
"Airin bagaimana keadaan Sarah?" tanya Bu Sari.
Ibu dari Sarah itu baru saja tiba di rumah sakit, Alexi yang meminta adiknya untuk menjemput Bu Sari.
Airin menggeleng berat. "Sarah masih di ruang operasi, Tante."
Wanita paruh baya itu tampak khawatir, dan ia pun duduk bersama dengan Airin di ruang tunggu.
"Maaf ya, Tante. Sarah jadi celaka karena melindungi aku," lirih Airin tidak enak hati.
Ibu Sari menghela napas, dia mengusap kepala Airin. "Nggak apa-apa, Nak. Ini sudah garis takdirnya Sarah," ujarnya legowo.
"Tapi semoga saja Sarah cederanya nggak terlalu parah ya, Tante. dan dia bisa sembuh secepatnya," sahut Airin.
"Kita berdo'a sama-sama ya, Nak."
Di saat mereka masih belum tenang menanti kabar dari Sarah. Dokter yang menangani Galang keluar dari IGD, wajahnya terlihat lelah dan bercampur lesu. Sepertinya dia datang membawa kabar buruk.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" Airin langsung bertanya sebelum dokter tersebut menjelaskan apa-apa.
"Maaf, Nyonya. Luka yang diderita pasien membuatnya kehilangan banyak darah, nyawa pasien tidak dapat tertolong," jawab dokter tersebut.
"Ya Tuhan ...." Airin langsung lemas mendengar itu, dan manik matanya langsung berkaca-kaca.
Meski selama ini Galang sering menyakitinya secara fisik maupun psikis, tapi kali ini Airin harus berterimakasih pada mantan suaminya tersebut, dia berhutang nyawa.
Jika tidak ada Galang, besar kemungkinan dia dan calon bayi dalam kandungannya yang akan akan pergi meninggalkan dunia ini.
"Kamu yang sabar ya, Sayang." Alexi merangkul bahu istrinya.
__ADS_1
"Iya, Mas. Kasihan Mas Galang, dia menjadi korban karena melindungi aku."
"Kita berdoa saja semoga Galang mendapat tempat terbaik di sisiNya," balas Alexi.
Airin mengangguk, dia tidak menyangka Galang akan pergi secepat ini.
Setelah itu mereka kembali duduk di ruang tunggu, keadaan menjadi hening sampai tim medis yang menangani Sarah keluar dari ruang operasi, lalu disusul perawat yang memindahkan Sarah ke ruang perawatan.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?'' tanya bu Sari.
"Operasinya berjalan lancar, hanya saja akan butuh waktu yang cukup panjang sampai ia sembuh total."
"Oh, syukurlah." Bu Sari merasa lega, meski kabar ini tidak sepenuhnya baik.
Di samping Bu Sari, Airin juga merasa lega. Dia pasti akan dihantui perasaan bersalah jika terjadi hal buruk pada Sarah.
"Apa kami sudah boleh menjenguk anak saya, Dokter?" tanya Bu Sari lagi.
"Baiklah, terimakasih banyak, Dokter."
Wanita berjas putih itu mengangguk, dia lantas pamit. Sedangkan Airin dan yang lainnya langsung beranjak menuju ruangan tempat Sarah dirawat.
Bu Sari mendekati brankar Sarah. "Bagaimana keadaan kamu Sayang?"
Walau sudah tahu Sarah akan baik-baik saja, tapi Bu Sari tidak bisa tidak mengkhawatirkan keadaan putrinya itu.
"Sarah baik-baik aja, Ma. Mama jangan Cemas ya," sahut Sarah, suaranya masih agak lemah.
"Sarah, maaf ya ... karena aku kamu jadi begini." Airin juga ikut duduk di samping Sarah.
__ADS_1
Sahabat Airin itu tersenyum. "Maaf buat apa? Kalau ada yang harus kamu ungkapin, yang tepat adalah kata terimakasih."
"Iya, terimakasih juga, maaf juga. Aku nggak tau gimana nasib aku kalau nggak ada kamu."
"Sudah, jangan dipikirin Airin. Yang penting kamu, sama calon bayi kamu selamat. Airin, tas aku mana ya?"
"Ini, ada." Airin langsung menyerahkan tas sahabatnya tersebut.
Sarah mengeluarkan kartu debit dari dompet, tabungan yang ia miliki tidaklah banyak, dan sekarang masih harus membayar biaya rumah sakit pula.
Namun, tetap tidak ada perasaan menyesal di hatinya.
"Mama bayar administrasi dulu ya, pakai ini." Sarah menyerahkan kartu tersebut pada ibunya.
"Tidak perlu, aku sudah melunasi semua biayanya," potong Adelio cepat.
"Kapan?" tanya Airin dan Bu Sari serentak.
Tentu keduanya kurang yakin, sebab Adelio selalu bersama mereka selama di rumah sakit ini.
"Aku membayarnya secara virtual," jawab Adelio berbohong.
Dia belum membayar biaya pengobatan itu, melainkan baru akan membayar.
Rumah sakit ini adalah milik neneknya, buru-buru Adelio mengeluarkan ponsel untuk mengirim chat kepada bagian administrasi, untuk mempermulus rencana. Dia tidak ingin kehilangan momentum untuk menjadi pahlawan.
Sarah mengeluarkan ponsel. "Berapa biayanya? Uang kamu aku ganti."
Hal ini membuat Bu Sari dan Airin saling tatap, mereka heran dengan Sarah yang sangat keras kepala.
__ADS_1
Sedangkan Adelio mendesah berat. 'Tuhan, mengapa gadis ini sulit sekali menerima kebaikanku?'
Bersambung.