
Malam harinya.
"Mom, Dad ... rencananya aku dan Airin akan pergi berlibur, kami akan berangkat lusa." Alexi memberitahu orang-tuanya sesaat setelah mereka selesai makan malam.
"Waah ... kebetulan sekali, akhir minggu ini kami sudah libur kuliah. Jadi kita bisa pergi liburan bersama. Ya kan, Diba!" celutuk Adila sangat antusias, dan saudari kembarnya itu mengangguk.
"Iya, daripada bosan di rumah, lebih baik kita ikut saja," sahut Adiba.
Lain halnya dengan Alexi yang tampak keberatan dengan niat adik kembarnya. Airin malah langsung menyetujuinya. "Benar, pasti menyenangkan jika kita pergi liburan bersama."
"Kalau begitu sekalian saja kita ikut, kita sudah lama sekali tidak pergi berlibur. Ya kan, Dad." Mommy Riana berkata pada Daddy Almeer.
Daddy Almeer melirik sekilas wajah Alexi yang berubah lesu, dia tahu putranya itu pasti merasa keberatan jika mereka semua ikut berlibur.
Tapi mau bagaimana lagi, salah sendiri tadi Alexi mengatakan dia ingin pergi berlibur. Kalau saja sebelumnya dia mengatakan ingin pergi berbulan madu, mungkin adik kembarnya itu akan sedikit sungkan menyatakan diri untuk ikut.
"Terserah mau bagaimana. Kalau daddy sih, oke-oke saja," sahut Daddy Almeer yang kemudian lanjut bertanya, "Tapi apa Alexi tidak keberatan?"
"Mommy rasa tidak ... lagi pula saat ini Airin tengah hamil muda, jadi keberadaan kita bisa sekalian untuk menjaganya. Ya kan, Bang!" Riana menatap putranya untuk menunggu jawaban.
Alexi menelan sulit salivanya, dia tidak memiliki keberanian untuk menolak jika ibu ratu sudah berkehendak. Terlebih pernyataan ibunya barusan tidak bisa ia sangkal.
"Baiklah, Mom ... kita akan pergi bersama," sahut Alexi, meski nada suaranya terdengar lesu.
Pupus sudah harapannya untuk bisa berduaan sepanjang hari dengan Airin.
Alexi sudah tidak bersemangat membayangkan hari-hari saat liburannya nanti, karena dapat dipastikan Airin akan lebih banyak dimonopoli ibu maupun adik kembarnya.
Kemudian Mommy Riana bertanya pada dua putranya yang lain, apakah mereka ingin ikut atau tidak, lalu dengan kompak Adelio dan Arsenio menjawab tidak. Jadilah mereka akan pergi liburan berenam saja.
Setelah kesepakatan dibuat, Airin dan Alexi pun kembali ke kamarnya.
Airin yang sejak tadi memperhatikan Alexi tidak bersemangat, tidak tahan untuk tidak bertanya, "Kamu kenapa, Mas? Kamu sakit?"
Alexi menggelengkan kepala. "Tidak."
"Terus kenapa mukanya lesu gini?" Airin menempelkan punggung tangannya di dahi Alexi.
Airin bermaksud memeriksa suhu tubuh suaminya tersebut. Ia berpikir Alexi sedang tidak enak badan, atau mungkin kelelahan.
Tapi sepertinya tidak ada masalah, lalu apa yang membuat suaminya itu kehilangan semangat?
"Sayang."
__ADS_1
"Ehhmm," sahut Airin singkat.
"Aku mau minta tolong sama kamu."
"Minta tolong apa, Mas?"
"Kamu bilang sama ibu mertuamu, mereka jangan ikut kita liburan."
Airin terbelalak." Kamu mau aku dipecat jadi mantu?"
"Lagian apa salahnya Mommy, Daddy, sama si kembar ikut? Lebih rame kan lebih seru, Mas." Airin menambahkan.
'Iya, seru buat kalian. Tapi mengganggu bagi aku,' rutuk Alexi dalam hati.
Airin memandangi Alexi dengan sorot mata menelisik, sekarang dia paham apa yang membuat suaminya itu tidak bersemangat.
"Kalau Bunda sama yang lainnya nggak ikut, yang adanya kita sama aja nggak liburan. Kamu pasti akan ngurung aku setiap hari di kamar, ya kan!" tuding Airin.
Alexi tidak mengelak, ia malah menatap Airin penuh maksud. "Tapi kamu suka, kan? Bukti kamu yang sering minta lebih setiap kali kita, ehmm ...."
Airin memutar bola matanya. Namun, harus ia akui jika hasratnya seperti naik berkali-kali lipat di masa kehamilannya sekarang.
"Maksud aku, kalau cuma pengen mesra-mesraan, di rumah juga bisa, Mas."
"Tapi kalau di tempat baru, dengan suasana baru, pasti lebih syahdu," Kekeh Alexi yang lantas mengurung Airin di antara lengan berototnya.
Dan sekarang Alexi sudah memulainya dengan memberikan sentuhan-sentuhan nakal pada bagian-bagian sensitif Airin, mengirimkan desiran panas yang selalu berhasil membuat Airin terbakar gairah.
***
Lusanya, mereka pun berangkat ke Italia. Tujuannya adalah City of Bridges, Venesia.
Airin tampak begitu antusias saat pertama kali menginjakkan kakinya di Venesia. Pantas saja sebelumnya Alexi tidak mau mengatakan ke mana tujuan mereka berlibur, sepertinya Alexi sudah tahu jika tempat ini adalah impian Airin.
Seumur hidup Airin tidak pernah berani membayangkan jika dia benar-benar akan sampai ke kota impiannya ini.
Sebelumnya Airin hanya pernah mengunjungi Venesia KW yang ada di Puncak, itu pun sudah membuat dirinya sangat bahagia.
"Terimakasih, Mas. Kamu udah mewujudkan impian aku," tutur Airin dengan sorot mata berbinar memandangi jalanan di sekitarnya.
"Ini namanya kejutan," kekeh Alexi yang lantas mengecup kepala Airin.
Dia pun merasa sangat senang, karena berhasil membuat istrinya itu tampak begitu bahagia
__ADS_1
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju jantung kota Venesia, tempat di mana Alexi sudah memesan 3-kamar di sebuah hotel mewah, sebagai tempat mereka menginap.
Alexi sengaja memilih hotel yang letaknya dekat dengan Basilica San Marco. Dan juga Rialto Bridge yang merupakan jembatan paling ikonik Di Venesia.
Konon Rialto Brigde adalah jembatan pertama di Venesia, dan sudah dibangun lebih dari empat abad yang lalu.
Saat tiba di kamarnya, Airin tidak sabar menuju balkon demi melihat keindahan jembatan tersebut dari ketinggiaan.
Tidak hanya terlihat indah dengan desain yang dibuat melengkung pada bagian tengahnya. Rialto Bridge semakin menarik di mata para wisatawan, setelah sempat menjadi tempat mengamuknya Hydro Man, dalam salah satu scene di film Spider Man, yang merupakan salah satu film favorit Airin.
"Sayang, istrahatlah dulu ... kita baru saja sampai," panggil Alexi.
"Aku mau jalan-jalan ke jembatan itu, Mas," sahut Airin dari balkon.
"Kita punya banyak waktu di sini, besok aku akan membawamu jalan-jalan keliling kota. Sekalian kita naik gondala."
Airin pun menurut karena memang liburan mereka baru saja dimulai. Airin lantas merebahkan dirinya di atas ranjang, untuk melepas penat.
Kurang dari setengah jam kemudian terdengar pintu kamarnya diketuk. Airin turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu.
"Dila, Diba, ada apa?" tanya Airin saat mendapati dua adik iparnya di balik pintu.
"Kakak, apa kau ingin menghabiskan liburan ini di kamar saja? Ayo kita jalan-jalan!" ajak Adila.
"Mau ke mana?" tanya Airin.
"Tentu saja menyusuri kota ini, Kak ... ayolah, cepat ganti pakaianmu," desak Adiba.
"Baiklah, kalian tunggu sebentar ya. Aku mandi dulu." Airin mempersilakan adik iparnya untuk masuk.
Setelah itu Airin bergegas ke kamar mandi, dan keluar dari sana dengan kondisi yang sudah fresh.
"Mau ke mana kalian?" Alexi yang baru saja bangun merasa heran dengan keberadaan dua adiknya.
"Kami mau ajak Kak Airin jalan-jalan," jawab Adiba santai.
"Enak aja, nggak bisa. Kita baru saja sampai, kakak ipar kalian masih capek!" larang Alexi.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Kamu kan masih mau istirahat, jadi aku jalan-jalan sama mereka aja dulu," ujar Airin.
"Tuh, Kak Airin aja senang kok diajak jalan, kenapa jadi Abang yang sewot?" sungut Adila.
Alexi membuang napas berat. Hal seperti ini sudah ia bayangkan sebelum berangkat, yang ternyata langsung terjadi di hari pertama.
__ADS_1
Jadi bagaimana dia bisa menikmati bulan-madunya dengan Airin?
Bersambung.