Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Direngut Orang Lain


__ADS_3

Mengenang kisah kelam pada saat resepsinya itu, membuat Airin kesulitan untuk berkata-kata.


Sudah berlalu lebih dari empat tahun, tapi ingatan kelam itu masih tidak bisa hilang dari ingatannya. Bagaimana tidak, kejadian itulah yang membuat Dirinya harus menjalani neraka pernikahan selama bertahun-tahun.


"Memangnya apa yang terjadi sampai membuatmu setakut ini?" tanya Alexi keheranan.


Airin menghela napas berat, sebelum akhirnya membuka mulut untuk mulai bercerita.


Flash back: On.


Hari itu Airin tampil cantik dalam balutan kebaya pernikahannya. Memang, pernikahan ini adalah perjodohan. Namun, Airin menerimanya dengan hati ikhlas.


Dia memiliki hutang budi pada keluarga Galang, itu yang pertama. Kedua, ia percaya orang tua Galang mengatur perjodohan ini, agar bisa melindungi dirinya dari orang-orang jahat, termasuk ibu tirinya.


Airin sudah mempersiapkan mentalnya untuk menjadi seorang istri, meski saat itu ia masih berusia sembilan belas tahun. Ia harus merelakan masa muda, juga pendidikan yang baru dua smester ia jalani.


Resepsi pernikahan mereka pun berlangsung mewah, diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima.


Nasib Airin yang tampak sangat beruntung ini, membuat ibu tirinya sangat iri. Sebelumnya ia sudah berusaha mengagalkan pernikahan ini, tapi tidak berhasil.


Ia ingin agar Frita saja yang dijodohkan dengan Galang!


Tentu saja ditolak mentah-mentah oleh orang tua Galang, meraka hanya ingin anak kandung dari sahabatnya yang dijodohkan dengan putranya.


Pesta pernikahan ini sangat meriah, acaranya berlangsung sampai malam hari. Semua tamu yang datang adalah kalangan atas, yang merupakan kerabat serta kolega bisnis keluarga Galang.


Airin hanyalah gadis biasa, ia tidak pernah hidup glamour ala-ala orang kaya. Minuman mengandung alkohol pun adalah hal yang sangat tabu baginya.


Ini adalah pesta pernikahan yang mengusung tema kebaratan. Mau tidak mau, suka tidak suka, Airin harus harus berbaur, bersulang minuman sebagai perayaan.


Akhirnya pesta pernikahan tersebut sudah sampai di penghujung acara. Kini yang tersisa hanyalah teman-teman dekat Galang saja.


"Sepertinya cukup, aku dan istriku harus kembali ke kamar." Galang meletakkan gelas winenya yang sudah kosong, lalu merangkulkan tangannya di bahu Airin.


"Hei, kau ini tidak sopan sekali, kami datang jauh-jauh dari luar negri hanya untuk menghadiri pestamu, tapi kau malah ingin meninggalkan kami?" cegah salah satu teman pria Galang.


"Cih, sepertinya kau benar-benar sudah tidak sabar ingin mendapatkan malam pertamamu?" cibir seorang wanita yang merupakan teman karib Galang.


"Hei, bukan begitu, aku sudah lelah!" racau Galang yang sudah mabuk berat.

__ADS_1


"Huh, alasan saja. Kalau begitu biarkan istrimu di sini untuk menemani kami, di mana rasa hormatmu ingin meninggalkan tamu begitu saja!"


"Aarrggh ... ya sudah. Airin, kau di sini dulu, temani mereka." Galang lantas berdiri, lalu berjalan sempoyongan menuju kamar pengantinnya.


Airin hanya bisa pasrah, dia tidak berani membantah. Terpaksa ia menemani teman-teman galang berpesta, untuk menikmati lebih banyak sampanye.


Wanita yang mencegah Galang membawa Airin tadi tersenyum puas. Setidaknya ia berhasil mengerjai Galang barang sebentar, mebuat temannya itu harus menunda malam pengantinnya.


Pesta itu baru berakhir saat malam sudah benar-benar larut. Teman-teman Galang kembali ke tempatnya masing-masing, di mana sudah tersedia kamar khusus untuk tamu yang datang dari luar negri.


Airin berjalan semponyongan dengan kondisi yang sudah mabuk berat. Memasuki lift untuk membawa dirinya ke lantai sembilan.


Kamar nomor 906, kamar bertipe presidential suite yang merupakan kamar pengantinnya.


Untung Airin berhasil sampai ke kamarnya. Entah karena acces cardnya yang berfungsi, atau memang pintu kamar itu yang tidak terkunci, Airin pun berhasil masuk.


Ruangan itu sangat gelap, hanya menyisakan lampu tidur saja.


"Kau sudah datang rupanya! Mengapa lama sekali?"


Pria yang sedang rebahan di atas ranjang itu bangkit, suaranya begitu maskulin. Meski dalam keadaan mabuk, Airin bisa membedakan itu bukan suara suaminya. Suara Galang bertipe berat, tapi kurang enak didengar.


Dalam tingkat kesadarannya, Airin tahu pria itu bukan Galang. Suaminya memiliki kumis yang kasar, dan rahang ditumbuhi janggut yang lumayan tebal.


Sementara pria yang bersamanya kini berwajah mulus, hanya ditumbuhi bulu-bulu halus pada bibir atasnya.


Akal sehat Airin ingin berhenti. Namun, ia kalah.


Tubuh dan pikirannya tidak sinkron, tubuhnya ingin sensasi ini terus berlanjut. Setiap sentuhan yang diberikan pria itu, mampu membuat hormon di dalam tubuhnya ingin meledak.


Airin juga menikmati saat pria itu merengut miliknya yang berharga. Perih yang ia rasakan diawal, tidaklah seberapa dibanding sensasi nikmat yang ia dapatkan. Apalagi ia juga sedang dalam pengaruh alkohol.


Perbuatan salah itu baru berkahir saat pria sialan tersebut tertidur lelap, setelah mengempurnya sampai tiga kali.


Sementara Airin sendiri, ia tidak ingat berapa kali pria itu berhasil mengantarnya menuju nirwana, yang jelas lebih dari yang pria itu dapatkan.


Pelan-pelan, Airin menyingkirkan tangan pria yang melingkar di perutnya. Ia turun dari ranjang, mencari kebayanya berselaparan di lantai, lalu bergegas keluar.


"Ya, Tuhan. Pantas saja!" Airin mendesah berat saat melihat angka di pintu kamar itu.

__ADS_1


Nomor 909, tapi mengapa tadi bisa dibuka dengan acces cardnya?


Airin menarik pintu itu rapat-rapat, dan pintu itu pun terkuci secara otomatis. Airin mencoba acces cardnya, tapi tidak berhasil!


Airin menggigit bibirnya kuat-kuat. Ternyata bukan karena acces cardnya, tapi pintu itu tadinya memang tidak terkunci!


Dengan persaan berkecamuk, Airin kembali ke kamar pengantinnya. Cemas, takut, bedosa, semua rasa itu bersatu-padu di kepalanya.


Tubuh Airin bergentar hebat, saat melihat Galang duduk di tepi ranjang. Menatapnya seperti singa buas yang siap mengamuk.


"Dari mana saja kau!" bentak Galang.


"Me-menenami teman-temanmu, Mas," jawab Airin tergagap.


"Menemani teman-temanku, huh?" Galang mengulang perkataan Airin. "Aku menyusul ke ballroom, sudah tidak orang di sana. Saat kuhubungi temanku, katanya kalian sudah kembali ke kamar masing-masing. Katakan dari mana saja kau selama tiga jam ini?" Galang membentak, terdapat kilatan amarah pada sorot matanya.


"A-aku tersesat saat mencari kamar kita."


Galang menggeleng kesal. "Dasar wanita kampungan. Bagaimana bisa kau tersesat di dalam sebuah gedung!" geramnya.


Sejurus itu Galang pun menyentak tubuhnya dengan kasar, menarik kebayanya hingga robek, lalu memasukinya seperti orang kesetanan.


Awalnya mata pria itu terpenjam, menikmati sensasi sempit, hangat, dan memabukkan di dalam sana. Tapi sejurus kemudian matanya terbuka, berkilatan murka mengetahui tidak adanya pembatas yang menghalangi lajunya.


Ia mengamuk, memaki, mengeluarkan seluruh isi kebun binatang. Meneruskan hasratnya dengan sangat kasar. Membuat Airin menangis pilu, yang ia dapatkan hanyalah rasa sakit, dan perih yang teramat.


Flash back: Off.


"Itulah mengapa sejak awal rumah tanggaku dengan galang tidak harmonis, Mas," lirih Airin dengan cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Alexi menghela napas berat, merasa prihatin dengan penderitaan Airin. "Apa kau membenci pria yang merengut kesucianmu itu?"


"Sangat, aku sangat membecinya. Karena dirinyalah hidupku menderita selama bertahun-tahun!" Mata Airin yang tadinya berkaca-kaca, kini tampak berkilatan menyimpan dendam.


Bersambung.


Jangan lupa like, komentar, dan hadiah seikhlasnya, ya. Hehe ....


Aku mau promosiin karya teman aku nih, judulnya "Kukira Cupu, Ternyata Suhu" karya author "Susanti 31" covernya seperti di bawah ini yaπŸ‘‡πŸΌπŸ‘‡πŸΌπŸ‘‡πŸΌ

__ADS_1



__ADS_2