2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps.61


__ADS_3

"Ponselmu dari tadi berdering terus , sepertinya penting! Kamu angkat dulu gih!" Bu Mumun menyerahkan ponsel Reva.


"Bu Bambang!" Gumam Reva saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Saya angkat sebentar ya bu!" Reva meminta izin ke bu Mumun.


"Iya!" Sahut bu Mumun dengan anggukan kepala.


Reva sedikit menjauh, dengan tangan yang gemetar Reva mengangkat telfon dari bu Bambang.


"Halo bu!" Ucap Reva .


Mata Reva membulat sempurna, sebelah tangannya menutup mulutnya ia benar-benar kaget mendengar kabar dari Bu Bambang.


"Terimakasih bu! Saya akan segera ke sana!" Ucap Reva dan langsung menutup sambungan telfon.


Reva sedikit berlari menuju tempat di mana Rafi dan bu Mumun menunggunya.


"Bu maaf saya minta izin pulang terlebih dulu!" Ucap Reva dengan mata yang sudah basah. Tanpa menunggu persetujuan dari bu Mumun, Reva menyambar tas nya dan langsung pergi.


"Reva tunggu!" Ucap Rafi sambil mengejar Reva.


"Tunggu Va! Mau kemana? Acara belum selesai!" Kata Rafi yang berhasil menghentikan langkah Reva.


"Nenek masuk rumah sakit! Aku harus ke sana sekarang!" Ucap Reva sambil melepaskan tangan Rafi yang menempel di tangannya.


Setelah menuju parkiran, Reva langsung meninggalkan gedung itu.


Rafi khawatir saat melihat motor yang di kendarai Reva melesat dengan cepat.


Niat hati ingin menyusul Reva namun di cegah oleh Bu Mumun.


"Mau ke mana kamu Fi?" Tanya bu Mumun.


"Bu saya harus nyusul Reva ! Saya takut kalau terjadi sesuatu dengannya!" Ucap Rafi.


"Enggak bisa Fi! Sebentar lagi penyerahan penghargaan! Kalau kamu dan Reva pergi, lalu siapa yang akan menggantikannya?" Ucap Bu Mumun.


Rafi tak bisa berbuat apa-apa selain menghubungi orang suruhannya.


Sedangkan di tempat lain, Maya tengah menginterogasi orang-orang nya.


"Bagaimana sudah dapat informasi?" Tanya Maya.


"Sudah Nyonya!" Jawabnya.


"Katakan! Informasi apa yang kamu dapatkan!" Kata Maya.


"Kami sudah mendatangi sekolah itu, dan benar ada murid yang bernama Revan Karmila Putri. Tapi saat kami ke sana anak tersebut tidak ada di sekolah." Jelasnya.


"Maksudnya?" Potong Maya.

__ADS_1


"Anak tersebut sedang mengikuti lomba cerdas cermat! Pihak sekolah mengijinkan Nyonya untuk datang besok!" Ucapannya.


"Tunggu-tunggu! Lomba cerdas cermat? Bukannya Rafi juga ikut Mas?" Tanya Maya kepada sang suami.


"Coba kamu telfon Rafi!" Kata Guntur.


Dengan cepat Maya menelfon Rafi. Panggilan pertama, ke dua lolos tak terjawab. Maya terus menelfon putranya itu tanpa jeda, berharap mendapat jawaban.


"Apa acaranya belum selesai?" Gumam Maya.


"Coba telfon Roky atau Dimas!" Ujar Guntur.


Maya langsung menghubungi kedua teman Rafi. Namun, Maya tak mendapatkan jawaban yang ia mau, karena Roky dan Dimas tidak ada di lokasi lomba cerdas cermat.


"Maaf tante saya dan Dimas masih ada di sekolahan! Kami baru selesai ujian! Setelah ini kami juga akan nyusul Rafi ketempat lomba!" Ucap Roky dari sebrang telfon.


"Hemm.. Terimakasih!" Ucap Maya dan langsung menutup telfon.


"Jangan risau gitu! Kita akan temui dia besok pagi!" Ucap Guntur.


"Aku sudah tak sabar Mas untuk bertemu dengan anak itu! Pasti dia sangat mirip dengan Elis!" Ucap Maya.


"Yang sabar ya! Kita tunggu sampai besok!" Guntur memeluk istrinya dari belakang.


♡´・ᴗ・`♡


Sebagi juara satu Rafi menerima penghargaan seorang diri. Raganya ada di tempat namaun pikirannya melayang pergi .


"Oh.. Iya Bu!" Ucap Rafi dan langsung berdiri.


"Selamat ya! Silahkan sampaikan pesan dan kesan ananda!" Ucap sang juri.


"Hemm... " Rafi terlihat berpikir sejenak, ia tak tau harus mengatakan apa. Yang ada di pikirannya hanay Reva, ditambah orang suruhannya belem memberi kabar dan itu semakin membuat Rafi tak bisa berpikir.


"Silakan!" Ucap juri lagi.


Rafi menoleh ke juri yang berdiri di sampingnya, "Maaf! Saya tak tau harus bicara apa!" Ucap Rafi sambil tertunduk.


Bu Mumun yang mendengar itu pun tercengang , "ada apa dengan murid-murid ku? Reva meninggalkan gedung sebelum acara selesai! Sekarang Rafi! Dia seperti orang yang sudah kehilangan otak!" Gumam bu Mumun sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


Sang juri mengangguk, "baik! Beri tepuk tangan untuk SMA Nusa Bangsa!" Ucapannya.


Suara riyuh tepuk tangan itu mengiringi langkah Rafi yang kembali ke tempat duduk.


"Rafi!" Ucap bu Mumun saat Rafi mulai mendekat.


"Maaf bu ijinkan saya untuk pergi sekarang!" Rafi menyambar tasnya yang tergeletak di kursi.


"Tunggu sampai acara ini selesai!" Pinta bu Mumun.


"Maaf Bu saya ada urusan!" Tanpa ijin Rafi langsung meninggalkan gedung.

__ADS_1


Dengan langkah yang lebar Rafi menuju parkiran.


"Lihat itu Rafi!" Tunjuk Sisil.


"Ia benar! Tapi kenapa dia buru-buru gitu?" Ucap Dimas.


"Sayang, tunggu di sini sebentar!" Ucap Roky kepada sisil.


Roky berlari menyusul Rafi yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Ikut!" Ucap sisil.


"Fi lu mau kemana?" Roky mengetuk kaca mobil Rafi dari samping.


"Gue ada urusan penting!" Ucap Rafi saat kaca jendela itu terbuka. Setelah mengucapakan itu Rafi langsung tancap gas.


"Udah! Biarin aja dia pergi! Mending kita susul reva ke dalam!" Ucap Niar. Dan mereka pun masuk ke dalam gedung.


♡´・ᴗ・`♡


Reva memarkirkan motor nya, dengan setengah berlari Reva menuju ruang perawatan.


"Bu! Gimana keadaan nenek saya?" Tanya Reva sambil mengatur nafasnya.


"Kamu yang tenang! Duduk dulu!" Ucap Bu Bambang.


Reva pun duduk, "kenapa nenek bisa bersama dengan ibu?" Tanya Reva.


"Maafkan ibu ya nak Reva! Sebelumnya ibu enggak tau jika nenek kamu sakit jantung. Selama ini nenek kamu kerja di rumah saya!" Ucap bu Bambang.


Mata Reva membulat tatkala mendengar ucapan bu Bambang, "jadi selama ini nenek bohongin saya!" Ucap Reva lirih.


"Kenapa nenek lakukan semua ini? Apa nenek meragukan ku untuk membiayai pengobatan nenek?" Ucap Reva dengan berurai air mata.


"Reva ikut ke ruangan saya!" Ucap dokter Hasan yang baru keluar dari ruang ICU.


"Dok, gimana keadaan nenek saya?" Tanya Reva sambil menyeka matanya.


"Ikut saya sekarang!" Tatih dokter Hasan.


"Nenek mu harus segera di operasi! Jika tidak... Itu bisa berakibat fatal!" Ucap dokter Hasan saat sudah berada di ruangannya.


"Apa tidak ada cara lain dok?"tanya Reva.


Dokter Hasan menggeleng, "kamu tau penyebab nenek mu kambuh lagi? Itu karena beliau tidak pernah minum obat yang saya anjurkan!" Jelas dokter Hasan.


"Enggak mungkin dok! Saya selalu memberikan nenek obat jika obatnya habis!" Bantah Reva.


"Jika nenek mu rutin minum obat, sakitnya tidak akan separah ini! Apa kamu pernah melihat beliau minum obat?" Tanya dokter Hasan.


Reva pun menggeleng lalu tertunduk.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2