
Melihat Sarah pergi, membuat Adelio menggertak kesal kepada tiga temannya. Jarang-jarang dia punya waktu untuk bisa mengobrol dengan Sarah. Kini saat waktu itu datang, malah dikacaukan oleh teman-temannya.
"Kalian ini maunya apa sih! Dasar kurang kerjaan!" seru Adelio kesal.
"Leo, kita ini datang buat nolongin kamu, biar nggak digoda sama gadis miskin itu!" balas Angel tanpa merasa bersalah.
Adelio berdecak, dia hendak mengejar Sarah, tapi langsung ditahan oleh Angel.
"Kamu mau ke mana? Mau ngejar cewek kampungan itu?"
Adelio menepis tangan Angel dari lengannya, lalu berkata dengan suara dingin, "Kalau iya kenapa?"
Angel menarik sudut bibirnya, menampakkan senyuman sinis. "Astaga, Leo ... dia itu nggak selevel sama kamu. Kayak nggak ada cewek lain aja. Emangnya kamu nggak malu sama teman-teman kita?"
Lagi-lagi yang dibanggakan adalah status sosial, dan hal inilah yang membuat Adelio tidak suka dengan gadis yang satu ini.
"Kamu dengar ya, Angel ... status sosial itu bukan segalanya. Dan asal kamu tahu, sifat kamu yang suka menghina orang seperti inilah yang membuat aku sama sekali nggak tertarik sama kamu!" tegas Adelio.
Setelah mengatakan itu Adelio lantas beranjak pergi, tanpa bisa ditahan lagi.
Angel dan teman-temannya terdiam, ini bukan kali pertama Adelio mengatakan hal-hal yang menyakiti hatinya.
Padahal selama ini dia sudah melakukan segalanya untuk mendapat hati Adelio, tapi tetap saja pemuda itu tidak pernah menganggap keberadaan dirinya.
Di koridor kampus, Adelio berhasil mengejar Sarah. "Sarah, tunggu sebentar," panggilnya.
"Mau apa lagi kamu?"
"Jangan diambil hati apa yang dikatakan Agel dan teman-temannya tadi," ujar Adelio sembari melangkah bersisian dengan gadis incarannya tersebut.
"Yang mereka katakan itu benar kok, kita emang beda level. Makanya kamu berhenti deketin aku, biar nggak malu-maluin di mata teman-teman kamu," balas Sarah tidak peduli.
Lagi pula, tadi itu bukan yang pertama Sarah dihina oleh Angel dan teman-temannya.
Sebelum ini mereka sering mencibir penampilan Sarah yang dinilai tidak layak.
Meski Sarah bisa berpenampilan modis, tapi tetap saja pakaian yang ia kenakan bukan barang bermerk. Seperti yang melekat pada tubuh anak-anak orang kaya seperti Angel.
__ADS_1
Bukan hanya itu, Angel juga mengingatkan Sarah agar berhenti mendekati Adelio.
Yang lebih menyebalkan, meski mulut Sarah sampai berbusa menjelaskan bahwa dia tidak pernah berniat mendekati Adelio, tetap mereka tidak percaya.
"Oh, ya ... aku lupa. Sebenarnya tadi itu aku ke meja kamu buat nyampein pesan Kak Airin. Aku disuruh bawa kamu ke rumah, dia rindu, katanya."
Sarah melirik Adelio dengan sorot mata menelisik. Meski sebenarnya enggan jika harus datang bersama Adelio, tapi tetap saja ia tidak enak hati jika harus menolak.
"Ya, sudah, nanti aku datang," jawab Sarah dengan suara malas.
"Kamu masih ada kelas?" tanya Adelio.
Sarah mengangguk. "Iya."
"Kalau gitu aku tunggu di kantin. Aku udah nggak ada kelas lagi."
"Nggak perlu, kamu pulang duluan aja. Nanti aku ke sana pakai taksi."
"Ya, nggak bisa gitu dong. Nanti kalau kamu ingkar, malah aku disalahin Kak Airin."
Sarah memutar bola matanya, jika bukan demi Airin, maka ia malas harus pergi bersama Adelio. "Ya, sudah tunggu aja. Awas jamuran!"
***
Hari ini Alexi pergi meninjau proyek, ia belum pernah turun ke lapangan lagi semenjak kembali di rumah.
Setibanya di proyek, Alexi langsung berkeliling. Kini semua orang di sini sudah tahu siapa Alexi, dan mereka yang dulu pernah bermasalah dengan Alexi sudah angkat kaki dari proyek ini.
Sebagai pemilik perusahan kontraktor, yang bertanggung jawab atas pembangunan proyek, tentu saja Galang ikut berkeliling dengan Alexi.
"Apa semuanya lancar-lancar saja?" tanya Alexi.
"Semuanya lancar, Tuan. Saya akan mengusahakan proyek ini selesai sebelum target waktu yang ditentukan," sahut Galang yakin.
Alexi menggangguk kepala. Setelah ia menyamar dan membongkar kecurangan perusahan milik Galang, proyek permbangunan ini sudah berjalan sesuai spesifikasi kontrak.
Sepertinya Galang sudah tidak berani lagi bermain api dengannya.
__ADS_1
Sekitar satu jam berkeliling, mereka pun singgah di sebuah warung untuk sekedar minum kopi.
Alexi sejak tadi memperhatikan wajah Galang yang tidak bersemangat, ia menjadi tidak bisa untuk tidak bertanya.
"Apa ada masalah?"
"Sedikit, Tuan. Masalah pribadi."
"Oh." Alexi tidak lanjut bertanya, karena baginya masalah pribadi bukanlah hal yang patut untuk dibahas.
Untuk sejenak mereka pun saling diam, menikmati kopi masing-masing yang sudah disediakan oleh pemilik warung.
Namun, Galang merasa ada yang benar-benar menganjal di hatinya, hingga ia pun tidak tahan untuk bertanya. "Tuan, apakah saat ini Airin benar-benar hamil?"
Alexi mengernyit, ia tidak mengerti arah pembicaraan Galang. "Maksudnya?"
"Bukan apa-apa, Tuan. Saya tidak bermaksud menuduh Anda berbohong. Hanya saja, mengetahui Airin sedang hamil membuat saya curiga dengan anak yang dikandung Frita. Hati kecil ini mengatakan bahwa anak itu bukan darah daging saya," kata Galang menjelaskan.
"Mengapa tidak dites DNA saja biar jelas? Jadi kau tidak perlu linglung seperti ini."
"Ya, saya pun berpikir seperti itu, Tuan. Tapi masih harus menunggu sampai anak itu lahir, sementara perasaan saya ini sudah tidak tenang," ujar Galang lalu membuang napas berat.
Alexi menggeleng lalu menepuk bahu Galang. "Astaga, kau ini ... mengapa kau tidak melakukan Amnio Paternity Test saja?"
"Apa itu, Tuan?" tanya Galang dengan dahi berkerut.
"Itu adalah tes DNA untuk janin yang masih dalam kandungan, kau tidak perlu menunggu sampai bayi itu lahir untuk mendapatkan sampel DNAnya." jelas Alexi.
"Benarkah?" Wajah Galang tampak berbinar, seolah mendapatkan angin surga.
"Iya."
Selama ini Galang memang tidak tahu dengan tes tersebut, mungkin karena ia belum memiliki anak.
Hanya saja sekarang Galang benar-benar bersemangat. Rasanya ia tidak sabar agar hari cepat berganti, dan membuktikan kebenaran tentang anak yang dikandung Frita.
Bila itu memang anaknya, maka dia akan sangat bersukur. Tapi bila bukan, dia berjanji akan memberi pembalasan Frita yang selama ini telah memperdayanya.
__ADS_1
Bersambung.