
Tiga hari kemudian.
Merasa perutnya keroncongan, Sarah pun mampir ke sebuah warung sehabis pulang kerja.
"Mang, Baksonya satu, ya," pesannya.
"Oh, iya, Neng. Silakan duduk dulu," sahut pedagang bakso tersebut.
Sarah pun pergi ke salah satu meja, dia menunggu pesanannya datang sambil bermain ponsel.
Warung bakso ini agak sepi pengunjung, hanya ada tiga orang pria di meja paling sudut, mereka mengobrol sambil menyantap hidangannya.
"Sialan banget tuh si Galang!" umpat salah satu dari mereka.
"Makanya gue ngajakin lu pada buat malakin dia. Coba lu pikir, gue udah capek-capek ngumpulin warga buat nangkap basah si Airin. Eh, duit yang udah dikasih malah diminta balik, pake bawa-bawa anak buah dari proyek lagi. Ya ... gue jadi nggak bisa ngelawan dong," balas temannya.
"Emang gimana ceritanya sampe itu duit diminta balik?"
"Gini, si Galang kan pengen rujuk sama Airin, tapi si Airinnya nggak mau. Jadi dia kasih gue duit, buat bantu jalanin rencananya dia. Gue disuruh ngumpulin warga, buat nangkap basah dia lagi mesum sama Airin, biar mereka dinikahin balik. Nah, pas dia lagi maksa Airin buat mesum ... jleb, tiba-tiba ada yang datang buat bantuin si Airin, si Galangnya dipukulin, dia nggak berani ngelawan, trus kabur!"
"Pas, itu laki lagi nenangin Airin. Gue datang datang bawa warga, pak RT, segala macem. Jadinya malah itu laki yang dinikahin sama Airin. Ya, dasar Galangnya aja yang apes, nggak ada jodoh buat balikan sama jandanya. Eh, besoknya dia marah-marah, nyalahin gue karena telat dateng, emangnya dia pikir ngumpulin warga itu gampang apa!? Dia minta balik dah tu duit, kalo gue nggak mau balikin, gue bakal dibonyokin sama anak buahnya dia!"
"Waah ... kelewatan sih kalo gitu, ngeremehin kita penduduk pribumi namanya!"
"Nggak bener ini mah, harus diberi pelajaran biar kapok. Walaupun dia kaya, tapi dia tetep pendatang di sini. Jangan sampe harga diri kita diinjek-injek!"
"Lha, makanya gue ngajak lu pada buat malakin si Galang, nggak terima gue."
"Oke deh, gue setuju. Kita palakin dia pas lagi sendiri, kita bonyokin dah!"
"Kabarnya besok dia bakal pulang, kita cegat aja di jalan, baru kita hajar!"
"Ehmm, begitu ceritanya," gumam Sarah yang sejak tadi menguping pembicaraan ketiga orang itu.
Setelah menghabiskan satu mangkuk baksonya. Sarah pun beranjak pulang ke rumah.
Keesokan hari sembari berangkat kerja, Sarah pun mampir ke warung Airin. Dia langsung masuk, lantas memeluk sahabatnya itu.
"Airin, aku minta maaf, ya ... aku udah salah paham sama kamu," lirih Sarah sambil mendekap erat sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya, tenang. Aku nggak pernah marah kok sama kamu." Airin mengusap punggung sarah, sebelum mengurai pelukannya. "Kamu duduk dulu, aku ambilin minum."
Airin lantas mengambilkan minum, sebelum duduk di samping sarah.
"Aku udah tahu semuanya, Rin. Kamu nggak salah, aku yang salah paham. Kemarin aku dengar preman bayaran Galang, yang dia suruh buat nangkap basah kamu lagi ngobrol," ujar Sarah.
"Eh, bentar, bentar! Preman bayarannya Galang? Maksudnya gimana?" tanya Airin bingung.
"Malam itu Galang maksa kamu buat layanin dia, kan? Sebelum si Alvin datang?"
"Iya."
"Sebenarnya Galang pengen ditangkap basah warga lagi begituan sama kamu, supaya kalian bisa rujuk. Terus dia bayar preman buat ngomporin warga, tapi sebelum warga datang, Alvin datang duluan, jadi rencananya gagal. Kemarin aku dengar preman itu cerita, kalau Galang minta kembaliin uangnya, dia kesal karena preman itu datangnya telat. Dan sekarang preman itu mau balas dendam sama Galang," jelas Sarah.
"Ehhmm, kasihan juga Galang, kalau sampai dikeroyok preman," lirih Airin.
"Hah? Kamu masih kasihan sama dia! Ingat, Airin ... kamu itu hampir dirudapaksa sama dia! Jangan bilang kamu memang masih ada rasa sama dia, terus masih ada niat untuk balikan juga!" geram Sarah kesal.
"Ya enggak, lah! Dari dulu juga aku nggak pernah ada rasa sama dia!" sahut Airin memanyunkan bibir.
"Maka dari itu! Kamu jangan mikirin Galang lagi, cukup pikirin mas Alvinmu aja, suami barumu itu!" seru Sarah.
"Ya, aku nggak mau lah! Aku nggak suka barang bekas!" Sarah menyunggingkan bibir atasnya.
"Bekas? Maksudnya?"
"Ya bekas lah, bekasnya kamu!"
Airin menggelengkan kepala. Mungkin di mata orang, dia dan Alexi terlihat seperti suami istri sungguhan. Tapi kenyataannya jauh, dia dan Alexi masihlah dua orang asing saat mereka sedang berdua saja.
"Aku sama mas Alvin itu nggak ada hubungan apa-apa, Sar. Selain pernikahan kami yang terpaksa. Kami tinggal serumah juga nggak pernah ngapa-ngapain. Tidur aja kami beda kamar," jelas Airin.
"Hah?" Sarah melotot tidak percaya. "Jadi hampir seminggu nikah, kalian nggak pernah anu- ...."
Airin buru-buru membekap mulut Sarah, karena suaranya itu terdengar melengking. "Jangan keras-keras, malu didengar orang yang lagi makan!"
Sarah menepis tangan Airin dari mulutnya. "Gila kamu, aku sampai nggak bisa napas! Kamu mau ngebunuh aku, ya?"
"Makanya, pelan-pelan ngomongnya!" desis Airin kesal.
__ADS_1
"Lagian kamu bikin aku kaget, seminggu nikah belum ngapa-ngapain," cibir Sarah.
"Mau gimana lagi? Kita nikah cuma karena tuntutan warga, nggak ada cinta, nggak ada apa-apa. Just married, nothing else!"
"Tapi tetap aja, Airin ... kalian itu udah sah, halal! Banyak kok orang yang nikah tanpa didasari cinta, tapi ujung-ujungnya tetap bahagia. Makanya kamu berjuang dong, ambil hatinya Alvin. Masa punya suami ganteng dianggurin. Mau, jadi janda dua kali?" Sarah menaikkan sebelah alis matanya.
"Ish, Amit-amit!" Airin mengerucutkan bibir.
"Makanya kamu perjuangin Alvin. Eh, satu lagi. Kamu kan udah pernah nikah, jadi udah tahu rasanya begituan. Beda sama aku yang belum pernah nikah. Emangnya kamu nggak kangen pengen begituan lagi, apalagi sama suami baru yang lebih ganteng!" Sarah memainkan Alis matanya.
Airin memutar bola mata, sambil membuang napas jengah. "Apaan sih, malah bahas yang begituan!" sungutnya dengan wajah yang sudah memerah seperti udang rebus.
"Udah, intinya perjuangin dulu pernikahan kamu sama Alvin. Masalah berhasil apa nggak, itu urusan belakangan." Sarah lantas berdiri dari tempat duduknya.
"Tapi aku minder, Sar. Aku nggak sePD kamu. Kamu tahu aku janda, miskin. Sedangkan Alvin itu bujangan, punya karir yang bagus." Airin menunduk wajah, tidak bersemangat.
"Ingat Airin ... PD itu modal hidup!" Sarah menegaskan lagi prinsip kehidupan yang dipegangnya. "Udah ya, aku berangkat kerja dulu, hampir telat nih!"
"Iya, hati-hati!"
Airin mengantar Sarah sampai ke depan warung, sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hari ini warung Airin lebih ramai daripada biasanya, membuatnya kerepotan melayani pengunjung. Gurat kelelahan pun sudah tampak jelas di wajahnya.
Sore harinya Alexi datang menjemput, mereka pun pulang bersama. Setibanya di rumah, Airin mandi terlebih dulu, yang kemudian bergantian dengan Alexi.
Mungkin karena terlalu lelah hari ini, bukan kesegaran yang ia dapatkan. Tapi malah tubuhnya yang mulai panas dingin.
Setelah meminum parasetamol, Airin pun menyalakan televisi untuk menonton. Tapi semakin lama tubuhnya semakin menggigil, dan keringat dingin mulai mengucur dari tubuhnya.
Alexi yang baru keluar dari kamar mandi, sangat terkejut melihat Airin sedang mendekap sendiri tubuhnya yang gemetaran. Buru-buru Alexi mendekat, lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Airin.
"Ya, Tuhan ... kamu kenapa, Airin? Tubuhmu panas sekali!" ujar Alexi cemas, "Tunggu sebentar, saya pakai baju dulu. Habis itu kita ke dokter!" imbuhnya, lalu bergegas ke kamar untuk berpakaian.
Bersambung.
Ikuti terus kisah Alexi dan Airin, Ya.
Terimakasih sudah membaca.
__ADS_1