Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Aku Memilih Bertahan


__ADS_3

Di sebuah club eksklusif, suara dentuman musik terdengar begitu keras. Alexi duduk sedirian di salah satu meja private, ekor matanya sesekali memperhatikan orang-orang yang tengah asik bergoyang di lantai dan dansa.


Di meja yang ada di hadapan Alexi, satu botol brandy telah kosong. Dia membuka segel botol baru, lantas mengisi kembali gelas snifternya yang telah kosong.


Tak lama kemudian barulah orang yang ditunggu-tunggunya datang. Pria yang berumur tujuh tahun lebih tua dari Alexi itu, lantas mendudukkan diri di sampingnya.


"Gue lagi bingung, Bang. Hubungan sama bini gue lagi renggang, dan gue bimbang harus nentuin pilihan. Makanya gue ajak lu ke sini, gue butuh saran dari elu, Bang." Alexi langsung meracau saat Zico baru saja duduk, tanpa membiarkan sepupunya itu menghela napas terlebih dulu.


Zico yang baru saja datang, tidak langsung menyahut perkataan itu. Dia memandangi Alexi dengan sorot mata yang menelisik.


"Sebentar, tadi lu bilang bini? Lu udah nikah?" tanya Zico seolah merasa pendengarannya lah yang bermasalah.


Alexi mengangguk, membenarkan apa yang baru saja keluar dari mulutnya. "Iya, Bang. Gue udah nikah, sekitar 3-minggu yang lalu."


Zico memijit dahi sendiri, karena tidak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan adik sepupunya itu. "Dan elu nikah tanpa sepengetahuan keluarga kita?"


Sekali lagi kepala Alexi terangguk membenarkan.


"Waah ... gila lu, Ndro!" Zico menggelengkan kepala sambil mendecakkan bibirnya, dia menjadi speechless untuk beberapa saat.


"Terus alasan lu nikah mendadak gitu apa?" cecar Zico lagi.


Alexi menggembungkan pipi, lalu mengempiskannya dalam satu hembusan napas. "Bang, bisa nggak lu nanyanya nanti-nanti aja, gue bakal ceritain semuanya kalau keadaan sudah tenang. Sekarang gue lagi bingung, gue butuh saran dari elu."


Zico menghela napas berat. "Ya udah, sekarang lu cerita masalahnya apa?"


"Gini, Bang. Lu tau kan, nyokap minta gue buru-buru nikah karena pengen banget punya cucu. Masalahnya, bini gue bilang kalo dia itu cacat, dia nggak bisa hamil. Sekarang gue bingung harus gimana, gue harus pertahanin dia atau gimana?" Alexi menceritakan apa sedang membebani pikirannya.


Meski suara Alexi sedikit meracau, tapi Zico yang masih memiliki kesadaran penuh, dapat mendengar semuanya dengan jelas.


Zico menghela napas, dia tampak berhati-hati karena ini menyangkut masa depan sepupunya itu. "Sebelum gue kasih saran, gue mau tanya sedikit tentang bini lu! Dia wanita yang seperti apa? Gimana perasaan lu sama dia, sebelum lu tahu tentang kekurangannya dia? Sebelum itu terjadi, lu punya keyakinan nggak bahwa dia wanita yang tepat buat dampingin hidup lu?"

__ADS_1


Bagi Zico sendiri pernikahan bukanlah hal main-main, kini sepupunya itu sedang bermasalah di dalamnya. Satu kesalahan dalam membuat keputusan bisa berakibat buruk, dan bisa memberikan penyesalan di masa yang akan datang.


"Dia wanita baik, sabar, peduli. Ya, kurangnya hanya satu, dia bilang nggak bisa hamil."


"Apa yang membuat bini lu yakin kalau dia nggak bisa hamil?"


"Dia janda, pernikahan pertamanya yang sudah berjalan selama empat tahun, kandas karena suaminya selingkuh. Alasan suaminya selingkuh, karena dia nggak bisa ngasih keturunan."


"Lu udah coba bawa check up?"


Alexi menggeleng. "Belum, Bang. Sedangkan bini gue yakin banget kalo dia emang mandul, apalagi sekarang selingkuhan mantan suaminya udah hamil."


Tangan Zico terulur menepuk bahu Alexi. "Gini, kalau emang lu cinta sama dia, seharusnya kekurangannya dia itu membuat lu makin sayang sama dia. Lu nggak boleh membuat dia semakin terbebani. Apalagi lu bilang, kalian sama sekali belum cek ke dokter. Oke, anggap aja bini lu emang nggak subur, jaman sekarang banyak pengobatan canggih, Lex. Masih banyak usaha yang bisa dilakukan agar bini lu bisa hamil."


"Sekarang kita bicara kemungkinan terburuk. Anggap saja setelah berobat ke mana-mana, bini lu tetap nggak bisa hamil. Anak emang bagian penting dari keluarga, tapi masih banyak orang yang nggak bisa punya anak, dan mereka tetap hidup bahagia. Intinya cuma satu, Lex. Bersukur dengan apa yang lu punya," pungkas Zico.


"Jadi menurut lu, gue harus pertahanin dia, Bang?"


"Tergantung gimana?"


"Kembali lagi ke diri elu sendiri? Apa lu benar-benar cinta sama bini lu? Apa lu udah yakin mau menghabiskan sisa hidup lu sama dia? Nikah nggak main-main, Lex. Kira-kira suatu saat nanti lu bakal menyesal nggak tuh, karena nggak bisa punya keturunan. Pikirin juga posisi bini lu, dia pasti akan jadi orang yang paling tertekan, karena nggak bisa ngasih keturunan. Jadi haram bagi lu buat ungkit-ungkit, apalagi menyalahkan kekurangannya dia nanti," ujar Zico.


Di tengah dentuman musik yang memekakkan telinga itu, Alexi mencoba memfokuskan indra pendengarannya untuk mendengarkan semua nasehat dari Zico.


"Kalau lu mau pertahanin dia, lu harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, Lex. Percuma lu bertahan, kalau suatu saat nanti lu masih nggak bisa terima kekurangannya dia. Lu cuma akan memberikan penderitaan untuk dia." Zico mengakhiri kalimat panjangnya.


"Gue mau, Bang. Gue mau terima semua kekurangannya dia. Tapi gimana dengan nyokap? Dia pengen banget punya cucu!" lirih Alexi, tampak dilema sedang menyelimuti wajahnya.


"Sebenarnya yang lu khawatirkan itu tante Riana, atau egoisme dalam diri lu sih? Tante Ana itu rasional, dia nggak mungkin permasalahin hal seperti ini!" Zico menggelengkan kepala.


Alexi terhenyak mendengar perkataan Zico. Karena inti dari permasalahan ini memang bukan ibunya. Tapi dirinya sendiri yang terlalu hanyut oleh perasaan kecewa, dan belum bisa menerima kekurangan yang dimiliki Airin.

__ADS_1


Setelah merenungkan sikap yang akan diambil, Alexi pun segera berdiri dari tempat duduk dengan tubuhnya yang sempoyongan.


"Bang ... antarin gue pulang sekarang!" pintanya.


"Lu gila, ini udah terlalu malam, Lex. Rumah bini lu tuh jauh, orang rumah gue bisa mikir yang macam-macam, kalau gue pulang pagi!" tolak Zico.


"Bang, lu tega ngebiarin gue pulang sendiri dalam keadaan mabuk gini, mana pake motor lagi! Gampang deh, masalah bini lu nanti gue bantu jelasin!" ujar Alexi dengan nada memaksa.


Zico berdecak, meski begitu dia tetap bersedia mengantarkan Alexi pulang. Sebenarnya Zico bukan takut istrinya itu berpikir macam-macam, melainkan dia tidak terbiasa meninggalkan istrinya tidur sendiri.


Perlu menempuh dua jam perjalanan, agar mereka tiba di depan rumah Airin. Zico langsung pamit, lantas meluncurkan mobilnya setelah Alexi turun.


Alexi yang sudah memantapkan hati untuk mempertahankan rumah tangganya, bergegas masuk ke rumah.


Malam ini dia ingin tidur sambil memeluk Airin, lalu mengucapkan kata maaf saat pertama kali matanya terbuka.


Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Airin, yang selama seminggu ini menjadi renggang.


Saat membuka pintu kamarnya, Alexi terkejut karena tidak menemukan Airin di atas ranjang.


"Airin!" panggil Alexi dengan perasaan yang mulai kalut.


Dia mencari ke kamar mandi, mungkin saja Airin sedang di sana, pikirnya.


Tidak ada di kamar mandi, Alexi pun mencarinya ke setiap ruangan sambil terus memanggil nama istrinya. Namun, sosok Airin tetap tidak ditemukan, atau menyahut panggilannya.


Alexi terduduk di sofa ruang tamu, sambil mengusap kasar wajahnya. "Ya ... Tuhan, kamu ke mana Airin? Apa kamu benar-benar tidak mau memberiku kesempatan untuk meminta maaf?"


Bersambung.


Jangan lupa like, komentar, dan berikan hadiahnya juga, ya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2