
Keesokan harinya Frita dan Mama Reni berangkat menuju apartemen Raditya. Ibu dan anak itu terpaksa menggunakan ojek online, karena tidak memiliki cukup uang lagi untuk membayar ongkos taksi.
Setelah satu jam menempuh macet, dan di bawah teriknya panas matahari, mereka pun tiba di depan unit apartemen Radit.
Frita melepaskan tangan dari gagang tas besarnya, lalu dengan tidak sabar menekan bell apartemen tersebut.
Setelah beberapa saat menunggu, daun pintu itu pun mengayun tersebut, dan menampilkan seorang wanita berpakaian tidur dengan bahan yang sangat tipis.
Bolot mata Frita melotot dibuatnya, darahnya mendidih dan emosinya memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Perempuan sundel! Apa yang kau lakukan di apartemen kekasihku!" raung Frita, sejurus itu juga dia menjambak rambut wanita tersebut.
Wanita itu menyangka akan diserang mendadak, dia tidak siap dan akhirnya tersungkur dengan lutut yang terlebih dulu mencium lantai.
"Aduh, sakit ... dasar gila! Mengapa kau menyerangku?" wanita itu menjerit kesakitan.
Frita tidak peduli lawannya sudah terduduk, dia ingin menyerang lagi, kali ini hendak menendang wanita tersebut.
Namun, belum sempat kaki Frita mengenai lawannya. Dari dalam apartemen tiba-tiba muncul sosok pria berkepala plontos, dan memiliki kumis tebal, yang langsung mendorong Frita hingga terjungkal.
"Sayang, ada apa ini?" tanya Pria itu seraya membantu wanita yang diserang Frita untuk berdiri.
"Entah, wanita itu pasti sudah gila! Tiba-tiba saja dia menyerangku!" adu wanita seksi itu sembari menunjuk Frita.
Dahi pria berkepala plontos itu berkerut menatap Frita, dia menghunus tatapan tajam.
Frita mendongakkan kepala, selain takut karena tatapan pria berwajah sangar di depannya, dia bingung kenapa orang-orang ini bisa ada di apartemen Radit, mama Reni juga tak kalah bingung.
"Apa kau memiliki masalah dengan kekasihku?" tanya pria itu dingin.
Frita menggeleng. "Maaf aku salah sangka, aku pikir dia selingkuh dengan kekasihku di apartemen ini. Mengapa kalian bisa berada di unitku?"
"Unitmu? Lelucon macam apa yang kau katakan?"
"Ini memang unitku, aku yang membelinya untuk kekasihku!" sahut Frita.
__ADS_1
"Apa kekasihmu itu adalah Raditya?"
"Iya, itu kau mengenalnya. Kau sudah menumpang mesum di sini, tapi malah berbuat kasar pada pemilik aslinya. Sekarang cepat minggir, aku ingin masuk! Cepat kemasi barang-barang kalian dan segera pergi dari sini!" geram Frita, dia berdiri dan hendak menerobos ke dalam.
Pria yang berdiri di depan pintu itu menahan langkah Frita. "Kau tidak boleh masuk, unit ini bukan lagi milik Radit, tapi milikku!"
"Konyol! Kau jangan mengaku-aku!" bentak Frita.
"Wanita gila, sepertinya otakmu benar-benar konslet. Aku sudah membeli unit ini, apa perlu aku perlihatkan surat-suratnya?"
"Dasar tidak tahu malu! Kalau ingin membuat lelucon itu coba gunakan otakmu, agar sedikit lebih masuk akal. Kemarin saja aku dan Radit masih di sini, jadi mana mungkin apartemen ini sudah berganti pemilik. Apa kau pikir membeli apartemen sama mudahnya dengan membeli cabai di pasar? Bisa selesai dalam beberapa menit? Hahaha ... dasar konyol!" ejek Frita.
"Sayang, sepertinya wanita gila ini terlalu keras kepala. Pergi ambil surat-suratnya, agar wanita gila ini bisa percaya," pinta pria itu pada kekasihnya.
"Tunggu sebentar." Si wanita melangkah ke dalam.
Pria berkepala plontos kembali beralih pada Frita. "Asal kau tahu wanita gila, unit ini sudah aku beli satu minggu yang lalu. Dan aku masih membiarkan Radit tinggal di sini untuk sementara, sampai urusan surat jual belinya selesai."
"Tidak, itu tidak mungkin! Kau pasti berbohong!" Frita menggeleng tidak percaya.
"Kau akan melihat buktinya sebentar lagi." Pria itu tersenyum sinis.
"Kau bisa lihat sendiri, bukan? Selain surat kepemilikan yang sudah berganti nama, di situ juga ada akta jual-beli antara aku dan Radit."
Frita langsung lemas setelah mengetahui Radit benar-benar telah menjual unitnya. Begitu juga dengan mama Reni, wanita tua itu merosot hingga terduduk lesu di lantai.
"Sekarang cepat angkat kaki dari sini. Kesabaranku tidak banyak untuk menghadapi wanita gila sepertimu!" usir pria botak.
"Sayang, jangan langsung dilepaskan. Wanita gila ini sudah menyerangku, kepalaku sakit dan lututku sampai tergores. Kita harus meminta ganti rugi," rengek si wanita.
Pria botak mengangguk, dia menghunus tatapan dingin pada Frita. "Berikan dulu ganti rugi, atau kita selesaikan masalah ini di kantor polisi."
Frita tahu dirinya berada pada posisi salah dan terpojok. Kini tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat. "Ta-tapi kami tidak memiliki uang."
"Jangan bohong!" bentak si pria botak, lalu beralih pada kekasihnya, "Sayang, geledah saja tas mereka!"
__ADS_1
Tanpa basa-basi wanita tersebut langsung menggeledah tas Frita dan mama Reni untuk mencari barang berharga.
Seisi dua tas besar diacak-acak, Frita dan mama Reni tidak mencegah. Karena selain tahu tas mereka hanya berisi pakaian, Frita juga sengaja membiarkannya.
Dia berharap kedua orang ini akan merasa puas, setelah mengetahui ia dan mama Reni tidak punya apa-apa, dan tidak jadi membawa masalah ini ke kantor polisi.
"Serahkan tas kecilmu itu!" seru si wanita kesal, dia telah mengeluarkan seluruh isi tas besar tersebut, tapi tidak menemukan barang berharga ataupun uang.
"Kau mau apa?" Frita mencoba mencegah.
Wanita itu tidak peduli, dia menarik paksa tas di bahu Frita. Sayangnya dia tidak mendapat uang ataupun barang berharga.
Isi tas Frita adalah dompet yang hanya berisi KTP, dan peralatan makeup. Namun ada satu barang yang membuat wanita tersebut tersenyum lebar, dia menemukan sebuah ponsel keluaran Amerika, berlogo buah-buahan bekas digigit orang, yang harga barunya berada di atas 20-juta Rupiah.
"Dasar miskin! Tidak punya uang, tidak punya perhiasan. Tapi sudahlah, sepertinya ponsel ini cukup untuk ganti rugi. Sekarang cepat beri tahu aku sandinya!"
"Apa-apan ini? Kau mau merampok ya?" Frita tidak terima, dia menyambar ponsel tersebut dari tangan lawannya.
Mana mungkin Frita mau menyerahkan ponsel itu, hanya itu barang berharga yang ia miliki satu-satunya.
Lawan Frita tidak menghindar ketika ponsel itu direbut kembali, tapi dia menatap penuh ancaman.
"Ya sudah, tidak apa-apa kau tidak mau menyerahkan ponsel itu, aku juga masih mampu membeli sendiri. Tapi ini berarti kau ingin masalah ini diselesaikan di kantor pihak berwajib."
Mendengar ancaman itu membuat Frita semakin gemetaran, dia juga tidak mau dibawa ke kantor polisi atas kasus penganiayaan.
"Sayang, sepertinya mereka memang keras kepala. Cepat telpon security di bawah, suruh menyeret dua wanita ini ke kantor polisi," ujar pria botak.
Kekasihnya pun mengangguk, hendak masuk ke dalam apartemen.
"Jangan, aku mohon jangan telpon security, jangan bawa anakku ke kantor polisi." Mama Reni mengiba seraya beringsut mendekati anaknya. "Frita, cepat serahkan ponselmu. Kau tidak mau membusuk di penjara, kan?"
Frita pun semakin lesu, mengapa dalam 24-jam ini dia begitu sial? Lalu siapa yang harus disalahkan? Apakah nasib?
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya.
Terimaksih, salam hangat.