
Pagi ini dihabiskan Airin untuk duduk di depan cermin rias, ditemani tim makeup artist profesional yang mendandaninya.
Bahagia sekali rasanya, memiliki suami yang baik, juga keluarga mertua yang menyayanginya tanpa memandang status dan masa lalu.
Untuk resepsi pernikahannya ini, Airin mengenakan kebaya putih berkerah lebar dengan payet bermotif bunga. Sangat pas mengikuti lekuk tubuhnya yang indah.
Rambutnya disanggul modren dengan model twisted ala-ala chignon, yang menumpuk di belakang kepalanya. Cantik, anggun, mempesona, itulah kesan yang pertama kali didapat orang ketika melihatnya.
Setelah acara berias selesai, Airin pun keluar dari kamar, dengan diapit oleh ipar kembarnya.
"Kakak ipar, kamu tanpa hiasan saja sudah sangat cantik. Apalagi didandani seperti ini, abang Lexi pasti semakin tergila-gila padamu!" ujar Adila yang sesekali menoleh ke samping dengan penuh rasa kagum.
"Benar, Kak. Kamu memang cantik banget!" Adiba yang ada di sebelah kanannya ikut memuji.
"Terimakasih, kalian juga cantik!" balas Airin dengan wajahnya merona merah.
Saat tiba bawah, Airin disambut oleh suami dan keluarga besarnya yang lain. Semuanya berkumpul di sini tanpa terkecuali.
Alexi yang tampak gagah dalam balutan tuxedo putihnya. Melangkah mendekat, lalu menyerahkan buket bunga lili nan indah kepada sang istri.
Airin menerimanya dengan sedikit gugup, rasanya ada yang aneh di sini. "Mas, apa kamu tidak salah pilih bunga?"
Alexi menggelengkan kepala dengan sangat yakin. "Tidak ada yang salah di sini, My Luvv!"
Airin tersenyum hambar, dia tidak mengerti maksud Alexi. Dia juga merasa tidak pantas diberi bunga lili, yang merupakan simbol kesucian cinta pertama tersebut.
Ini bukan yang pertama baginya, dia seorang janda!
Setelah ritual sungkem dan acara adat lainnya yang hanya dihadiri keluarga besar saja. Mereka pun dibawa ke tempat resepsi diadakan.
Tempatnya di halaman belakang yang luas di sisi kolam renang. Semuanya sudah dihias begitu indah, bertemakan garden party.
Airin membuang napas berat, saat melihat para tamu yang sudah sangat ramai. Sepertinya resepsi kali ini akan jauh lebih melelahkan daripada pernikahannya yang sebelumnya.
***
Mata ibu tiri Airin terbelalak, saat mobil yang dikemudikan Galang berbelok memasuki memasuki sebuah gerbang besar berukiran rumit.
Rasa iri di hatinya semakin menjadi, setelah melihat megahnya rumah keluarga Rahadi yang berdesain ala romawi, ditopang pilar-pilar besar yang berdiri angkuh di depannya.
Untuk mencapai tempat resepsi yang berada di halaman belakang. Para tamu akan melewati lorong khusus di samping rumah, yang beralaskan permadani merah, bertabur bermacam-macam bunga.
__ADS_1
"Frita, lihat deh. Kok bisa ya Airin dapat suami sekaya ini, pake pelet apa sih dia?" bisik mama Reni di telinga putrinya.
"Ya mana aku tahu, ma," balas Frita dengan nada jutek. Bahkan hanya dengan mengetahui siapa suami baru Airin saja, sudah membuat hatinya kesal.
"Si Galang sih nggak ada apa-apa dibanding ini. Kamu sih, buru-buru banget mau nikah resmi sama Galang!" celutuk mama Reni lagi tanpa tahu malu, padahal menantunya itu masih berada tak jauh darinya.
Frita mendelik. "Kan Mama sendiri yang nyuruh cepat-cepat. Kenapa malah nyalahin aku?" sungut Frita.
"Iya juga sih, tapi harusnya kamu itu pintaran dikit dong. Masa kalah mulu sama Airin." Mama Reni akhirnya hanya kesal sendiri.
Frita memutar bola matanya, jangankan untuk mendepat pria seperti Alexi. Mendapatkan Galang saja dia harus bersusah payah.
Di antara ketiga orang itu, Galang lah yang paling merasa sesak. Apalagi saat melihat mantan istrinya tampil cantik di pelaminan, sambil tersenyum ramah menyambut ucapan selamat dari para tamu.
Banyak penyesalan yang ia rasakan. Ia salah, ternyata dari segala hal, Airin jauh lebih baik dibanding Frita. Selama empat tahun bersama Airin, wanita itu selalu berusaha menjadi istri yang baik dan penurut.
Berbeda sekali dengan Frita yang sering membangkang, dan tidak mau mengurusi kebutuhan dirinya.
Kalau saja saat ini Frita tidak sedang mengandung anaknya, sudah sejak lama ia menceraikan wanita tersebut.
Sayangnya, semua itu tinggallah penyesalan. Hampir mustahil bagi Galang untuk mendapatkan Airin kembali. Karena Airin sudah bahagia dengan suami barunya.
***
Setiap tamu yang datang, harus menyerahkan kartu kepada security yang berjaga di depan, sebagai bukti tamu undangan.
Dari sekian banyak tamu, hanya Sarah sendiri yang datang menggunakan taksi. Membuatnya mandapatkan tatapan sinis dari undangan lainnya.
Namun, Sarah tidak menghiraukannya. Dia hanya melangkah lurus mendekati security, untuk memberikan kartu undangan.
Memiliki kartu udangan khusus, membuat Sarah langsung mendapat pelayanan utama.
"Duluan ya, Mbak!" ujar Sarah pada wanita yang menatap sinis tadi, seraya menaiki buggy car.
Sedangkan wanita tersebut hanya memandang dengan sorot mata keheranan, lalu berbisik-bisik keki dengan temannya yang lain.
Sama seperti orang yang baru pertama kali datang ke rumah ini. Sarah juga terkagum-kagum melihat bangunannya.
'Beruntung banget ya, Airin,' gumam Sarah seraya berjalan melewati lorong ke halaman belakang.
Saat tiba di tempat acara, ia langsung disambut senyuman sumringah dari Airin.
__ADS_1
"Selamat ya Airin!" Sarah memeluk sahabatnya itu, sebelum bergantian memberi selamat pada Alexi.
"Makasih ya, Sar," tutur Airin, "Eh, tante nggak ikut?" lanjutnya bertanya tentang ibu Sarah.
"Nggak sempat, soalnya mama mau pergi jenguk kerabatnya yang lagi sakit. Tadi mama titip salam aja buat kamu!" ujar Sarah.
"Oh, nggak apa-apa kok," balas Airin. "Kamu cicipin makanannya gih, enak-enak. Aku tinggal dulu ya, masih harus ketemu tamu yang lain, rame banget soalnya, tapi kamu jangan pulang dulu!"
Sarah mengangguk. "Ya udah, sana gih."
Setelah Airin pergi, Sarah pun mendekati meja hidangan. Semua makanan yang tersaji di sini lezat-lezat, dan itu membuat Sarah bingung sendiri harus memilih yang mana.
Akhirnya ia hanya mengambil segelas minuman untuk membasahi kerongkongan. Makannya nanti saja, pikir Sarah.
"Apa kau sengaja ingin memberi kejutan untukku, Sayang?" Suara tak asing itu datang, diiringi tangan lancang yang lansung melingkar dipinggang Sarah.
Sontak saja tubuh gadis itu membeku, ia menoleh ke samping dan tampak lah seringaian sosok senior menyebalkannya yang dekat, sangat dekat dengan wajahnya.
"Le-leo, sedang apa kau di sini?" tanya Sarah tergagu.
Bersamaan dengan itu dia menepis tangan lancang Adelio dari pinggangnya. Namun, telapak tangan itu seperti milik Peter Parker, yang begitu rekat menempel di pinggangnya.
"Tentu saja aku di sini. Ini resepsi pernikahan kakak sulungku. Aku beberapa kali memintamu untuk datang, tapi selalu kau tolak. Apa kedatanganmu sekarang, adalah sebuah bentuk surprise untukku?" Adelio menaik-turunkan alis matanya.
"Cih, siapa juga yang ingin memberimu kejutan!" ketus Sarah sambil memutar bola matanya, "Aku kemari bukan karena kamu!" Ia menambahkan.
Saat Sarah mengembalikan gelas minumannya ke atas meja. Adelio menariknya menuju kumpulan para tetua, yang berada di salah satu sudut tempat acara.
Sarah masih belum mengerti apa tujuan Adelio, kini mereka sudah berdiri tepat di depan Daddy Almeer dan Mommy Riana.
Detik kemudian mulut Adelio pun terbuka, untuk mengatakan, "Mom, Dad, kenalkan, ini Sarah, calon istriku!"
Sontak saja pengakuan konyol itu membuat mata Sarah hendak melompat keluar. Seketika itu juga ia merentangkan kedua telapak tangan di depan dada, dengan gerakan mengibas ke kiri dan ke kanan.
"Bu-bukan!" seru Sarah dengan suara panik.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, ya.
Terimakasih masih mengikuti kelanjutan cerita ini.
__ADS_1