
Dua tamparan dari Galang itu membuat Frita menunduk lemas, tapi bukan rasa bersalah yang ada di kepalanya, melainkan penyesalan karena perselingkuhannya harus terbongkar oleh Galang.
"Dasar wanita murahan, apa lagi yang mau kamu jelaskan? Apa semua kelakuanmu ini kurang jelas?" hardik Galang.
"A-aku ...."
Beberapa kali mulut Frita terbuka lalu kembali tertutup. Dia ingin membela diri, tapi tidak ada satu alibi pun yang berhasil ia dapatkan.
Galang tersenyum sinis melihat Frita tidak bisa berkata-kata lagi, seyuman yang jelas-jelas hanya untuk menutupi kekecewaan dan sakit hati yang ia rasakan.
Di sisi lain Galang merasa belum puas melampiaskan kemarahannya. Tatapan Galang beralih pada Raditya yang masih berada di atas ranjang.
Melihat pria kurang ajar itu, membuat emosi di dalam diri Galang semakin meledak-ledak. Dia lantas berjalan mendekat, untuk memberi pelajaran pada pria yang telah menghancurkan rumah tangganya.
"Kau, apa kau tidak tahu dia itu sudah bersuami? Pria macam apa yang tahunya hanya menggoda istri orang?" raung Galang dengan suara menggelegar.
Bersamaan dengan itu sebelah tangan Galang terulur untuk mencengkeram leher Raditya, disusul kepalan tangannya yang satu lagi mengayun keras.
Buugghh ....
"Ahhkk ...."
Galang terhuyung ke belakang dengan darah segar yang mengucur dari hidungnya.
Bogem mentah dari Raditya membuatnya sempoyongan, dan pandangannya berkunang-kunang.
Raditya menatap penuh ejekan, dia yang lebih muda dan bertubuh lebih besar, dengan mudah dapat menahan pukulan Galang. Bahkan dia berhasil menyerang balik dengan mendaratkan tinjunya di wajah Galang.
"Dasar lemah! Wajar saja jika istrimu berselingkuh, kau ini pria tidak berguna!" hina Raditya.
__ADS_1
Tidak puas menghina, Raditya masih berniat untuk menghajar Galang yang sudah tidak berdaya.
Tapi kali ini security hotel yang menemani Galang bergegas menolong, hingga tendangan Raditya tidak sampai mengenai Galang.
Dengan kemampuan security yang terlatih, mereka bisa melumpuhkan Raditya dengan cukup mudah, lalu Raditya diseret paksa keluar dari kamar tersebut.
Kondisi Galang tengah kesakitan dengan yang masih mengucur deras tidak disia-siakan oleh Frita, dia bergegas menghampiri Galang untuk mendapatkan simpati.
"Mas, kamu nggak apa-apa?" tanya Frita dengan memasang raut wajah khawatir.
Namun, tangan Frita yang terulur langsung mendapat tepisan.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" bentak Galang.
"Mas, kamu ini ngomong apa? Aku ini istrimu, Mas," lirih Frita manja.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, Galang memaksakan tubuhnya untuk berdiri. Lagi-lagi Frita mencoba keberuntungan untuk membantunya.
"Aku bilang jangan sentuh aku! Apa kau tuli, huh?" hardik Galang lagi.
"Mas ... aku minta maaf. Aku menyesal, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ini." Frita mengiba.
Manik matanya sudah berkaca-kaca, lalu perlahan airmatanya mengalir begitu saja.
Galang menghunus tatapan tajam, dia tidak ingin tertipu sekali lagi. Air mata itu tidak akan mengubah keadaan.
"Ya, kau masih punya kesempatan untuk memperbaiki hidupmu, dan aku juga akan memperbaiki hidupku. Kita perbaiki hidup kita masing-masing!" tegas Galang.
"Mas, apa maksud kamu?"
__ADS_1
"Maksudnya, mulai saat ini kau bukan istriku lagi, detik ini juga aku jatuhkan talak untukmu!"
Tubub Frita langsung lemas mendegarnya, dia menggelengkan kepala. "Tidak, kamu tidak bisa menceraikanku, ini tidak sah. Saat ini aku tengah mengandung, dan yang aku kandung ini adalah anakmu, anak kita!"
Galang tersenyum hambar. "Anak kita? Sudah jelas itu bukan anakku, tapi anak dari pria selingkuhanmu."
"Jangan asal bicara, Mas ... tidak baik. Tentu saja ini anakmu, mau anak siapa lagi?"
"Ya, ya ... jika itu memang anakku, ayo kita buktikan!"
"Buktikan?"
"Ya, kita lakukan tas DNA, apa kau berani?"
Tantangan dari Galang membuat Frita menelan saliva, mana mungkin dia mau melakukan tes DNA, karena ayah dari anak tersebut memang bukan Galang.
"Kenapa diam? Kau tidak berani?"
"Tapi, Mas."
"Alaa ... sudahlah, hentikan sandiwara busukmu ini. Kau tidak perlu banyak bicara lagi. Lebih baik kemasi barang-barangmu, lalu bawa ibumu pergi dari rumahku!"
Galang langsung pergi setelah mengakhiri kata-katanya, meninggal Frita yang masih terdiam di tempat.
Frita bergegas mengenakan pakaian, lalu menyusul Galang dengan terburu-buru.
Dia berpikir keras, bagaimanapun caranya, dia tidak boleh melepaskan Galang, dia harus mendapatkan cara agar tidak kehilangan Galang, kehilangan hartanya.
Bersambung.
__ADS_1