
Sarah keluar dari kelas setelah jam mata kuliahnya selesai. Ia berjalan menuju gerbang kampus sambil berharap Adelio tak lagi menunggunya, sehingga ia bisa datang sendiri ke rumah Airin.
"Hei, Sayang ... mata kuliahnya udah selesai? Udah, jangan merasa bersalah seperti itu, aku nggak lama kok nunggunya. Buat kamu jangankan beberapa jam, seumur hidup pun pasti aku tunggu."
Sarah celingukan mencari sumber suara, lalu ia pun menemukan sosok Adelio yang merupakan pemilik suara tersebut.
Tampak Sarah membuang napas berat, pupus sudah harapannya untuk menghindar dari Adelio hari ini.
"Yuk, Sayang kita berangkat sekarang!" ajak Adelio.
Sarah mendelik karena tiba-tiba tangan Adelio melingkar di pinggangnya. Sontak saja Sarah langsung berontak, terlebih di sana ada banyak pasang mata mahasiwa dan mahasiswi lain yang melihatnya.
"Jauhin tangan kamu, Leo ... jangan kurang ajar! Dan satu lagi, jangan panggil sayang-sayangan, aku bukan pacar kamu!" suntuk Sarah kesal.
"Bukan? Mungkin maksud kamu belum, tinggal nunggu waktu aja sampai kamu jadi pacar aku," balas Adelio yakin.
Sarah memutar bola matanya. Lihatlah betapa percaya dirinya pria menyebalkan yang satu ini. Sarah saja sampai mual dibuatnya.
Dalam perjalanan Sarah tidak berucap satu patah kata pun. Ia memusatkan padangan ke depan, sambil memasang wajah cemberut.
Adelio yang sejak tadi memperhatikan raut wajah Sarah, tidak tahan untuk tidak menggodanya. "Sayang, jangan cemberut terus dong ... nanti cepat tua lho."
"Udah, jangan banyak omong. Kamu fokus aja nyetirnya, nanti malah nabrak!" sahut Sarah ketus.
Sarah mengatakan itu bahkan tanpa melirik ke arah Adelio. Ia memasang gestur jutek dengan melipat tangan di depan dada.
Namun, yang tidak Sarah sadari, posisi tangannya sekarang malah membuat bagian tubuhnya yang membusung semakin terpampang nyata.
Adelio mau tidak mau harus menelan saliva saat membayangkan salah satu bagian ranum itu ada di mulutnya.
Ah, ada-ada saja kelakuan Sarah ini. Membuat otak Adelio yang dari sananya sudah mesum, jadi melayang entah ke mana.
__ADS_1
Adelio menghentikan laju mobilnya, ia bergegas turun lalu membukakan pintu untuk Sarah.
"Ayo turun!" Adelio mengulurkan tangannya.
Sarah yang sejak tadi melamun, baru sadar jika mereka sudah sampai. Namun, bukannya di rumah Airin, saat ini mereka malah berada di parkiran sebuah mall.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Sarah heran.
"Waktu nikahan Bang Lexi sama Kak Airin kemaren aku belum ngasih hadiah. Jadi sekarang bantuin aku milih hadiah buat mereka ya."
Tanpa berucap satu patah kata Sarah turun dari mobil, ia malas bicara lebih lanjut karena hanya akan buang-buang energi. Dia juga mengabaikan uluran tangan dari Adelio.
Mereka memasuki mall tersebut, dengan tangan Adelio yang menggengam erat jemarinya.
Kali ini Sarah tidak protes, karena ia tahu hasilnya akan nihil. Pria menyebalkan ini pasti tidak akan melepaskannya.
Jadi daripada ribut seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar, dan menjadi pusat perhatian pengunjung mall yang lain. Lebih baik diam saja dan mengalah, pikir Sarah.
"Kamu pilihin ya. Kamu kan teman dekatnya Kak Airin, kamu pasti tahu seleranya dia," bisik Adelio tepat di telinga Sarah.
Saking dekatnya Sarah dapat merasakan hangatnya hembusan napas Adelio, hingga membuat tubuhnya meremang.
"Iya, tapi biasa aja ngomongnya, nggak usah nempel-nempel juga," sungut Sarah sambil menjauhkan dirinya.
Adelio malah terkekeh. Semakin kesal Sarah, semakin menggemaskan gadis itu di matanya.
Sarah mulai memilihkan hadiah untuk Airin, tiba-tiba saja pikiran jahilnya kembali muncul, ia ingin memilihkan pakaian dinas lagi untuk Airin.
Namun, ketika sadar ia datang ke sini bersama Adelio, niat Sarah untuk memilihkan lingerie itu pun ia urungkan. Yang adanya nanti pria menyebalkan itu malah berpikir macam-macam tentangnya.
Akhirnya Sarah pun memilihkan sebuah gaun pesta berwarna merah, yang Sarah yakini modelnya pasti sangat serasi dengan tubuh Airin.
__ADS_1
Setelah merasa cocok dengan pilihannya, Sarah pun meminta pramuniaga yang melayaninya untuk membungkus gaun tersebut.
Adelio yang sejak tadi duduk di kursi tunggu, melangkah mendekat ketika mengetahui Sarah sudah mendapatkan barang pilihannya.
"Ehmm, aku masih mau minta bantuan kamu nih," ujar Adelio.
"Bantu apa lagi?"
"Gini, aku mau beliin hadiah buat pacar aku. Kamu tolong pilihin ya, soalnya aku nggak ngerti selera cewek." Adelio mengatakan ini dengan suara memohon.
'Sial, kalau kamu udah punya pacar ngapain masih mepet aku, Bambang? Pake manggil sayang lagi, dasar kadal buntung, playboy kampret, najisin banget, nyebeliiiiin,' jerit Sarah dalam hati.
Tentu saja Sarah tidak menampakkan kekesalannya di depan Adelio. Karena pria itu bisa menganggapnya sebagai bentuk kecemburuan.
"Ya, sudah. Kamu mau beliin apa buat pacar kamu?" tanya Sarah sambil memaksakan senyumnya.
"Gini, sekarang aku sama dia itu lagi marahan, jadi aku mau baik-baikin dia. Jadi aku mau kasih dia hadiah biar marahnya udahan. Pokoknya semuanya deh, baju, tas, sepatu. Terus baju, tas, sama sepatunya yang banyak, biar dia senang."
Sarah menganggukkan kepala, dalam hatinya membantin. 'Enak juga ya jadi pacar orang kaya, ngambek dikit dibeliin barang seabrek-abrek."
"Terus pacar kamu orangnya kayak gimana? Sukanya yang model apa? Ukuran sepatunya berapa? Orangnya tinggi apa pendek? Kurus atau gemuk?" tanya Sarah sembari memilih barang-barang yang rencananya akan dijadikan hadiah untuk pacar Adelio.
Adelio memandangi Sarah. "Pacar aku tuh postur tubuhnya persis kayak kamu gini, ukuran sepatunya pasti sama deh. Selera fashionnya juga model-model kamu gini."
Lihatlah! Enteng sekali pria menyebalkan ini membandingkan Sarah dengan pacarnya, seolah tidak memiki dosa.
'Hemm, pantes ... aku dipepet terus. Ternyata dia lagi marahan sama pacarnya, dan pacarnya itu mirip aku. Nasib, nasib ... untung aja selama ini aku nggak baper digombalin kadal busuk ini,' maki Sarah dalam hati.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, ya.
__ADS_1
Terimakasih.