
"Lihat tuh bodynya, uuhh ...." Seorang pria meliukkan tangannya menirukan bentuk tubuh Airin.
"Ah, ngelihat dari sini aja udah ngebuat gue ngebayangin enaknya nyicipin dia," imbuh teman pria tersebut dengan jakun naik turun, otaknya sudah dipenuhi pikiran kotor tentang tentang Airin.
Di meja ini ada 4-orang pekerja proyek yang tengah bersantap siang. Mereka terus menatap Airin penuh minat, bahkan tak segan melancarkan rayuan saat Airin mengantarkan pesanan tadi.
"Kira-kira dia bispak nggak, ya?"
"Kalau itu udah jelas, Bro. Namanya cewek dagang di proyek, pasti cuma modus."
"Iya, juga sih, percaya gue. Hahaha ...."
"Nggak ada yang salah sih, tetap dagang juga namanya. Tapi dagang daging mentah, hahaha ...!" ujar pria bekepala botak sambil terkekeh penuh maksud.
"Kalau gitu ntar malam gue mau boking dia semalaman!" tukas pria berwajah brewokan.
"Ah, gila lo ... gue yang pertama lihat, lo yang mau make duluan," protes pria bertubuh kurus.
"Ini tentang siapa yang punya duit, Bro. Emangnya lo punya duit buat boking tuh cewek, nggak takut bini lo datang ke sini terus ngamuk-ngamuk, karena lo pulang nggak bawa duit?" Pria brewok menggeplak kepala temannya yang bertubuh kurus.
"Ck, curang lo sial!" balas pria bertubuh kurus.
"Terserah lo mau ngomong apa! Yang penting malam ini gue harus nikmatin tubuh it- ...." Belum sempat pria berewok menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ....
Braakk!!
Tangan kekar Alexi menggebrak meja mereka dengan keras. Membuat keempat pria yang sedang membicarakan hal kotor tentang Airin terlonjak kaget!
Alexi menatap keempat pria itu dengan sorot mata membunuhnya. "Tutup mulut sampah kalian, sebelum aku membuat kalian semua tidak bisa bicara lagi!"
"Emangnya kamu siapa mau ikut campur urusan kita?" tantang pria brewok.
"Kamu mau boking dia juga? Tunggu giliran!" imbuh pria botak.
"Sekali lagi kalian bicara merendahkannya, aku akan membuat kalian menyesal!" ancam Alexi mengacungkan tangan ke wajah pria berotak kotor tersebut.
Tidak terima dengan ancaman Alexi, keempat pria itu berdiri serentak, bersiap untuk mengeroyok.
__ADS_1
Untung saja Airin terlebih dulu datang sebelum perkelahian itu sempat terjadi.
"Apa-apaan kalian? Ini warung makan, kalau mau buat keributan jangan di sini!" geram Airin.
"Masalah kita belum selesai!" ancam pria brewok pada Alexi.
Dia meletakkan uang di atas meja untuk pembayar hidangan, kemudian mengajak ketiga temannya pergi dari sana.
Sedangkan Alexi hanya mendengkus tidak peduli, dia kembali ke majanya untuk melanjutkan santap siang yang belum selesai.
Tanpa terasa semua pengungung warung Airin sudah kembali bekerja. Sedangkan Alexi masih berada di sana, seolah enggan beranjak dari mejanya.
"Mas Alvin," tegur Airin.
"Ehmm."
"Aku harap setelah ini kamu bisa menjaga sikap! Aku tidak tahu beban apa yang sedang kamu pikul. Ya ... mungkin saja kamu sedang menjalani hari yang berat. Tapi yang jelas, aku tidak mau lagi melihat kegilaan kamu yang seperti tadi!" ujar Airin.
"Gila?" Alexi mengangkat wajahnya.
"Iya, tiba-tiba menyerang meja orang lain tanpa alasan yang jelas. Apa namanya kalau bukan gila?"
Airin melangkah mundur saat Alexi terus memangkas jarak di antara mereka.
"Ma-mau apa kamu?" Airin memberanikan diri membalas tatapan tajam Alexi.
Airin berusaha mengusai diri, jantungnya berdebar tidak karuan saat mata mereka saling mengunci. Tapi Airin tidak ingin kalah dengan sorot mata Alexi yang begitu mendominasi.
Saat ini Airin sudah tidak memiliki ruang gerak, di belakangnya sudah ada dinding yang menghalangi. Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah mengangkat wajah, mengumpulkan segenap keberanian untuk menantang Alexi.
Alexi menarik tipis sudut bibirnya, lalu kedua tangan kekar itu terulur untuk mengurung Airin.
"Aku ... kamu bilang gila? Kenapa kamu tidak bertanya alasanku melakukan hal tadi? Tahukah kamu apa yang dibicarakan para pria bejiwa binatang tadi tentangmu?" cecar Alexi masih dengan tatapannya yang sulit diartikan.
Karena Airin tidak menjawab, Alexi kembali menambahkan, "Ini, Apa maksudnya semua ini?"
Alexi menunjuk kulit mulus bahu Airin yang terekspos bebas dengan isyarat dagu. Saat ini Airin hanya mengenakan dress selutut dengan bagian bahu yang agak terbuka.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan!" desis Airin.
Alexi tertawa hambar. "Jangan pura-pura bodoh, Airin! Sebelumnya kamu tidak pernah berpakaian seperti ini. Jangan-jangan apa yang dikatakan pria brengsek tadi itu benar, kamu sengaja mengubah penampilan agar mereka berminat untuk membelimu. Kamu memang ingin menjual diri, benar begitu Airin?"
Mata Airin memanas, manik bewarna hitam itu menatap Alexi berkaca-kaca. Napasnya sesak mendengar tuduhan kejam dari Alexi.
Apa yang membuat semesta ini seolah menolak keberadaannya? Apa pun yang dia lakukan tidak pernah benar, ini salah, itu salah, semuanya salah. Benarkah kehidupan yang malang ini adalah pintanya sendiri saat masih dalam kandungan?
Apa hak juga orang-orang itu menghakimi dirinya? Tanpa tahu sepahit apa kehidupan yang ia jalani!
Airin menggelengkan kepala, lalu menepis tangan Alexi yang mengurungnya. "Jaga mulut kamu, Mas! Kamu di sini hanya pengunjung warung, jadi bersikaplah seperti pengunjung pada umumnya. Jangan mencampuri urusanku!"
"Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, Mas. Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan. Selama berbulan-bulan warungku sepi tidak ada pengunjung, setiap hari aku selalu rugi, aku bahkan tidak memiliki uang untuk bertahan hidup, aku bahkan terancam mati kelaparan, apa kau tahu itu? Tidak, kan?" raung Airin menambahkan.
"Oh begitu? Jadi kamu butuh uang, lalu ingin menjual diri seperti yang dikatakan pria tadi? Baiklah, jika benar seperti itu aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi," ujar Alexi dengan nada sinis.
"Ya sudah, sana urus hidupmu sendiri!" seru Airin dengan suara serak.
Alexi menghela napas, mencoba meredakan amarah yang ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. "Maaf ... ya, kau memang benar. Aku pengunjung warung, aku tidak berhak mencampuri kehidupanmu."
Setelah berkata seperti itu Alexi beranjak meninggalkan warung Airin.
Ekor mata Airin memandangi punggung Alexi sampai pria itu menghilang, tubuhnya yang sejak tadi gemetar merosot lemah sampai terduduk di lantai kotor.
Airin menggeleng, baru beberapa jam ia menikmati semangat kehidupan, menemukan secercah kebahagiaan saat warungnya dikunjungi banyak pelanggan. Tapi hanya sebentar, karena hal tidak mengenakkan kembali merundungnya.
Bahkan dia direndahkan oleh pria yang selama ini menjadi satu-satu pelanggan di warungnya. Pria itu adalah Alexi yang kini sedang menendang sebuah botol kosong.
"Arrgghh ...."
Perdebatannya dengan Airin tadi membuat pikirannya menjadi kacau. Dia tidak percaya Airin mau melakukan perbuatan hina, tapi dia kesal karena Airin tidak membantah tuduhan itu.
"Ya, aku tidak boleh memikirkannya. Terserah dia mau melakukan apa saja, aku tidak peduli!" erang Alexi sambil mengusap kasar rambutnya.
"Tidak peduli, ya aku tidak boleh peduli, itu hidupnya, bukan hidup. Ah, sial ... kenapa aku tidak bisa berhenti memikirnya?" Alexi bermonolog sendiri di tengah pergulatan batin yang ia rasakan. "Gila, aku pasti sudah gila!"
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya, ya.
Terimakasih.