancung Sisil.
"Apaan sih! " Sisil memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah.
"Aku serius! "Tangan Roky menangkup kedua pipi Sisil.
" Jangan gitu ! Aku malau! " Sisil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tangan Roky mencoba menarik tangan Sisil, telapak tangan yang menutupi wajah cantiknya terbuka. Namun Sisil semakin kuat mempertahankan tangannya. Roky terkekeh melihat Sisil yang malu- malu.
Di kantin sedang terjadi kehebohan,
"Aduh perutku! " Reva memegangi perutnya yang tiba-tiba mules.
"Lu kenapa Va? " Tanya Niar.
"Perutku.... "
__ADS_1
PRREEETT
Belum selesai bicara suara kentut sudah keluar terlebih dulu.
"Lu kentut Va?" Niar menyumpat hidungnya. Begitu juga dengan para penghuni kantin lainnya.
"Perut gue sakit! " Reva bangkit dari duduknya, dengan memegangi perut dan pantatnya, Reva berlari menuju toilet .
Rafi dan Dimas bertos riya sambil tertawa puas , saat melihat obat cuci perut yang mereka taruh di jus itu bekerja dengan cepat.
"Rasain tuh! " Ucap Dimas.
"Ini pasti ulah kalian! Niar menatap tajam kedua laki-laki itu.
" Apa lu?" Tanya Dimas .
"Awas ya kalian! " Niar mengepalkan tangannya, ia ingin menghajar mereka. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Niar segera menyusul Reva ke toilet.
"Reva! Lu gak papa kan? " Tanya Niar dari luar.
"I.. Iya, gu... Gue gak pa... Papa! " Jawab Reva sambil menahan sakit perutnya.
"Lu sih, di bilangiin gak percaya! Mereka itu sudah memberi obat cuci perut ke jus itu. " Jelas Niar. Namun Reva tak menyahut sepatah kata pun.
"Gimana masih sakit? " Tanya Niar saat Reva keluar dari toilet untuk yang ke sekian kalinya.
"Sudah agak mendingan! " Jawab Reva dengan lemas.
"Lu istirahat aja di UKS! Nanti biar gue ijinin lu ke guru. " Niar menggandeng Reva yang lemas .
Reva memilih istirahat di ruang UKS, karena kondisi nya tidak memungkinkan untuk tetap mengikuti pelajaran berikutnya.
"Lu tadi kemana sih? " Tanya Niar kepada Sisil.
"Hehe gue tadi mendadak ada urusan ! Jawab Sisil sambil nyengir, Reva mana? " Sisil balik tanya.
"Lagi di UKS! " Jawab Niar.
"Gara-gara tuh si trio bemo, Reva sakit perut! " Jelas Niar dengan nada emosi.
"Haa... Trio bemo? Sisil memgerutkan keningnya.
" Iya, itu kakak kelas yang tengil itu! " Jelas Niar.
"Ouhhh.... " Sahut Sisil ber O riya.
"Jangan lupa besok tugasnya harus di kumpulkan! " Ucap bu Mumun guru mata pelajaran Matematika.
"Iya bu.... " Semua murid menjawab dengan kompak.
"Reva! Lu gak papa kan? " Tanya Sisil.
"Iya, gue gak papa. " Jawab Reva sambil tersenyum.
"Lu kita anterin pulang ya? " Tawar Niar.
"Gak usah, gue akan ke suatu tempat dulu. Jadi kalian duluan saja! " Ucap Reva yang menolak tawaran Niar.
"Gak papa. Kita antar lu dulu! Iya kan Sil? " Niar minta persetujuan dari Sisil.
"Kali ini lu gak boleh nolak ajakan kita! " Ucap Sisil.
"Maaf banget ya! Bukanya gue nolak ajakan kalian. Sebenernya gue mau banget. Tapi.... Gue harus cari pekerjaan! Nenek gue sakit dan di rawat di rumah sakit. Gue harus kerja biar nenek gue bisa segera di operasi. " Jelas Reva sambil menangis mengingat neneknya yang berbaring lemah di rumah sakit.
__ADS_1
"Sorry, kita gak tau! " Sisil dan Niar memeluk Reva .