Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Harus Diamputasi


__ADS_3

"Airin ... awas!"


Tiba-tiba saja Galang keluar dari toko kue yang akan dituju Airin, dia mendorong Airin dan Sarah kembali ke tengah jalan.


Braakk!


Akhirnya Galang menjadi korban utama tabrakan itu, dia tergeletak di aspal dengan tubuh bersimbah darah.


Airin menutup matanya, dia sampai mual saat melihat aspal hitam yang kini berubah warna menjadi merah.


Sementara itu di bawah Airin, Sarah merintih sakit. Gadis itu memeluk Airin saat Galang mendorong mereka barusan, dia menjadi tameng saat keduanya tersungkur ke pembatas jalan.


Airin segera bergeser, lalu mencoba membantu Sarah untuk berdiri.


"Kakiku sakit!" Sarah menjerit tertahan.


"Ya Tuhan, kaki kamu ...." Airin terbeliak melirik kaki Sarah yang tak lagi normal, ternyata kaki gadis itu patah karena berbenturan dengan tembok pembatas, ditambah ia juga harus menahan bobot tubuh Airin.


Untungnya setelah membawa Galang ke pinggir, orang-orang yang berada di tempat kejadian langsung membantu Airin dan Sarah, lalu ketiganya dilarikan ke rumah sakit.


Kabar kecelakaan yang menimpa Airin, dengan cepat sampai ke telinga Alexi. Dia begitu cemas mendengar kejadian buruk yang menimpa istrinya, dan bergegas menyusul ke rumah sakit.


"Sayang," panggil Alexi lirih seraya mendekati Airin yang ada di atas brankar.


Saat Alexi duduk di tepi ranjang, Airin langsung memeluk suaminya itu dan menangis tergugu. "Maafin aku, Mas. Aku istri yang keras kepala, aku istri yang egois, aku wanita tidak tahu diuntung."


"Malam itu kamu nggak salah, aku sebenarnya yang salah, aku yang masuk kamar kamu, tapi aku masih ingin menang sendiri," isak Airin dalam pelukan sang suami.

__ADS_1


Alexi mengusap punggung Airin.


Dia tersenyum lembut seraya berkata, "Kamu tidak yang salah apa-apa, Sayang. Sudah jalannya seperti itu."


"Aku istrinya durhaka, Mas. Aku mendiamkan kamu semalaman, aku nyaris celaka karena sudah berdosa sama suami."


Alexi mengurai pelukan, lalu menangkup wajah Airin dengan kedua tangannya. Dia tidak ingin membahas masalah itu lagi.


Yang penting sekarang Airin dan kandungannya baik-baik saja, itu sudah cukup untuk membuat Alexi merasa lega.


"Sudah, Sayang ... aku nggak marah sama kamu, yang aku pedulikan cuma keselamatan kamu dan calon anak kita."


Airin mengangguk pelan, dia menatap sendu pada Alexi. Dia cukup beruntung memiliki suami yang tulus, serta memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi dirinya.


Kejadian hari membuat Airin merasa dirinya kurang bersukur.


Tiba-tiba Airin teringat pada Sarah.


"Mas, Sarah ... kakinya patah karena melindungi aku," lirih Airin sedih, "Dan Mas Galang masih di IGD," tambahnya dengan suara yang masih sesunggukan.


Alexi menggenggam tangan sang istri untuk menenangkannya. "Kamu jangan khawatir ya, Sarah pasti baik-baik saja, dan kita juga berdoa agar Galang diberi keselamatan."


Airin mengangguk pelan. "Aku mau jenguk Sarah, Mas."


"Memangnya kamu sudah baikan?" tanya Alexi.


"Aku nggak apa-apa, Mas. Aku sehat."

__ADS_1


Alexi membantu Airin turun dari brankar. Karena Sarah sedang menjalani proses bedah, terpaksa keduanya menunggu di depan ruang operasi.


Di rumah sakit lain.


Mama Reni terlihat duduk gelisah di sebuah kursi tunggu, dia dan Viona langsung datang setelah mengetahui Frita mengalami kecelakaan berat.


Setelah menunggu sekitar tiga jam, sambil berharap-harap cemas. Akhirnya petugas medis yang menangani Frita keluar dari ruang IGD.


Mama Reni menghampiri sang dokter dengan tidak sabaran. "Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?"


Pria paruh baya berjas putih yang ditanyai Mama Reni itu tersenyum getir. "Dia sudah melewati masa kritis, anak Anda berhasil diselamatkan."


"Oh, syukurlah ... terima kasih, Dokter." Mama Reni mengusap dadanya, dia benar-benar lega.


"Tapi maaf, saya juga memiliki kabar buruk," ucap dokter tersebut dengan hati-hati.


Seketika itu juga perasaan Mama Reni langsung tidak enak. "Apa, Dokter? Cepat katakan!"


Dokter itu menghela napas panjang, dia berharap ibu dari pasiennya ini bersabar menerima kenyataan.


"Kaki putri Anda remuk, jadi tim medis terpaksa mengambil tindakan amputasi. Itu adalah jalan satu-satunya agar nyawa pasien bisa diselamatkan," jelas dokter itu dengan berat hati.


"Apa?"


Seperti disambar petir, Mama Reni langsung lemas mendengarnya, dan ia pun terduduk di lantai.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2