Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Tidak Selevel


__ADS_3

Untuk sesaat Galang masih memikirkan semua yang dikatakan Frita. Dia pernah satu kali melakukan kesalahan dengan membuang Airin, dan kini ia tidak ingin hal yang sama terulang dua kali.


Saat ini Galang berpikir ada benarnya yang dikatan Frita tadi. Lebih baik baginya menunggu sampai anak itu lahir, lalu melakukan tes DNA untuk mendapatkan bukti yang lebih valid.


Galang lantas beranjak dari tempat duduknya, ia mengejar Frita yang baru beberapa langkah meninggalkan kamar.


"Frita, tunggu!" panggil Galang, lalu menghalangi jalan Frita, "Mas minta maaf, mas mengaku salah. Tidak seharusnya mas menuduh kamu yang bukan-bukan."


Mendengar itu membuat Frita langsung bersorak dalam hati, seperti yang ia prediksi sebelumnya, Galang memang bisa ia kelabuhi dengan mudah.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku selalu maafin kamu kok. Bagaimana mungkin aku bisa membenci ayah dari anak aku," lirih Frita seraya memeluk suaminya tersebut.


Galang membalas pelukan tersebut meski tidak sehangat sebelumnya. Saat ini kandungan Frita sudah menginjak bulan ke enam, dan itu artinya dia hanya perlu bersabar sekitar tiga bulan lagi.


Ketika nanti anak itu lahir, Galang berniat melakukan tes DNA secara diam-diam, karena hatinya memang tidak yakin anak yang dikandung Frita itu adalah darah dagingnya.


'Jika nanti itu bukan anakku, maka aku pastikan kau akan membayar mahal atas sandiwaramu ini,' gumam Galang dalam hati.


Setelah meminta ART di rumahnya untuk memasukkan kembali barang milik Frita dan mama Reni. Galang pun berangkat menuju proyek.


Akhirnya mama Reni dan Frita bisa bernapas lega, karena mereka tidak jadi diusir. Kini ibu dan anak itu tengah berada di dalam kamar mama Reni.


"Hampir saja," desah mama Reni seraya menghempas tubuhnya di ranjang.


Tak jauh dari mama Reni berada, Frita masih terdiam, saat ini dia sedang berpikir keras.


"Ini karena kamu keras kepala, Frita ... tidak mau mendengar omongan mama, jadinya kita hampir diusir sama Galang. Untuk sekarang ini kamu jangan bertemu Radit dulu, nanti malah makin runyam semuanya," gerutu mama Reni.


"Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan Radit, Ma," sanggah Frita, lalu menjelaskan, "Mas Galang itu mau ngusir kita karena curiga anak yang aku kandung ini bukan darah dagingnya."


Mama Reni menyipitkan matanya. "Tidak mungkin seseorang akan curiga begitu saja, jika tidak sebab."


"Nah, itu yang sekarang aku pikirkan. Apa yang membuat Mas Galang tiba-tiba memeriksa kondisi kesuburannya ke dokter."

__ADS_1


"Maksud kamu Galang sekarang sudah tahu bahwa dia mandul?"


Frita mengangguk. "Iya, makanya dia langsung curiga ini bukan anaknya, dan mau ngusir kita."


"Terus, tadi itu gimana cara kamu meyakinkan dia?"


"Aku bilang, jika dia nggak percaya ini anaknya, dia bisa melakukan DNA saat anak ini lahir nanti."


Mendengar jawaban Frita, membuat mama Reni yang tadinya sudah tenang, kembali menjadi khawatir.


Ini gawat, mereka pasti benar-benar akan diusir setelah Galang mengetahui kebenaran tentang anak itu nanti.


"Bagaimana kalau nanti Galang benar-benar akan melakukan tes DNA pada anak itu? Kita tetap akan diusir, dan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari galang."


Tidak seperti mama Reni yang merasa cemas, Frita sama sekali tidak khawatir. Dia sudah memikirkan semuanya sebelum menantang Galang melakukan tes DNA tadi.


"Mama, tenang aja. Jika nanti mas Galang ingin melakukan tes DNA, kita tukar saja sampelnya dengan punya Galang sendiri, kan gampang," sahut Frita sembari menampakkan senyum liciknya.


***


Sarah pergi ke kantin setelah mengikuti mata kuliah pertamanya, dia tengah asik menikmati makanannya, ketika Adelio tiba-tiba duduk di sampingnya tanpa permisi.


Melihat pria yang tidak berhenti mengintilinya itu datang, sebuah decakan pun lolos dari mulut Sarah.


"Ngapain sih kamu harus duduk di sini, tempat lain masih banyak tuh!" seru Sarah sambil menunjuk beberapa meja yang masih kosong.


"Aku hanya ingin duduk di tempat di mana aku merasa nyaman, dalam hal ini di sampingmu," sahut Adelio santai sembari mengedipkan sebelah matanya.


Sarah mencebik, tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Entah yang dikatakan Adelio itu benar atau hanya sebatas bualan, tetap saja itu terlalu nyeleneh bagi indra pendengarannya.


"Aku salah apa sih sama kamu? Dijutekin terus!" ujar Adelio mengeluh.


Sarah memutar bola matanya. "Salahnya, aku itu nggak suka kamu ganggu. Masih banyak tuh cewek lain yang bisa kamu deketin di sini, yang sama-sama berasal dari keluarga kaya seperti kamu."

__ADS_1


Adelio mengkerutkan dahi, meskipun selama ini dia sering menjahili Sarah, tapi dia sama sekali tidak pernah menyinggung status sosial gadis tersebut.


"Kenapa malah bawa-bawa status?"


"Ya jelas lah ... aku nggak mau dicap matre. Orang-orang pasti ngira aku ngedeketin kamu karena ada maunya," ketus Sarah.


"Ada maunya juga nggak masalah kok," balas Adelio.


Sarah tidak mau peduli dengan perkataan Adelio, saat ini dia hanya ingin buru-buru menghabiskan hidangannya, lalu secepatnya pergi dari kantin ini.


"Ngapain kamu duduk di sini sama Leo? Sana pergi!"


Sarah mengangkat kepalanya, saat ini di hadapannya sudah berdiri tiga orang gadis dengan tampilan khas anak orang kaya yang merupakan senior di kampusnya.


Mereka bertiga menatap Sarah dengan pandangan tidak suka.


"Tau nih, nggak sadar diri banget. Ingat, kamu itu sama Leo beda kelas!"


"Kamu itu orang miskin, nggak pantas deketin Leo."


Mendengar ketiga gadis itu menghina Sarah, Adelio pun berdiri untuk membelanya.


"Angel, kamu ini apa-apaan sih? Dasar kurang kerjaaan, mending bawa semua teman kamu pergi dari sini, jangan gangguin Sarah!" usir Adelio.


"Lho, aku ngomong benar kok. Dia ini emang nggak selevel sama kita. Kenapa juga kamu ngizinin dia duduk di dekat kamu!"


Adelio menggelengkan kepala.


"Bukan dia yang duduk di dekat aku, tapi aku aku yang duduk di dekat dia!" bantah Adelio tegas.


Tidak peduli Adelio membelanya, Sarah tetap tidak ingin terlibat, dia segera beranjak dari tempat duduknya. Bagi Sarah, menghindar dari circle pergaulan orang-orang kaya itu adalah sebuah keharusan.


Dia sadar dirinya memang miskin, tapi dia tidak serendah itu ingin mendekati Adelio atas dasar kekayaan seperti yang dituduhkan para gadis tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


Ikuti terus kelanjutannya ya, terimakasih.


__ADS_2