
"Tadi itu siapa sih mas? Kok kelihatannya dekat banget sama Rafi! " Tanya Maya.
"Rafi ditemukan di tengah hutan bersama dengan anak perempuan itu tadi! " Jelas Guntur.
Kini mereka berada di ruangan VVIP dimana Rafi di rawat.
Maya duduk di samping brankar. Sedangkan Guntur dan Jimi duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Apa mereka mempunyai hubungan mas? " Tanya Maya. Posisinya kini menghadap sang suami.
Guntur mengangkat kedua bahunya, " Aku gak tau yang pastinya! Yang jelas tadi saat aku bawa Rafi ke rumah sakit, dia terlihat begitu khawatir dan aku melihat kekhawatirannya lagi tadi! " Jelas Guntur.
"Jim" Ucap Maya.
"Iya... Nyonya! " Sahut Jimi yang tadinya asik dengan ponselnya kini menatap ke arah Maya.
"Kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan? " Ucap Maya.
"Baik Nyonya! Akan saya cari tau siapa dan ada hubungan apa anak itu dengan tuan muda! " Sahut Jimi.
"Good! " Ucap Maya. Kemudian Maya mengalihkan pandangannya ke Rafi yang masih enggan membuka mata.
"Rafi... Sayang! Cepat sadar ya nak! Jangan bikin mama dan papa khawatir! " Ucap Maya sambil mengelus pelan wajah Rafi yang masih terlihat pucat.
Guntur tak tega melihat istrinya sedih. Lantas ia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri.
"Sayang... Jangan sedih gitu! " Ucap Guntur sambil memeluk tubuh Maya dari belakang, "kita berdoa saja semoga Rafi cepat sadar! Kamu ingat kan apa kata dokter tadi? Hem! " Guntur mengecup singkat pipi Maya.
"Aku hanya takut mas! Rafi anak kita satu-satunya! " Ucap Maya dengan buliran air mata.
"Aku tau perasaan mu! Aku juga mengkhawatirkan nya. Bahkan aku lebih takut saat pertama kali melihat Rafi yang tidak sadar dan itu posisinya ada di tengah hutan! Waktu itu aku benar-benar takut jika Rafi... " Guntur tak dapat meneruskan ucapannya, " ah.. Sudahlah yang penting saat ini anak kita sudah selamat dari maut "
Maya berbalik badan dan memeluk tubuh sang suami dengan erat.
"Sudah jangan menangis! " Ucap guntur sambil mengelus punggung sang istri.
Dan, saat itu juga ada pergerakan dari Rafi.
"Sayang lihat itu! " Guntur melepaskan Maya dari pelukannya.
"Rafi.. Sayang... Kamu sudah sadar nak ! " Ucap Maya.
"Jim panggil dokter! " Guntur menoleh sekilas ke arah Jimi.
Jimi pun langsung menekan tombol yang ada di dekat brankar itu.
"Ma.. Pa... Reva mana? " Tanya Rafi dengan suara yang lemah.
Maya pun menoleh ke Guntur.
__ADS_1
"Papa gak tau siapa Reva yang kamu maksud itu! " Dalih Guntur.
"Yang sama Rafi di hutan itu pa! Ke mana dia? Rafi ingin ketemu dia pa! "
"Kamu yang tenang ya! Kamu kan baru sadar! Nanti biar Jimi carikan teman mu itu! " Ucap Guntur.
Tak berselang lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Rafi.
Setelah dokter meninggalkan ruang rawat itu, Rafi kembali merengek.
"Pa... Ma! Ponsel Rafi mana? "
"Kamu mau menghubungi siapa? Ini pakai punya mama saja" Ucap Maya.
"Atau mau pakai punya papa? " Timpal Guntur.
"Rafi mau pakai ponsel Rafi sendri! " Sahutnya.
"Tuh ponsel mu masih di cash! " Ucap Maya sambil menunjuk ke atas nakas.
Rafi menghembuskan nafas kasarnya, ia harus bersabar menunggu hingga baterai ponselnya penuh.
( ♥‿♥)
"Mbak! Makasih ya udah bersedia nemenin nenek " Ucap Reva di sela-sela makannya.
"Oh iya! Tadi Sisil titip pesan ke mbak Nur! Kalau nanti akan di jemput sama mang Ujang! " Ucap Reva.
"Iya Non! Kalau begitu saya akan beres-beres dulu! " Ucap mbak Nur.
"Ehh.. Eh.. Mbak Nur mau ke mana? Makan dulu sini! " Ucap Reva.
Setelah menyelesaikan makan mbak Nur segera bersiap untuk kembali ke rumah Sisil. Mbak Nur sedikit terburu-buru karena mang Ujang sudah menunggu di depan.
"Nek, saya pamit pulang ya! Nenek jaga kesehatan ya! " Ucap mbak Nur sambil memeluk Lastri.
"Jangan sampai Reva tau jika saya masih bekerja " Bisik Lastri. Dan mbak Nur pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Non, mbak pamit ya! " Ucapnya kepada Reva.
"Iya mbak! Sekali lagi makasih lo mbak! " Ucap Reva.
Reva dan nenek nya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Gimana acara persaminya? Menyenangkan tau membosankan? " Tanya Lastri.
"Tentu menyenangkan dong Nek! " Bohong Reva. Ia tak ingin menceritakan yang sebenarnya kepada sang nenek.
"Ini tangan mu kenapa? " Lastri meneliti tangan Reva.
__ADS_1
"Oh.. Ini! Reva terpeleset! Tapi gak papa kok Nek! Ini juga sudah gak sakit! " Ucap Reva.
"Makanya kalau jalan itu hati-hati! Bikin nenek khawatir aja! " Sahut Lastri.
"Iya Nek! " Ucap Reva.
"Selama aku tinggal, nenek gak lupa kan untuk minum obat nya? " Tanya Reva.
"Jelas tidak dong! " Jawab Lastri.
"Nenek harus sembuh ya! Jangan tinggalin Reva! " Reva memeluk erat tubuh neneknya.
"Iya... Nenek pasti akan sembuh! Nenek juga tak akan meninggalkan mu kecuali jika nenek menghadap Yang Kuasa! Nenek juga tak tau sampai tahu berapa nenek akan hidup di dunia ini! " Ucap Lastri sambil mengelus rambut Reva.
"Setiap hati aku berdoa agar nenek selalu sehat dan panjang umur! " Sahut Reva.
"Doa nenek hanya satu. Yaitu... Bisa melihatmu menikah " Ucapnya.
"Semoga nenek bisa menyaksikan aku nikah nanti " Ucap Reva dan mempererat pelukannya.
(♥‿♥)
Rafi berulang kali untuk menghubungi nomor Reva. Namun, tak ada jawaban. Sudah puluhan kali Rafi menelfon nomor yang sama dan selalu berakhir dengan sura cantik dari operator.
Kamu lagi ngapain sih! Angkat dong! Jangan buat aku khawatir gini! Batin Rafi.
Karena telfonnya tak di angkat oleh Reva, sehingga Rafi mengirim pesan ke Reva. Tidak hanya satu atau dua pesan yang Rafi kirimkan. Ada banyak pesan yang Rafi kirim. Jika di hitung pesan itu hampir ada seratus. Dimana pesan itu kebanyakan tertulis nama Reva. Seperti, 'Va.. Reva ' atau 'Revaaaa' dan sebagian lagi pesan itu menanyakan keadaan Reva.
Kenapa masih di balas sih?! Batin Rafi.
Rafi kembali mengetik pesan . Bahkan ia mengabaikan pesan masuk di ponselnya.
Sedangkan Reva tak bisa memejamkan matanya. Ia berguling di atas tempat tidurnya, berguling ke kanan dan ke kiri. Dirinya juga kepikiran dengan Rafi.
"Kenapa gak aku cash dari tadi sih! " Gumam Reva.
Reva berulang kali melihat ponselnya yang masih di cash dan baterai nya masih terisi lima persen.
"Huh... Masih lama! " Ucap Reva dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
bersambung....
**Jangan lupa untuk like dan komen 😉👌
bagi yang belum favorit kan cerita ini harap tekan gambar love ya! agar tidak ketinggalan bab berikutnya 👌😉
jangan segan untuk memberi hadiah dan juga Vote 👌
terimakasih 🙏🤗😍😍😘**
__ADS_1