Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Jembatan Desah


__ADS_3

Venesia diklaim sebagai salah satu kota paling romantis di dunia, yang sudah sejak lama menjadi destinasi favorit, bagi orang-orang yang ingin berbulan madu berdua dengan pasangan.


Berdua? Iya berdua, mengelilingi kota Venesia yang indah sembari memadu kasih.


Sayang harapan itu tidak bisa Alexi realisasikan, karena waktu Airin lebih banyak didominasi oleh keluarganya.


Bukan seperti suami, Alexi malah terlihat seperti bodyguard yang mengawal ke mana pun Airin dan si kembar jalan-jalan.


Tentu saja hal ini membuat Alexi kesal, dan sialnya ia tidak bisa protes, karena Airin sama sekali tidak keberatan.


"Abang setiap hari, setiap jam, setiap detik, selalu bareng-bareng sama Kak Airin, masa kita mau pinjam buat diajak jalan, itu pun cuma siang doang nggak boleh, pelit banget!" Itulah kata Adiba saat Alexi melarang adiknya itu membawa Airin jalan-jalan.


Ujung-ujungnya dalam posisi tiga lawan satu, tetap saja Alexi yang kalah berdebat. Jadi daripada dia berdiam di hotel, lebih baik dia ikut saja bersama istri dan adiknya.


Acara bulan madu yang diharapkan penuh dengan berbagai adegan romantis itu, benar-benar berubah menjadi liburan keluarga.


Setelah beberapa hari yang menyebalkan, akhirnya hari keberuntungan itu pun tiba. Hari ini Diba dan Dila kompak tidak ingin ke mana-mana, sepertinya mereka berdua sudah bosan.


Alexi dan Airin kini sedang berada di area pertokoan dekat Rialto Bridge. Mereka membeli pernak-pernik kerajinan tangan masyarakat lokal, untuk dijadikan oleh-oleh saat pulang ke Indonesia nanti.


Tanpa terasa hari mulai beranjak petang. Alexi membawa istrinya berbaur dengan wisatawan yang sudah memadati Rialto Bridge.


Tujuan mereka sama, yaitu menikmati sunset dari atas jembatan yang paling ikonik di kota Venesia itu.

__ADS_1


"Kemarin waktu sama si kembar, aku jalan-jalan ke sini, sekarang sama kamu ke sini lagi. Apa di Venesia ini nggak ada destinasi yang lebih menarik selain Rialto Brigde ini, Mas?" tanya Airin.


"Sebenarnya ada satu lagi, Ponte Dei Sospiri." Alexi menyebut jembatan batu kapur yang melintang di atas Rio Del Palazzo. "Yang juga sering disebut sebagai jembatan desah. Konon, ahhkk ...."


Alexi yang baru ingin melanjutkan penjelasannya tiba-tiba memekik kesakitan, karena kakinya diinjak oleh sang istri.


"Mas, bisa nggak sih, jangan dikit-dikit ngomongin mesum, lagi di tempat umum juga," suntuk Airin.


Alexi meringis menahan sakit. "Sayang, mengapa sejak hamil kamu jadi bar-bar seperti ini, padahal aku mengatakan yang sebenarnya."


"Oh, jadi tadi itu kamu nggak lagi ngomong jorok?"


"Tidak, Sayang."


"Masih, sedikit, sebelah lagi dong, biar sakitnya benar-benar hilang." Alexi menunjuk pipinya sebelah kanan, meminta lebih.


Airin memberengutkan wajah, meski tak urung menuruti keinginan Alexi. "Cup, udah ... lanjutin dong penjelasannya."


"Begini, dulunya jembatan itu menjadi penghubung antara penjara Prigioni Nuove, dengan ruang interogasi di istana Doge. Jadi para narapidana akan melewati jembatan itu saat mereka dibawa ke sel tahanan. Indahnya panorama yang dilihat dari atas jembatan membuat mereka mendesah berat, karena mungkin itu adalah kali terakhir mereka bisa menikmati indahnya dunia bebas."


"Oh, begitu." Airin manggut-manggut.


"Bukan cuma itu, disebut jembatan desah juga karena jembatan itu menjadi tempat populer bagi pasangan yang ingin berciuman," tambah Alexi.

__ADS_1


"Tuh, Kan."


Alexi menjauhkan kakinya, berjaga-jaga agar tidak diinjak dua kali.


"Serius, Sayang ... menurut mitos yang dipercaya masyarakat Venesia, pasangan yang mengarungi kanal dengan gondala, lalu berciuman di bawah jembatan desah tepat ketika lonceng St. Mark Campanile berdentang, maka cintanya akan abadi dan diberkahi."


"Bagaimana, Sayang ... apa kamu ingin kita mencobanya besok?"


Airin menggeleng. "Nggak deh, Mas. Aku nggak percaya mitos, lagian tanpa berciuman di bawah jembatan itu, aku pasti akan memperjuangkan rumah tangga kita agar abadi."


"Aku pun begitu, Sayang." Alexi merangkul Airin, kali ini dia yang memberi kecupan di pipi istrinya, "Tapi tidak ada salahnya besok kita mencoba, tanpa memikirkan mitos itu. Lagi pula kamu ingin kita jalan-jalan naik gondala, ya kan?"


Airin mengangguk. "Terserah kamu, Mas. Aku ikut aja."


Perlahan matahari makin tenggelam ke peraduannya. Alexi merangkul pinggang Airin dengan mesra, sembari mereka menikmati indahnya panorama langit sore, yang berganti dengan remangnya malam.


Cahaya lampu-lampu yang memantul dari Grand Canal, semakin menambah indah pemandangan dari atas Rialto Bridge.


Tak lama setelah itu mereka pun memutuskan untuk kembali ke hotel.


Alexi terus berdoa dalam hati, semoga saja besok si kembar tidak mengintili, agar ia bisa merasakan indahnya memadu kasih di bawah Ponte Dei Sospiri.


Bersambung.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi like dan komentar ya.


__ADS_2