Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Kami Akan bercerai


__ADS_3

Prank!


Suara pecahan dari mangkuk bubur berserakan di lantai. Frita yang membanting mangkuk tersebut, kini tengah menatap kesal pada dua orang asisten rumah tangganya.


"Sarapan macam itu? Kalian itu becus kerja tidak? Masa bubur tidak ada rasanya itu kalian kasih sama aku!" seru Frita dengan suara meledak-meledak.


Seorang pelayan berusia paruh baya, yang bernama bi Murni menyahut, "Maaf, Nyonya. Itu sudah sesuai dengan anjuran dari dokter kandungan."


"Kalau rasanya hambar seperti itu, mana aku bisa berselera makan!" bentak Frita, ia menghentak kesal lalu beranjak meninggalkan meja makan.


Dua orang pelayan yang ditinggalkan Frita membuang napas berat, mereka mulai membersihkan pecahan beling yang berserakan.


Jika saja tidak memikirkan nasib keluarga di kampung, ditambah sulitnya mencari pekerjaan di zaman sekarang, pasti sudah lama mereka berhenti bekerja di rumah ini.


"Makan hati ya, Bi. Kerja di sini sekarang," ujar seorang pelayan yang lebih muda.


Bi Murni mengangguk. "Iya, padahal dulu waktu masih ada Nyonya Airin, kita itu enak banget kerja di sini."


"Semoga aja Tuan cepat sadar kebusukan Nyonya Frita. Eh, Bibi kan udah lama kerja di sini, kalau misalkan Bibi ngelaporin perbuatan Nyonya Rita ke Tuan, kira-kira Tuan bakal percaya nggak?"


Bi Murni mengidikkan bahunya. "Sepertinya nggak mungkin, Nyonya Reni sama Nyonya Frita itu pintar menghasut. Dulu aja Tuan lebih percaya mereka daripada Nyonya Airin. Apalagi sama kita!"


"Iya juga sih."


"Udah, lebih baik cepat kerjanya. Nanti kalau Nyonya Frita datang lagi, tapi kerjaan kita belum beres, bisa-bisa dia ngamuk lagi!"


Di dalam kamarnya Frita bersiap-siap untuk pergi, setelah selesai berdandan dia pun bergegas keluar dari kamarnya.


"Mau ke mana kamu?" tanya Mama.


"Ke tempat Radit, Ma."


"Sini, mama mau bicara sebentar," panggil mama Reni.


"Apa lagi sih, Ma?" tanya Frita dengan suara malas.


"Kamu itu jaga-jaga dong, jangan terlalu sering ketemu Radit. Sekarang ini Galang bukan sedang di proyek. Gimana nanti kalau dia ngelihat kamu lagi sama Radit."


Frita mengibaskan tangannya, dia tidak khawatir. Lagi pula dia dan Radit tidak akan ke mana-mana, hanya di apartemen pria itu saja.

__ADS_1


"Udah, deh. Pokoknya Mama tenang aja, Galang nggak bakal tau kok," sahut Frita acuh tak acuh.


Setelah berkata seperti itu Frita berjalan keluar, sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu kekasihnya itu, karena Galang selalu ada di rumah.


Mama Reni yang ditinggal begitu saja hanya bisa berdecak kesal.


"Awas saja kalau kelakuan bodohmu ini membuat rencana kita berantakan," pekik mama Reni.


***


Di sebuah rumah sakit, Galang meremas kertas hasil pemeriksaan yang ia dapatkan dari dokter, pikirannya kacau setelah mengetahui fakta bahwa dirinya tidak subur.


Jika sudah begini, maka dapat dipastikan bahwa anak yang dikandung Frita bukan darah dagingnya.


Mengetahui dirinya sudah ditipu mentah-mentah, membuat Galang sangat marah. Dia tidak sabar untuk mengusir sekaligus menceraikan istrinya tersebut saat ini juga.


Galang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dari rumah sakit. Tiba di rumah, dia langsung melangkah tergesa-gesa untuk masuk.


"Mana Frita?" tanya Galang pada ibu mertuanya yang tengah duduk di ruang keluarga.


Mama Reni mengkerutkan dahi saat melihat gelagat tidak baik yang ditunjukkan Galang. Terlebih wajah menantunya itu tampak memerah menahan marah.


"Aku tanya, di mana Frita?" balas Galang, kali ini dengan suara membentak.


Mama Reni melotot, dia tidak diterima dibentak oleh menantunya sendiri, ia pun segera berdiri sambil berkacak pinggang.


"Jangan kurang aja kamu, saya ini mertua kamu! Berani sekali membentak orang tua!" kesal mama Reni.


Galang berdecih, wanita ini memang mertuanya. Tapi bisa dia pastikan, setelah ini status wanita paruh baya tersebut akan menjadi mantan mertuanya.


Lagi pula pria mana yang akan diam saja jika ditipu seperti ini, terlebih selama ini dia juga sudah diperas habisan-habisan, dia menuruti semua keinginan Frita demi anak dalam kandungan wanita tersebut, yang ternyata bukan darah dagingnya.


Satu lagi, Galang juga tidak akan lupa. Kalau saja waktu itu Frita tidak mengatakan tengah mengandung anaknya, maka dia tidak akan mungkin menceraikan Airin.


Ah, semakin banyak saja penyesalan yang dirasakan Galang.


"Bibi, cepat kemari!" panggil Galang.


Sejurus kemudian dua orang asisten rumah tangganya datang menghadap.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?" tanya mereka serentak.


"Cepat kemasi barang-barang wanita ini dan anaknya. Taruh di luar!" perintah Galang.


Mendengar itu membuat mata mama Reni semakin melotot. Apa yang baru saja keluar dari mulut Galang membuatnya seolah tersambar petir.


"Apa maksud kamu Galang?" tanya Reni dengan suara panik.


"Mulai hari kalian angkat kaki dari rumahku, aku sudah tidak mau menampungmu dan anakmu itu lagi!" seru Galang.


"Kamu sudah gila, huh? Kamu mengusir kami? Saya ini mertua kamu, dan Frita itu istri kamu!''


"Tidak lagi, aku akan menjatuhkan talak pada anakmu saat dia pulang nanti, kami akan bercerai!"


Bercerai? Bukankah itu berarti dia dan Frita tidak akan bisa lagi menikmati harta Galang? Ya Lord ... mama Reni bisa gila jika harus kembali hidup susah.


"Galang kamu tenang dulu, sebenarnya ini ada apa? Kamu cerita dulu sama mama." Kali ini mama Reni merendahkan suara, berusaha membujuk Galang.


Galang tidak menghiraukan perkataan mama Reni, dia malah menatap kedua pelayannya masih diam di tempat.


"Kalian tunggu apalagi, cepat kemasi barang-barang mereka, dan taruh di luar," perintah Galang lagi.


"Baik, Tuan." Kedua pelayan itu menggangguk, lalu mohon diri untuk melaksanakan titah.


Rasanya mama Reni ingin pingsan saja, terlebih Galang langsung beranjak ke kamarnya setelah memberi perintah tersebut, dia sama sekali tidak memberi kesempatan bagi mama Reni untuk mengeluarkan bujukan mautnya.


Kurang dari setengah jam kemudian, barang-barang milik mama Reni dan Frita sudah berada di teras rumah.


Belum lagi telponnya yang sejak tadi belum dijawab Frita membuat mama Reni semakin pusing saja.


"Anak sialan! Apa yang kamu lakukan di saat keadaan sedang darurat seperti ini!" Mama Reni tidak berhenti mengumpat.


Meski begitu dia terus mencoba menghubungi Frita berulang-ulang.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya ya.


Terimakasih sudah membaca.

__ADS_1


__ADS_2