Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Dia Milikku!


__ADS_3

Airin menatap Alexi ketika mereka sudah menghabiskan sarapannya. "Mas, boleh aku bertanya sesuatu?"


Alexi balas menatap. "Silakan, mau bertanya apa?"


"I-itu ... ehmm, nggak jadi deh," sahut Airin ragu-ragu kemudian tertunduk.


Alexi mengkerutkan dahi. "Tanyakan saja, jangan membuat penasaran."


Airin menghela napas sejenak, sebelum memberanikan diri untuk kembali mengangkat wajahnya. "Ehmm, apa kamu sudah memiliki istri?"


Alexi tersenyum tipis. "Iya, sudah."


Airin membolakan matanya, berbagai pikiran buruk tiba-tiba datang menyerangnya, dan ia tidak ingin semua itu terjadi.


"Mas, semua ini nggak benar. Aku nggak mau istri kamu datang melabrak aku, terus aku dicakar, dijambak, dan sebagainya. Aku tahu pernikahan ini memang salahnya aku, makanya lebih baik kita akhiri saja, sebelum semuanya menjadi semakin rumit," ujar Airin.


Satu lagi yang Airin takutkan, kebersamaan, komunikasi yang intens, lambat laun pasti akan menghadirkan perasaan memiliki di hatinya. Jelas Airin tidak mau itu terjadi, dia tidak ingin merebut sesuatu yang telah dimiliki orang lain.


Melihat raut wajah Airin yang bingung bercampur khawatir, Alexi pun terkekeh jahil. "Ya sudah sana bercermin. Labrak bayanganmu sendiri, atau mungkin kamu bisa menjambak, atau mencakar dirimu sendiri."


Airin mendelik. "Mas, jangan bercanda."


"Siapa yang bercanda, Airin. Kamu bertanya apakah saya sudah memiliki istri, tentu saja jawaban saya sudah, dan kita berdua tahu itu."


Airin mendesahkan napas berat. "Mas, jangan berbelit-belit, aku nggak sedang bercanda. Aku tanya, apakah kamu sudah memiliki istri sebelum menikahi aku tadi malam?"


"Heh, tadi pertanyaanmu bukan seperti itu. Semalam adalah pernikahan pertama bagiku," jawab Alexi serius.


Airin menghela napas lega, dia berharap apa yang diucapkan Alexi bukanlah kebohongan. Meski begitu, Airin juga tidak akan membiarkan dirinya berharap lebih pada pernikahan ini.


Dia cukup sadar diri akan statusnya, seorang janda yang dinikahi karena terpaksa oleh keadaan. Terlalu konyol baginya menginginkan Alexi untuk ia miliki seutuhnya.


Alexi mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet dan meletakannya di atas meja. "Uang untuk belanja hari ini."


"Itu tidak perlu, Mas. Aku masih punya uang," tolak Airin cepat.

__ADS_1


"Sekarang saya bertanggung jawab untuk menafkahimu. Dan saya rasa untuk beberapa hari ini kamu tidak perlu ke warung, karena pastinya masih terlalu banyak omongan miring dari orang-orang tentangmu," ujar Alexi seraya berdiri dari tempat duduknya.


Airin terdiam, tanggung jawab? Nafkah? Apa itu berarti Alexi menganggap serius pernikahan ini?


'Ah, jangan konyol, Airin ... sadar, Airin, sadar! Kamu itu janda, jangan seperti pungguk merindukan bulan, mas Alvin itu terlalu tampan untukmu, dia juga masih muda, dan punya karir yang bagus, pria sepertinya tidak mungkin memilihmu sebagai teman hidupnya." Airin bermonolog di tengah rasa tidak percaya diri yang menyerangnya.


"Saya berangkat kerja dulu," pamit Alexi yang langsung bergerak menuju pintu keluar.


Airin pun bergegas untuk mengejar Alexi. "Mas, tunggu sebentar," panggilnya.


Alexi menghentikan langkah lalu memutar hadap. "Ada apa lagi?"


"Ehhmm ...." Airin tidak melanjutkan perkataannya, tapi tangannya terulur meraih tangan Alexi, lalu menunduk untuk mencium punggung tangan suaminya itu.


Alexi tersenyum tipis, merasakan ada sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya.


"Satu lagi, Mas. Kan warung aku nggak buka, dan aku juga nggak sempat nyiapin bekal buat kamu. Jadi kamu makan siang di rumah aja ya, nanti aku siapin."


Alexi mengangguk. "Iya aku akan pulang saat jam istirahat nanti, aku pamit dulu."


"Huh, seperti suami istri sungguhan saja." Airin tertawa hambar.


Dia mulai membereskan perabotan yang mereka gunakan untuk sarapan tadi, tiba-tiba mata Airin terkunci pada uang yang Alexi tinggalkan di atas meja.


Airin mengambil uang tersebut, lalu kepalanya menggeleng setelah menghitung jumlahnya.


"Satu juta, dan dia bilang untuk belanja hari ini?" Airin tidak habis pikir.


Setelah membereskan meja makan, Airin pun pergi ke kamar yang ditempati Alexi, dia mengambil pakaian kotor suaminya itu, kemudian mencucinya.


***


Di proyek, Alexi sedang berkeliling melaksanakan tugasnya sebagai mandor. Ketika Galang mengendap-endap dari pekerja lain, dan mengajak Alexi untuk bicara empat mata.


"Tu-tuan, saya minta maaf atas kejadian semalam. Seharusnya Tuan tidak datang, dan membuat diri Anda sendiri terjebak untuk menikahi Airin, sebenarnya saya sendiri tidak berniat buruk pada Airin. Dia mantan istri saya, jadi mana mungkin saya berniat buruk padanya." Galang mencoba menjelaskan dengan hati-hati.

__ADS_1


"Ciih ... tidak berniat buruk bagaimana maksud kamu?" tanya Alexi dengan aura dingin yang mulai menyelimuti wajahnya.


"Begini, Tuan. Saya ingin rujuk dengan Airin, tapi dia menolak saya. Jadi saya sengaja melakukan perbuatan semalam, agar kami ditangkap warga kemudian dinikahkan kembali. Tapi sayangnya Anda terlebih dulu datang, dan membuat rencana saya menjadi gagal."


Alexi mengetatkan rahangnya. "Jadi kau ingin menyalahkanku atas kejadian tadi malam?"


"Bu-bukan ... maksud saya begini, Tuan. Saya ingin kembali dengan Airin, hanya itu saja. Anda bisa menalaknya setelah ini, Anda tidak perlu terjebak dalam masalah ini, dan membuat Anda harus menikahi janda," terang Galang.


"Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu pada Airin. Sekarang dia sudah menjadi istriku, jadi mulai saat ini jangan ganggu dia lagi, atau aku akan membuat perhitungan denganmu!" ancam Alexi.


"Ta-tapi, Tuan. Anda tidak mungkin menginginkan seorang janda untuk menjadi istri, bukan? Saya bisa memberikan Anda gadis yang masih suci sebagai gantinya," ujar Galang yang tidak ingin menyerah.


Hal ini membuat Alexi semakin kesal, kini tangannya terulur untuk mencengkram kedua bahu Galang.


"Apanya yang tidak mungkin? Sedangkan kau saja sangat ingin kembali padanya! Aku tegaskan, aku tidak akan membiarkan Airin hidup menderita, dengan melepaskannya untuk kembali pada pria sepertimu, kau dengar?"


"Satu lagi, aku tidak suka apa yang telah menjadi milikku ingin direbut orang lain. Jadi jauhi Airin, jika kau tidak ingin aku membuat hidupmu sengsara!"


"Jangan, Tuan. Jangan lakukan itu, saya minta maaf." Galang memohon.


"Kalau begitu jangan membuatku marah, aku bisa berubah pikiran dengan memutus kerja sama, termasuk melayangkan gugatan atas kecurangan yang dilakukan perusahanmu. Harusnya kau bersukur, karena aku masih berbaik hati memberimu kesempatan untuk memperbaiki kinerjamu!" ujar Alexi penuh penekanan.


"Ba-baik, Tuan. Saya berjanji tidak menggangu Airin, tolong jangan putus kerja sama kita," balas Galang dengan suara gemetar.


Alexi menarik sudut bibirnya, kemudian berlalu meninggalkan Galang.


"Sial, mengapa aku harus berurusan dengannya!" Galang mengumpat kesal sambil memandang punggung Alexi.


Galang mendesah berat. Alexi, dia sadar pria itu bukanlah orang bisa ia lawan. Bahkan mudah saja bagi Alexi untuk membuat hidupnya hidupnya jatuh ke titik terendah.


"Brengsek! Semua ini karena preman sialan itu terlambat datang, dia harus mengembalikan uang yang aku berikan!"


Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan Galang, merebut Airin dari Alexi adalah hal mustahil untuk ia lakukan. Kecuali Alexi sendiri yang melepaskannya!


Bersambung.

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya ya, jangan lupa tinggalkan like, dan komentar. Salam hangat @poel_story27


__ADS_2