Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Kebersamaan Dengan Calon Mertua


__ADS_3

Sarah tidak tahu menjadi kekasih seorang playboy cap biawak seperti Adelio adalah keberuntungan atau kerugian.


Tapi yang jelas. Siapa pun gadis itu, dia pasti bisa mendapatkan barang apa pun yang dia inginkan.


Seperti saat ini, Sarah memilihkan begitu banyak barang branded berharga selangit untuk kekasih pria tersebut.


Bahkan banyak dari yang ia pilihkan adalah barang-barang dambaannya, tapi Sarah cukup sadar diri untuk tidak bermimpi memiliki barang-barang mewah seperti itu.


Mereka berpindah dari satu butik ke butik lainnya. Adelio tidak pernah protes setiap kali Sarah mengambil barang termahal, ia terlihat mendukung apapun yang Sarah pilihkan.


Yang lebih mencengangkan lagi, dari setiap butik tempat mereka belanja selalu ada pramuniaga yang diutus untuk membawakan barang-barang tersebut.


Sarah tidak tahu entah member tingkat apa yang dimiliki Adelio, sehingga mendapatkan pelayan khusus seperti itu.


Mereka pergi meninggalkan mall, setelah setelah selesai belanja.


Adelio melajukan mobilnya ke rumah keluarga Rahadi.


Sarah sesekali melirik kesal ke arah Adelio, saat ini pria menyebalkan itu diam saja tanpa banyak bicara.


Sarah hanya bisa mendengus, jangankan membelikan sehelai pakaian sebagai ungkapan terimakasih telah membantunya, ucapan terimakasih itu sendiri pun tidak lolos dari mulut dari Adelio.


Bukannya Sarah terlalu berharap akan mendapatkan barang gratis, tapi tidak ada gadis yang tidak menginginkan baju baru, tas baru, sepatu baru, ya kan!


Bahkan yang lebih buruk lagi Adelio tidak mengajaknya untuk makan, pada saat ini perut Sarah sudah mulai terasa lapar. Ia memang belum makan apa-apa hari ini, selain sarapan di kantin tadi pagi.


Tanpa terasa mereka pun tiba di rumah Adelio. Di sana Airin yang sedang bersantai di keluarga bersama mertua perempuannya langsung berdiri ketika melihat kedatangan Sarah.


Airin tampak sumringah, ia langsung menghampiri sahabatnya tersebut.


"Sar, kok nggak ngasih tau dulu mau datang, sengaja mau ngasih aku kejutan, ya!" seru Airin seraya menghambur memeluk Sarah.


"Hah?" Sarah tercengang karena reaksi dari Airin, ia lantas mengurai pelukan tersebut. "Bukannya kata Leo kamu yang minta aku buat datang?"


Airin menoleh ke arah si adik ipar, tepat saat itu juga Adelio mengedipkan sebelah matanya. Dan Airin pun langsung paham apa yang sedang terjadi.


"Eh, iya, maaf ... aku lupa. Aku memang nyuruh Leo buat bawa kamu ke sini. Mungkin bawaan hamil kali ya, jadi gampang pikun," ujar Airin sambil menyeringai lebar.


Sarah merotasi bola matanya saat mendengar alasan tidak logis dari Airin. Sejak kapan pula kehamilan bisa menyebabkan kepikunan?


Saat ini Sarah dapat menangkap ada persekongkolan yang miss komunikasi, antara kakak dan adik ipar itu.


"Eh, itu apa?" Airin sengaja mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk paper bag di tangan Sarah.

__ADS_1


"Oh, ini kado pernikahan kamu dari Leo. Katanya pas resepsi kemarin dia belum sempat ngasih kado." Sarah menyerahkan paper bag tersebut.


"Oh." Airin hanya mengangguk sembari menerima hadiah yang dibawa Sarah.


Kali ini Airin mengikuti alur saja, ia menebak pasti ada alasan tersendiri bagi Adelio mengatakan belum memberi hadiah.


Padahal ia dan Alexi sudah mendapatkan sebuah villa mewah di puncak, sebagai hadiah pernikahan. Yang dibeli keempat adik iparnya dengan cara berpatungan.


"Ehmm, kalian ngobrol aja ya. Aku mau ke kamar dulu," pamit Adelio.


"Iya, termikasih ya Leo," sahut Airin.


"Sama-sama, Kak."


Adelio lantas pergi menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Sedangkan Airin dan Sarah menuju ruang keluarga, di sana juga ada mommy Riana.


"Selamat sore, Tante," sapa Sarah sambil tersenyum ramah.


"Sore juga, Nak. Apa kabar kamu?" Mommy Riana berdiri lantas mengecup pipi kiri dan kanan Sarah.


"Kabarku baik, Tante," jawab Sarah.


Krucuk ... krucuk!


'Aarrgghh! Memalukan! Kenapa harus bunyi di saat seperti ini sih!' jerit Sarah dalam hati.


"Kamu belum makan?" tanya Mommy Riana.


"Hehe ... iya, Tante," jawab Sarah kikuk.


"Waah ... keterlaluan si Leo, anak gadis orang dibawa pergi tapi nggak dikasih makan," gerutu Mommy Riana sambil mengelengkan kepala.


"Makan di sini ya, tapi kita masuk dulu," ajak Mommy Riana dan Sarah mengangguk.


Sejak memiliki Airin sebagai menantu, Riana selalu bersamangat menghabiskan waktunya di dapur.


Semua itu karena Airin sangat pandai membuat makanan enak. Mulai dari lauk-pauk sampai kue-kuean tradisional.


"Sarah juga pintar masak lho, Bun," celutuk Airin.


"Benarkah?" Riana menatap gadis incaran anaknya itu dengan pandangan berbinar.


"Masih pintaran Airin kok, Tante," sahut Sarah tersipu.

__ADS_1


Dalam hal memasak Sarah memang kalah dibanding Airin, terlebih sahabatnya itu pernah kuliah di jurusan tata boga, meskipun tidak sampai selesai.


Lalu ketiga wanita itu beranjak ke dapur. Sarah yang baru pertama kali memasuki dapur ini dibuat ternganga melihat dapur yang super luas, dilengkapi dengan kitchen yang berisi berbagai peralatan memasak yang menutupi hampir seluruh bagian dindingnya.


'Ini mah surganya Airin,' Airin gumam Sarah dalam hati.


Mereka lantas mulai membuat hidangan, ternyata memasak di rumah orang kaya sungguh berbeda yang biasa Sarah lakukan di rumahnya.


Di sini semua bahan-bahan mentah dikerjakan oleh pelayan. Mereka hanya perlu memberi petunjuk, sebelum meracik sendiri masakannya di atas kompor.


"Pantesan kamu betah di sini, orang dapurnya begini," kata Sarah pada Airin.


"Tetap bosan juga sih kalau di rumah terus, makanya aku sama Bunda sesekali keluar jalan-jalan. Aku juga punya rencana mau buat restoran sama Bunda, tapi nggak dibolehin sama Alexi. Katanya tunggu aku lahiran dulu," sahut Airin.


"Tahu tuh, suaminya Airin over protektif. Padahal sudah dijelasin dokter kalau kandungannya sehat, dan dibolehin untuk beraktivitas normal," timpal Mommy Riana.


"Waah ... pasti seru banget dong, Tante. Kalau nanti restorannya udah jadi," balas Sarah.


"Makanya kamu nikah sama Leo, biar nanti kita ngurus restorannya bareng-bareng. Aku yang ngurus dapur, kamu ngurus managemen," bisik Airin yang membuat tubuh Sarah seketika menegang.


"Kamu jangan ngaco deh," sungut Sarah pelan, dan Airin hanya terkekeh geli.


Tanpa disadari oleh mereka. Mommy Riana berjalan menjauh, sejurus kemudian terdengar jerit kesakitan yang membuat Airin dan Sarah langsung menoleh.


"Awwhh, Mom ... sakit!" pekik Adelio sambil memegangi kupingnya terkena jeweran.


Airin dan Sarah yang melihat itu pun sontak menutup mulut menahan tawa.


"Ngapain kamu ngintip orang masak?"


"Laper, Mom. Hehe ...."


"Kamu juga ngebiarin Sarah kelaparan, kan!" suntuk Mommy Riana.


"Lupa," jawab Adelio seolah tak berdosa.


"Ya sudah, tunggu di meja makan sana, sebentar lagi makanannya mateng," usir Mommy Riana.


'Dasar pengacau,' rutuk Adelio dalam hati.


Sambil menghela napas berat, mau tidak mau Adelio harus pergi meninggalkan sudut tempatnya mengintip. Padahal ia sedang senang-senangnya memperhatikan Sarah.


Bersambung.

__ADS_1


Salam hangat @poel_story27, terimakasih sudah membaca.


__ADS_2