Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Pertama Kali Bertemu Mertua


__ADS_3

Alexi tersenyum tipis melihat istrinya yang tampak sangat gugup. Saat ini dia hanya ingin membawa Airin cepat masuk, agar istrinya itu membuktikan sendiri, bahwa ketakutannya sama sekali tidak akan terjadi.


"Jangan khawatir, ada aku di sini!" ujar Alexi sembari menyelip anak rambut Airin yang menutupi wajahnya.


Airin menoleh dengan wajah kaku. Sedangkan kakinya ikut gemetaran, karena tidak sanggup melawan rasa cemas yang menderanya.


Entahlah, saat ini dia hanya merasa rendah diri, dengan status yang ia miliki.


"Bagaimana kalau orang-tuamu tidak menyukaiku?" tanya Airin lirih, dan ini entah kali ke berapa ia mengulang pertanyaan itu.


"Kan sudah aku bilang, orang-tuaku pasti menerimamu dengan baik. Sekarang ayo kita turun, agar kamu bertemu dengan mommy dan daddy," ajak Alexi dengan nada sedikit memaksa, lalu menggandeng Airin turun dari mobil.


Airin baru menyadari bahwa sedari tadi ia menahan napas. Saat ini dia merasa benar-benar seperti upik abu yang hendak memasuki istana kerajaan.


Dia layaknya Cinderella yang berharap mendapatkan seorang pangeran. Padahal kenyataannya lebih dari itu, dia adalah wanita yang akan menjadi ratu dalam hidup sang pangeran tersebut.


Airin memandang takjub, padahal baru selangkah ia melewati pintu utama. Tidak ada yang ditangkap oleh netra matanya selain kesan mewah pada rumah ini, bahkan terlalu mewah. Langit-langitnya yang menjulang tinggi, dihiasi lampu gantung kristal berwana gold pada bagian tengahnya.


Wallpapernya juga berwarna gold, dihiasi oleh lukisan-lukisan mewah yang menggantung di sana. Tirainya ikut mengambil warna senada, terjuntai dengan glamournya menutupi setiap jendela. Ditambah dua set sofa dengan warna yang sama, dan guci-guci raksasa yang mengisi ruang tamu.


Semakin ke dalam, jantung Airin semakin berdebar-debar. Bahkan kakinya terlalu lemas untuk sekedar menahan bobot tubuhnya sendiri.


Saat mereka mendekati ruang keluarga. Airin tercenung melihat sebuah sofa mewah bergaya eropa klasik, dengan posisi menghadap pada sebuah televisi layar datar berukuran raksasa, yang nyaris menutupi satu sisi dinding lengkap dengan home theaternya.


Namun, bukan kemewahannya itu yang membuat Airin gugup, melainkan sepasang paruh baya yang ia yakini adalah orang tua Alexi tengah duduk di sana.


"Apa itu orang tua kamu?" bisik Airin tanpa bisa mengkondisikan nada suaranya yang gemetar.


Alexi menggangguk, ia lantas membawa Airin menghadap. Tatapan Riana yang langsung tertuju padanya, sontak membuat Airin menunduk takut.


"Malam, Mom, Dad," sapa Alexi terlebih dahulu, sebelum menyenggol bahu Airin agar istrinya itu juga mengucap salam.


Sedikit mengangkat kepalanya, Airin pun memberanikan diri menoleh sekilas pada kedua mertuanya.


"Selamat malam, Om, Tante."


Riana mengangguk sedikit.


"Silakan kalian duduk!" perintahnya.

__ADS_1


Mereka pun segera duduk di sofa yang ada di bagian samping, Airin meremas ujung baju kerena saking gugupnya.


"Jadi ini istriku kamu, Bang?" tanya Riana.


"Iya, Mom," sahut Alexi singkat.


"Ya sudah, ini sudah terlalu malam, kita bicarakan besok saja. Bawalah istrimu makan, kemudian ajak dia beristirhat," perintah Riana lagi.


"Baik, Mom." Alexi lantas mengajak Airin berdiri.


"Saya permisi dulu, Om, Tante," pamit Airin.


Riana hanya menoleh dengan tatapannya yang datar.


Airin tahu sorot mata itu menandakan tidak suka, ia hanya bisa menundukkan kepala. Lalu mereka pun segera menuju ruang makan.


Di sini ada sebuah meja panjang, lengkap dengan kursi yang bisa menampung selusin orang. Di tengah-tengahnya terdapat lilin-lilin besar, bertumpu pada candle holder yang terbuat dari bahan perak berlapis emas.


Dengan satu tepukan tangan dari Alexi, para pelayannya segera datang menghidangkan makanan.


'Benar-benar seperti raja,' pikir Airin.


Airin sampai bingung, bagaimana hidangan sebanyak itu harus disantap oleh dua orang saja.


Sudah lama sekali Airin tidak menikmati makanan mewah, layaknya di restoran bintan 5 seperti ini. Tapi bukannya bisa menyantap hidangannya dengan lahap, Airin masih memikirkan tatapan Riana padanya tadi, hal itu membuat kepercayaan dirinya semakin runtuh.


Setelah selesai makan, Alexi pun membawa Airin ke kamarnya. Saat melangkah masuk, Airin mendapati sebuah ruangan besar, yang nyaris seukuran rumahnya.


Interiornya didominasi oleh warna abu-abu, tampak kental dengan kesan manly. Ada ruang bersantai, hingga mini bar di salah satu sudutnya.


"Ini kamar kamu, Mas?" tanya Airin dengan raut wajahnya masih terkagum-kagum.


"Kamar kita!" Alexi menegaskan. "Ehmm, apa kamu tidak suka? Kalau kamu tidak nyaman, kita bisa mendekor ulang sesuai keinginanmu."


Airin mengelengkan kepalanya. "Ti-tidak, Mas. Bukan itu yang aku pikirkan."


Alexi lantas membawa istrinya menuju ruang tidur utama, di sana terdapat ranjang berukuran king size, seolah sedang menanti siapa pun yang melihat untuk mencoba kenyamanannya.


"Itu tempat tidur kita. Sekarang waktunya kita istirahat, besok aku akan menemanimu melanjutkan tour rumah ini. Atau mungkin Diba dan Dila yang menemanimu!" ujar Alexi.

__ADS_1


Airin mengkerutkan dahinya. "Diba dan Dila, siapa mereka?"


"Adik kembarku, dua perempuan, satu laki-laki. Yang laki-laki namanya Adelio, yang perempuan namanya Adiba dan Adila, mereka masih kuliah. Lalu ada si bungsu Arsenio yang masih sekolah menengah. Kami semua lima bersaudara," terang Alexi.


Airin mengangguk paham. "Lalu ke mana mereka tadi?"


"Sudah di kamar masing-masing pastinya. Mommy dan daddy sengaja belum tidur karena menunggu kita," jawab Alexi, dan sekali lagi Airin menganggukkan kepala.


"Ya sudah, sebaiknya kita bersih-bersih, terus tidur. Karena besok pastinya mommy akan mengintrogasi kamu," ujar Alexi sambil terkekeh jahil.


Mendengar perkataan suaminya itu membuat tubuh Airin kembali membeku. Sorot mata Riana yang menatapnya tidak suka, masih melayang di pikirannya.


"Mas, sepertinya ibumu tidak menyukaiku," ujar Airin khawatir.


"Dari mana kamu menyimpulkannya?"


"Aku melihat sorot matanya. Aku yakin sekali feelingku tidak salah."


Alexi terkekeh sembari mengusap puncak kepala istrinya. "Bagaimana mommy tidak menatap kesal padamu, kamu sendiri memanggil mertuamu tante."


"Apa benar karena itu?"


"Iya, kamu tidak perlu mengkhawatirkan mommy, dia pasti menyukaimu," ujar Alexi yang cukup untuk membuat sedikit bernapas lega saat ini.


Airin naik ke atas ranjang setelah membersihkan diri. Ia melihat Alexi mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Sementara ia sendiri masih mengenakan pakaian yang tadi, karena tidak memiliki pakaian ganti.


"Mas, apa tidak ada baju tidur untukku?"


"Belum, besok kita akan pergi membeli pakaian untukmu!" sahut Alexi santai.


"Huh!" Airin mendengkus kesal. "Perlunya malam ini masa belinya besok. Kalau tahu begini, lebih aku satu atau dua pakaian dari rumah."


Alexi terkekeh jahil, lalu naik ke atas ranjang. "Lebih bagus untukmu tidur tanpa busana malam ini, Sayang!"


Bola mata Airin melotot kesal. "Itu sih maumu!"


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, ya. Vote dan hadiah seiklasnya, hehe ....

__ADS_1


__ADS_2