
Napas Airin memberat saat memikirkan, bahwa Riana mendengar apa yang baru saja ia katakan. Entahlah, mungkin konsekwensi terburuknya ia harus kehilangan Alexi, pria yang belum lama ia miliki.
'Mampus kau sialan!' Itulah umpatan yang keluar dari hati Viona.
Sungguh menyenangkan mengetahui kedatangan Riana, hal yang membuat Viona yakin Riana akan segera mengusir Airin setelah ini.
Lagi pula seorang janda penggoda seperti itu, sungguh tidak pantas menjadi pendamping Alexi, pikir Viona.
"Viona, kamu ikut saya sebentar," ajak Riana, mengalihkan atensi kedua wanita yang tengah bedebat itu.
"Iya, Tante." Viona mengangguk lalu bangkit dari tempat duduknya.
Mengikuti langkah Riana ke dalam rumah, sorot mata gadis yang mengenakan dress biru selutut itu tampak puas. Sekali ia menoleh ke belakang, memperhatikan wajah Airin yang pucat menahan kekhawatiran. Lalu bibir tipisnya mulai tersenyum, memamerkan gigi putihnya yang tampak mengejek.
"Silakan, duduk!" ujar Riana saat mereka tiba di ruang tamu rumahnya yang luas.
Dengan patuhnya Viona mendudukkan diri di samping Riana, dia sudah tidak sabar mengetahui reaksi Riana setelah mendengar perkataan Airin tadi.
Semoga saja wanita tua itu akan mengusir Airin, lalu membantu dirinya agar bisa dekat lagi dengan Alexi. Viona sangat yakin dengan apa yang tersimpan di benaknya sekarang.
"Baiklah, kitaa langsung ke intinya saja, Viona," ujar Riana membuka percakapan dengan tenang, "Sejak awal sudah saya katakan. Saya tidak mendukung, ataupun menolak kamu berhubungan dengan anak saya, semuanya kembali pada pilihan Alexi, tapi ...." Riana menjeda kalimatnya sebelum berkata dengan penuh penekanan, "Jika Alexi sudah menjatuhkan pilihan, lalu ada orang yang mengusik pilihannya, maka saya tidak akan tinggal diam!" tandasnya.
"Ma-maksud Tante bagaimana?" Suara Viona terdengar terbata.
Ia tidak mengerti dengan maksud perkataan Riana. Jika diteliti, maka makna perkataan itu adalah Riana merestui hubungan Alexi dengan Airin.
Ah, mana mungkin! Yang benar saja Riana akan merestui anaknya menikahi seorang janda, ditambah statusnya hanyalah pedagang warung kecil di perkampungan.
"Begini. Saat ini Alexi sudah menentukan pilihannya, dia sudah menikah. Jadi saya harap kamu bisa terima pilihannya dan tidak mengganggunya lagi. Apa pernyataan saya cukup jelas?" jawab Riana yang kemudian diakhiri pertanyaan.
"Hah?" Viona terbeliak mendengar itu, manik mata hitamnya menatap tidak percaya. Sunguh reaksi dari Riana sangat jauh di luar ekspektasinya, "Ja-jangan seperti itu dong, Tante. Wanita yang dipilih Alexi itu bukan wanita baik-baik. Dan Tante juga dengar sendiri, kan? Dia itu hanya ingin memanfaatkan Alexi!"
Riana tampak menyunggingkan senyum tipis, yang menandakan ia tidak peduli. "Itu urusannya Alexi. Jadi saya harap mulai sekarang kamu jangan lagi mendekati anak saya, dia sudah menikah!"
Viona menggelengkan kepala, dadanya terasa sesak dipenuhi amarah, yang sayangnya harus ia tahan di depan Riana.
__ADS_1
"Tante jangan menyesal jika nanti semua itu benar. Saya pamit," ujar Viona yang sedang mencoba menahan ledakan emosinya.
Ia lantas keluar dari rumah mewah itu, melangkah pergi dengan perasaan kesal. Sepertinya dia harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapat Alexi kembali.
Sementara itu di halaman depan, Airin masih berada di tempat tadi. Matanya memandangi Viona yang melangkah cepat meninggalkan halaman tersebut.
Saat ini Airin juga sangat cemas. Bagaimana jika Riana jadi benci setelah mendengar perkataannya tadi? Huh, kejadian tadi membuat dirinya semakin gugup untuk bertemu dengan Riana.
"Airin, kemari sebentar, saya ingin bicara!" Suara itu terdengar saat Airin tengah takut-takutnya.
Saat menoleh ke arah suara. Airin mendapati sang ibu mertua sedang berdiri di depan pintu ganda rumahnya yang berukiran rumit.
Airin berdiri, membawa tubuh gemetarnya untuk menemui Riana, dengan segala kecemasan yang ia simpan.
Wanita tua dengan aura keibuan itu kemudian membawa Airin ke ruang keluarga. Tiba di sofa keluarga bergaya eropa klasik berwarna gold itu, Riana pun meminta Airin untuk duduk.
Saking gugupnya, Airin tidak berani duduk bersisian dengan Riana. Dia memilih untuk duduk di sofa yang berseberangan dengan mertuanya itu.
Airin menundukkan kepala, wajah cantiknya yang putih itu tampak semakin pucat, seolah kekurangan aliran darah. Telapak tangannya pun mulai berkeringat, ia berusaha menutupi kegugupan dengan meremas ujung bajunya.
Yang ia yakini, Riana pasti akan membahas pembicaraannya dengan Viona tadi.
Deg!
Jantung Airin pun memompa lebih cepat. Benar saja, pertanyaan yang ia khawatirkan itu langsung keluar dari mulut mertuanya.
"Maafkan ak- ...." Airin menghentikan perkataannya, dia pun bingung bagaimana untuk menjelaskannya.
Melihat kegugupan Airin, Riana pun tersenyum tipis. Lagi pula ia sudah mendengar pembicaraan Airin dengan Viona sejak awal. Ia sendiri yakin, Airin mengatakan itu hanya karena sedang terprovokasi saja.
"Sudah, tidak perlu dilanjutkan. Kita bahas yang lain saja." Riana mengibaskan tangannya.
"Baik, Tante."
Tatapan Riana yang tadinya teduh, kini berubah tajam, lalu bertanya dengan rasa kesal, "Sampai kapan kamu akan memanggil saya tante?"
__ADS_1
"Ma-maaf, jadi saya harus panggil apa?" tanya Airin dengan polosnya.
Riana menggeleng, lalu sebuah dengkusan pun terdengar bersama hembusan napasnya. "Kamu itu menantu di rumah ini, istri dari anak saya. Sudah seharusnya kamu memanggil saya, sama seperti Alexi!"
"I-iya, Mo- ...." Airin merasa lidahnya terlalu kelu, bahkan untuk sekedar mengucapkan kata mommy saja.
Melihat itu Riana pun tersenyum geli. "Ya sudah, jika kamu tidak biasa memanggil mommy. Kamu bisa panggil saya mama, bunda, atau mungkin ibu."
Airin memberanikan diri untuk sedikit mengangkat kepala, menatap wajah mertuanya. "Boleh aku panggil Bunda?"
"Ya, sudah. Terserah kamu."
"Apa bunda merestui hubunganku dengan mas Lexi?" Airin bahkan harus mengumpulkan jutaan keberanian, hanya untuk menanyakan hal yang menurutnya sangat mendebarkan ini.
Bibir Riana kembali melengkungkan senyuman. "Mengapa kamu bertanya seperti itu?" balas Riana santai, "Jika saya tidak menerima kamu, sudah pasti saya tidak akan membiarkan Lexi membawamu ke rumah ini."
Airin merasa sedikit lega, tapi belum sepenuhnya, masih ada hal yang mengganjal di hatinya, terutama tentang yaitu tentang dirinya yang tidak bisa hamil.
"Terimakasih Bunda sudah berbaik hati menerimaku. Hanya saja, apa mas Lexi sudah menceritakan statusku?"
"Bunda sudah mendengarnya, dan itu sama sekali bukan masalah. Yang penting, Alexi bahagia bersama kamu, dan bunda harap kamu tidak mengecewakannya."
Airin mengangguk perlahan, ada rasa haru yang bersarang di hatinya. Ketika mendengar tulusnya kata-kata yang keluar dari mulut Riana.
"Tapi, aku tidak bisa hamil. Apa bunda mau menerima kekuranganku itu?"
"Hamil dan punya keturunan itu rizki dari Tuhan, Nak. Jika Dia sudah mempercayaimu dan Alexi untuk menjadi orang tua, maka pasti akan ada keajaibanNya untuk kalian," ujar Riana yang membuat Airin merasa lega.
Airin menghela napas, hatinya benar-benar plong sekarang.
"Terimakasih, Bunda," tutur Airin.
Riana melebarkan senyumnya. "Tapi ...."
Tapi apa? Sontak saja debaran jantung Airin yang baru mulai tenang itu kembali memompa dengan cepat.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa ikuti terus kelanjutannya, ya. Salam hangat.