2R Rafi & Reva

2R Rafi & Reva
2R_eps64


__ADS_3

Baru berjalan 500 meter dari kantor, Jimi mengerem mobilnya secara mendadak karena ada mobil yang sengaja menghadangnya.


"Kamu mau mencelakakan saya!" Seru Maya yang duduk di kursi belakang.


"Maaf Nyonya! Ada mobil yang sengaja berhenti di depan mobil kita!"ucap Jimi.


Maya melihat ke arah depan, " Rafi!" Seru Maya.


"Apa-apa'an sih kamu Fi? Mau bikin mama celaka ya?" Ucap Maya turun dari mobil.


"Maaf Ma, ini penting! Mama harus lihat ini!" Rafi menunjukan foto dari galeri ponselnya.


Dengan sangat malas Maya melihat foto itu. Maya hanya melihat sekilas, "foto apa'an gak jelas gini! Udah minggirin itu mobil mu! Mama sudah di tunggu!" Ucap Maya.


"Ma... Coba lihat baik-baik MA! Siapa nama yang ada di batu nisan ini!" Ucap Rafi yang masih kekeh menyodorkan ponselnya.


Maya tak menghiraukan ucapan Rafi. Maya memilih untuk kembali ke mobilnya.


"Elis Wijayanti dan Boby Anggara"ucap Rafi.


Seketika Maya berhenti dan menoleh ke anak laki-laki nya itu.


"Apa mama kenal dengan nama itu?" Tanya Rafi.


"Dari mana kamu mendapatkan foto itu?" Maya merebut ponsel Rafi. Ia ingin memastikan sendiri. Tangannya bergerak untuk mengezooom foto batu nisan itu.


Buliran bening jatuh dari mata indah ibu muda itu. Tangannya pun ikut bergetar.


"Katakan dari mana kamu mendapatkan foto ini?" Tanya Maya.


"Itu... Orang tua Reva MA!" Ucap Rafi.


"Reva?" Ulang Maya.


"Iya Ma! Reva! Gadis yang pernah datang ke rumah sakit waktu itu!" Jelas Rafi.


Ingatan Maya langsung berputar pada kejadian beberapa minggu yang lalu. Dirinya ingat betul jika dirinya tak suka dengan gadis berkacamata tebal itu. Maya semakin merasa bersalah saat ingat akan kata-katanya kepada Reva.

__ADS_1


"Ma!" Rafi menepuk pelan bahu mamanya.


"Antarkan mama untuk menemui Reva!" Ucap Maya.


"Maaf Nyonya! Kita sudah terlambat!" Ucap Jimi.


"Gini aja, mama pergi meeting dulu! Nanti setelah meeting mama nyusul aja ke rumah sakit aminah! Aku baru dapat kabar jika Reva ada di sana!" Ucap Rafi.


Maya mengangguk, "kita pergi sekarang Jim!" Tatih Maya.


"Kirimkan foto itu ke nomor mama!" Ucap Maya kepada Rafi. Setelah mengucapakan itu Maya langsung masuk ke dalam mobil.


Sebagi asisten pribadi Tuan Guntur, Jimi tau apa yang harus ia lakukan. Tanpa menunggu perintah dari atasannya, ia langsung tancap gas agar sampai ke tempat meeting.


Setelah mamanya pergi. Rafi juga ikut meninggalkan tempat itu, dan segera menuju rumah sakit.


Di dalam mobil Maya tak bosannya melihat foto batu nisan itu. Rasa rindu terhadap sahabatnya harus dibayar dengan air mata kesedihan. Surat yang ia baca benar adanya, jika Elis dan Boby sudah tutup usia.


Maya ingat betul bagaimana pengorbanan Elis kepadanya. Elis memilih keluar dari keluarganya karena menolak perjodohan dari keluarga guntur.


#flashback


"Tidak May! Kamu berhak hidup bahagia dengan Guntur!" Ucap Elis.


"Tur!" Elis menyatukan tangan Guntur dengan tangan Maya, "tolong jaga hubungan kalian! Jaga Maya , sayangi dia sepenuh hati mu! Kamu sangat mencintai Maya buka?" Guntur pun mengangguk. "Perjuangkan cinta kalian!" Lanjut Elis.


"Lalu gimana dengan kamu Lis?" Tanya Guntur.


"Jangan pikirkan diriku! Aku sudah punya rencana! Aku hanya ingin melihat kalian hidup bahagia dan kita tetap menjadi sahabat." Jelas Elis.


"Rencana apa? Beri tahu kami agar kita bisa membatu!" Ucap Maya.


"Iya, betul apa kata Maya!" Imbuh Guntur.


Elis menggeleng, "aku tak ingin melibatkan kalian!" Ucap Elis.


Setelah menemui Maya dan Guntur, Elis langsung menemui Boby. Dimana Boby dulu pernah menyatakan cinta kepada Elis. Namun, Elis terang-terangan menolaknya. Buka tanpa sebab Elis menolak cinta Boby, Elis tak mau jika bunganya dengan Boby menjadi rumit, karena Boby anak dari musuh sekaligus saingan dari orang tuanya.

__ADS_1


"Apa aku mengganggu mu?" Ucap Elis yang mengejutkan Boby.


"Mau apa kesini?" Tanya Boby yang dingin.


"Boleh aku duduk?" Ucap Elis dengan senyuman yang tak pudar dari bibir mungilnya, dan itu membuat hati Boby luluh.


"Duduklah!" Kata Boby.


Karena tak ingin mengulur waktu. Elis langsung mengutarakan maksud dan tujuannya.


"Apa pertanyaan mu waktu itu masih berlaku?" Tanya Elis.


"Aku sudah melupakan hal itu! Jika kesini hanya ingin tanya hal itu, silahkan pergi dari sini!" Ucap Boby dan langsung meninggalkan Elis.


"Bob... Boby!" Seru Elis yang mengikuti kemana Boby pergi.


Boby masuk ke dalam ruang kerjanya. Di usia muda Boby sudah mengelola beberapa resto dan cafe milik orang tuanya.


"Apa kamu lupa? Jika di depan banyak orang kamu telah terang-terangan menolak ku? Lalu apa maksud mu datang kesini dan menanyakan masalah itu lagi?" Hardik Boby.


"Bob... Aku mohon jangan marah!" Elis menggapai tangan Boby. Namun, dengan cepat Boby menepisnya.


"Pergi dari sini , sebelum aku benar-benar marah!" Ucap Boby.


Merasa di usir, Elis pun berlutut di kaki Boby, "Boby, tolong aku! Hanya kamu yang bisa menolong ku! Aku mohon!" Ucap Elis yang di sertai air mata.


Terdiam sejenak. Boby tak tega melihat Elis menangis dan memohon, dirinya pun berjongkok dan memegang bahu Elis yang bergetar.


"Ada masalah apa? Katakan!" Ucap Boby dengan lembut.


Elis langsung menceritakan semua maslah yang ia hadapi. Sejauh ini Boby masih paham dan mengerti. Namun, di akhir cerita Boby tak habis pikir dengan permintaan konyol Elis.


"Kamu sudah gila Lis? Aku memang mencintaimu! Tapi tidak dengan cara itu juga!" Ucap Boby yang sudah berdiri.


"Aku mohon Bob!" Ucap Elis yang masih bersimpuh di kaki Boby.


bersambung.....

__ADS_1


PENASARAN GAK SAMA PERMINTAAN ELIS?


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN YA😉


__ADS_2