Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Perdebatan dengan Viona


__ADS_3

Sepertinya yang diinginkan Alexi, malam ini mereka lewati dengan tidur tanpa busana. Alexi menggempur istrinya berkali-kali, ia benar-benar melampiaskan kerinduan yang seminggu ini tertahan, karena egonya sendiri.


Pagi harinya Airin mengerjap perlahan, ia tidur berbantal lengan suaminya. Dengan posisi menyamping dan tangannya mendekap tubuh berotot sang suami.


Airin menggeliat, lalu turun dari ranjang membawa tubuh polosnya untuk mencari handuk. Dia memunguti pakaiannya yang berseleparan, lalu pergi ke kamar mandi untuk mebersihkan diri.


Baru saja selesai mandi, Airin mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia pun membuka pintu tersebut, untuk melihat siapa gerangan yang ada di baliknya.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa seorang wanita berseragam pelayan.


"Iya, ada apa ya?" balas Airin.


"Ini, nona Diba titip pakaian buat Nyonya. Ini punya nona Diba, tapi masih baru kok. Belum pernah dipakai," ujar pelayan tersebut menjelaskan dengan hati-hati.


Meskipun ia tidak tahu kehidupan Airin, tapi tetap saja ia harus bersikap hormat. Karena wanita itu sekarang sudah berstatus sebagai nyonya mudanya. Salah-salah menyinggung, maka keberlangsungannya sebagai pekerja di sini yang akan terancam.


"Oh, iya, Bi. Terimakasih ya," tutur Airin ramah.


Pelayan itu menggangguk, lalu segera mohon diri.


Airin kembali menutup pintu kamar, bahunya bergidik memandangi dress rumahan yang kini ada di tangannya. Mungkin semalam mertuanya melihat bahwa ia tidak membawa apa-apa, hingga berinisiatif meminjamkan pakaian untuknya, pikir Airin.


Airin lalu mengenakan dress tersebut, yang untungnya memiliki ukuran yang pas dengan tubuhnya.


Ia tersenyum sendiri mematut dirinya di depan cermin. Bukankah semalam Alexi bilang adiknya itu masih kuliah, apakah itu artinya ia masih cocok berpenampilan seperti anak kuliah?


Ah, Airin menggelengkan kepala mengingat betapa percaya dirinya ia saat ini.


Krucuk ... krucuk!


Tiba-tiba Airin mendengar suara perutnya yang tengah berdemo.


Manik matanya mencari keberadaan jam di dinding. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam tersebut.


Pukul sepuluh pagi! Ah, entahlah. Airin juga bingung harus menyebutnya masih pagi, atau sudah siang, yang jelas dia merasa sudah bersikap tidak sopan di rumah ini.


"Ya, Tuhan. Aku ini benar-benar tidak tahu diri, tinggal di rumah orang tapi bangun kesiangan!" Airin merutuki diri sendiri seraya berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di samping suaminya yang masih terlelap nyaman.


"Mas, bangun!" Airin merengek sambil menguncang lengan kekar suaminya.

__ADS_1


Alexi menggeliat malas, rasanya masih terlalu berat baginya untuk membuka mata, dia masih betah berlama-lama berada di pusat gravitasi terkuat di bumi itu. Apalagi aktivitasnya semalam juga sangat menguras tenaga.


"Mas, ini udah siang. Aku lapar!" sungut Airin kesal melihat suaminya yang masih enggan membuka mata.


"Kalau kamu lapar, kamu turun saja duluan. Atau minta pelayan untuk membawa makanan ke sini!" balas Alexi dengan suaranya yang masih meracau.


"Ck, aku mana berani, Mas. Ini aja aku takut dimarahin ibu kamu, karena bangun kesiangan." Ya, sebagai penghuni baru, apalagi statusnya sebagai menantu, tentu saja khawatir dengan tanggapan mertuanya nanti.


"Memangnya jam berapa sekarang?"


"Jam sepuluh!"


"Hah?" Mata Alexi akhirnya terbuka. "Ya sudah, aku mandi dulu."


Airin menbuang napas berat sebelum duduk di ranjang, ekor matanya mengikuti langkah Alexi yang semponyongan menuju kamar mandi.


Sembari menunggu suaminya itu selesai mandi. Airin berinisiatif untuk mengambilkan pakaian suaminya dari dalam lemari, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.


Sekitar lima belas menit kemudian Alexi tampak keluar dari kamar mandi, ia mendekati pakaian yang disediakan oleh Airin, tapi hanya mengambil pakaian dalamnya saja.


"Tolong ambilkan kemeja sama celana dasar untukku," pinta Alexi sembari mengembalikan baju kaos dan celana pendek tersebut.


"Iya, aku harus ke kantor hari ini. Ada hal penting yang harus aku kerjakan," sahut Alexi.


Tanpa membantah, Airin segera mengambilkan apa yang dibutuhkan Alexi, mulai dari atasan sampai sepatunya.


Ia juga tidak canggung saat membantu Alexi mengenakan dasi, hanya saja ia menjadi gugup saat Alexi memperhatikan dirinya tanpa berkedip.


"Jangan dilihat seperti itu, Mas. Aku malu." Airin menundukkan kepala.


Alexi terkekeh, lantas mengangkat dagu Airin dengan jarinya. "Kamu cantik!"


Pujian itu disusul sebuah kecupan mesra di bibir Airin. Hanya sekilas, tanpa disertai nafsu.


Setelah Alexi selesai dengan stelan kerjanya, mereka pun keluar bersama dari kamar.


"Mas, apa ibu kamu nggak marah karena kita bangun kesiangan?"


Alexi terkekeh, karena Airin tidak henti mengkhawatirkan ibunya. "Tenang saja, mommy pasti memaklumi. Karena pengantin baru memang sering bangun kesiangan."

__ADS_1


Jawaban yang asal dari Alexi membuat Airin memutar bola matanya, ada-ada saja guyonan suaminya itu, padahal dia tengah cemas-cemasnya saat ini.


Setibanya di ruang makan, mereka pun memulai sarapan. Seperti tadi malam, kali ini hanya mereka berdua saja, karena keluarga yang lain pastinya sudah sarapan sejak pagi.


Selesai sarapan, Alexi pun berpamitan untuk berangkat kerja. Airin melepas keberangkatan suaminya itu sampai ke teras rumah.


"Habis ini kamu temui mommy, ya. Biasanya jam segini dia ada di taman belakang," ujar Alexi sebelum masuk ke mobil sport miliknya.


Airin mengangguk pelan. "Iya, Mas."


Setelah mobil milik Alexi meluncur meninggalkan pekarangan, Airin memutuskan untuk bersantai sejenak di taman depan rumah, untuk sekedar mengumpulkan keberanian sebelum menemui ibu mertua.


Ia duduk di bangku panjang, sambil memandang takjub pada seekor buruk merak, dengan bulu yang sangat indah di dalam sangkar raksasanya.


Baru beberapa menit berada di bangku tersebut, tampak seorang gadis turun dari buggy car. Airin mengenali gadis itu, dia adalah wanita yang sempat mampir ke warung untuk menanyakan tentang Alexi. Yang saat itu tidak Airin ketahui bahwa Alexi adalah suaminya sendiri.


Berkebetulan gadis itu juga melihat Airin, ia lantas melangkah lurus sambil menatap tidak suka, kemudian duduk di samping Airin.


"Tidak disangka, wanita rendahan sepertimu bisa merebut Alexi dariku! Sebenarnya apa yang kamu inginkan darinya?" sinis Viona yang diakhiri pertanyaan menyindir.


"Merebut? Aku tidak merasa merebut siapa pun! Sekarang Alexi adalah suamiku, jika kau ingin berusaha menggodanya, itu artinya dirimu sendiri lah yang tukang rebut suami orang!" balas Airin tak kalah menyindir.


Viona tertawa sarkas, sembari memandang rendah pada Airin. "Percayalah, kamu tidak sebanding denganku! Aku bisa dengan mudah mengambil Alexi kembali darimu. Harusnya kau sadar, Alexi tidak akan mungkin mencintaimu. Dia hanya terjebak oleh siasat licikmu!"


"Itu menurut siapa? Menurut penilaianmu, kan? Toh, kenyataannya tidak seperti itu! Alexi mencintaiku, buktinya dia membawaku ke sini untuk ia nikahi secara resmi!" balas Airin yang berhasil membuat Viona mati kata.


"Kau terlalu percaya diri, semua itu hanya akan bertahan sampai keluarga ini mengetahui rencanamu, kau hanya ingin memanfaatkan hartanya Alexi, ya kan?"


Bola mata Airin memanas mendengarnya. Memanfaat harta? Bahkan sehari sebelum ini, yang dia tahu suaminya itu hanyalah seorang mandor biasa.


"Mengapa kau diam? Kau tidak bisa membalas perkataanku, huh? Karena semua yang aku katakan itu benar, ya kan?" cecar Viona lagi.


Tangan Airin mengepal keras di sisi tubuhnya. "Iya, aku hanya ingin memanfaatkan hartanya! Lalu apa masalahmu?"


"Apa apa ini?" Adalah Riana yang melangkah mendekati mereka.


Menoleh ke arah suara, Airin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tidak diragukan lagi, mertuanya itu pasti telah mendengar apa yang baru saja ia katakan.


Bersambung.

__ADS_1


Dear Readers, maaf ya beberapa hari ini upnya telat, karena kesibukan di RL lagi banyak banget, sebagai gantinya besok aku usahain dobel up ya. Salam hangat.


__ADS_2