
Sepanjang perjalanan kembali ke rumahnya, Airin terus memberengutkan wajah. Dia tidak senang dengan penghinaan yang dilontarkan Siska pada Alexi tadi.
Bahkan sampai tiba di rumah perasaan kesal itu belum juga hilang. Ingin rasanya dia menjambak gadis itu, agar jera menghina suaminya.
"Kenapa wajah cemberut gitu?" tanya Alexi, dia heran melihat Airin yang memakan cup cake dengan segan doyan. "Kamu masih marah sama gadis tadi?"
Airin menggangukkan kepala. "Aku kesal aja, Mas. Kalau dengar ada orang yang ngerendahin kamu."
"Sudah, jangan dipikirin. Lagi pula benar kok, aku ini memang cuma mandor," sahut Alexi.
Airin menghela napas berat, lalu menatap suaminya itu lekat-lekat. "Iya, aku tahu. Meski begitu aku bersukur punya suami seperti kamu. Bahkan aku yang merasa insecure, Mas. Kamu masih bujangan, ganteng, kok mau sama aku yang janda ini?"
Tatapan Airin yang serius dan menelisik, membuat Alexi terkekeh. Hal ini membuat Airin melotot kesal, lantas memukul dada suaminya itu.
"Kok kamu malah ngetawain aku sih, Mas?" sungut Airin kesal.
"Bukan apa-apa, aku senang dipuji sama kamu," sahut Alexi.
"Karena kamu emang ganteng-gantengnya aku!" Airin mengedipkan mata lalu memeluk suaminya.
Alexi membalas dekapan istrinya. Sikap manja Airin inilah, yang membuat Alexi betah berlama-lama memeluknya.
"Aku tahu aku ini janda, Mas. Mungkin bagi orang-orang, aku ini nggak pantas buat kamu. Aku juga nggak tahu, mungkin suatu saat nanti kamu akan bosan sama aku. Tapi yang jelas, aku akan berusaha mempertahankan kamu, menjaga kamu untuk tetap disisi aku. Selama dan sekuat yang aku bisa," lirih Airin dalam dekapan suaminya.
Alexi mengusap punggung Airin lembut dan penuh perasaan. "Aku juga akan berusaha untuk menjaga kamu, Airin. Aku mulai berpikir untuk mempertahan rumah tangga kita, dan meresmikan pernikahan ini secara hukum Negara."
Bukan tanpa alasan mengatakan itu, dia mulai merasa nyaman, dan sadar Airin adalah wanita yang baik. Selain itu, dia juga merasakan ada yang aneh saat ia mengecup manisnya bibir Airin. Rasanya seperti familiar, seolah itu bukan yang pertama baginya.
__ADS_1
Airin yang senang mendengar Alexi ingin menyeriusi pernikahan mereka, semakin mempererat pelukannya.
"Mas ada yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Airin dalam dekapan suaminya.
"Apa itu? Katakan!" balas Alexi.
"Malam itu, saat kamu menolongku dari Galang, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" tanya Airin, sebenarnya sudah lama dia ingin menanyakan hal ini, tapi waktunya saja yang belum sempat.
"Oh, kebetulan aku sedang lewat, lalu aku mendengar teriakanmu meminta tolong," jawab Alexi berbohong.
Kebetulan? Padahal jelas-jelas malam itu dia sudah beberapa kali mondar-mandir di depan rumah Airin, dia ingin bertamu tapi tidak memiliki keberanian. Sampai akhirnya Galang datang, dan langsung mengetuk pintu. Tak lama setelah itu, ia mendengar Airin berteriak meminta tolong.
"Lalu, kan waktu itu kamu mukulin Galang, ya! Dia itu atasan kamu di proyek, yang perusahaan kontraktor. Memang besoknya kamu nggak dimarahin sama dia? Aku bahkan sampai takut kamu dipecat, Mas."
"Mungkin dia bisa memecatku. Tapi tentu saja dia tidak berani, karena posisinya yang salah," jawab Alexi memberi alasan yang masuk di akal.
Dalam hatinya Alexi bergumam, 'Yang adanya aku yang akan memutus kontrak mantan suami kurang ajarmu itu, lalu membuangnya ke nereka.'
Berlama-lama memeluk Airin, membuat Alexi merasakan ada yang menyempit di dalam celananya. Dia menangkup wajah Airin, lalu menatapnya jahil. "Kamu sudah selesai makannya?"
Airin mengganguk. "Udah."
"Kalau begitu sekarang giliranku untuk makan!"
"Aaaaa ...." Airin memekik saat merasakan tubuhnya melayang di udara. Tapi saat melihat kekehan jahil Alexi, dia pun tidak tahan untuk tidak tersenyum.
Alexi merebahkan tubuh Airin di ranjang, lalu memulai sesuatu yang selalu menjadi candunya. Indah, hangat, dan menghabiskan banyak tenaga. Alexi pun terkulai memeluk istrinya itu saat ia selesai.
__ADS_1
Airin melirik Alexi, beberapa hari ini suaminya memiliki hobi baru. Alexi akan mengusap perutnya untuk beberapa lama, setelah mereka melewati percintaan panas.
"Mas, kenapa sih kamu kamu senang banget ngelus perut aku?" tanya Airin seraya menangkap tangan Alexi yang berada di atas perutnya.
"Aku sedang menunggu hadirnya kehidupan di dalam sini, menanti anak kita yang tumbuh di dalam perutmu," jawab Alexi sembari terus mengusap perut Airin dengan lembut.
Apa yang baru saja diucapkan Alexi membuat tubuh Airin menegang, perasaan gelisah tiba-tiba menyerang, karena ia masih menyimpan sesuatu yang belum Alexi ketahui.
Airin mengubah posisinya menyamping, menatap Alexi lekat-lekat. Apa pun konsekwensinya ia sudah siap, dia tidak ingin merahasiakan kekurangannya itu dari Alexi.
"Mas, ada sesuatu belum kamu ketahui. Maaf, aku tidak bermaksud merahasiakan ini darimu. Hanya saja, kita belum sempat membahas masalah ini," lirih Airin.
Alexi mengkerutkan dahi. "Apa? katakan saja!" sahutnya santai.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu. Aku ini wanita cacat, aku tidak bisa hamil. Salah satu penyebab Galang menceraikanku, adalah karena aku wanita mandul," ucap Airin pelan.
Dia berusaha menahan air matanya, agar tidak menggenang. Sebagai wanita, dia juga sangat sedih mengetahui kekurangannya itu. Mana ada wanita yang tidak ingin mengandung, dan melahirkan anak dari rahimnya sendiri!
Mendengar penjelasan Airin, tubuh Alexi seketika membeku, dia lantas menjauhkan tangannya dari perut Airin.
Kacau, pikiran Alexi menjadi tidak karuan. Padahal sebelum ini dia sudah bertekad untuk menjadikan Airin istri sahnya. Tapi kalau begini keadaannya, Alexi pun bingung harus bagaimana.
Alexi tahu siapa daddy dan mommynya, mereka pasti akan menerima status Airin yang merupakan seorang janda dengan tangan terbuka.
Tapi bagaimana dengan kenyataan Airin yang tidak bisa hamil? Sementara mommy Riana ingin ia segera menikah, karena mengharapkan kehadiran seorang cucu. Dan Alexi sangat tidak ingin mengecewakan mommy yang sangat dicintainya itu.
Bersambung.
__ADS_1
Ini bab kedua hari ini. Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan hadiahnya juga ya. Agar aku makin semangat updatenya.