
Airin perlahan mengatur napasnya yang masih memburu, dalam hangat pelukan Alexi. Menikmati sisa pelepasan terdahsyat yang baru saja ia dapatkan, juga keintiman yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Bukan bermaksud membandingkan dengan Galang. Hanya saja apa yang dilakukan Alexi, memang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan mantan suaminya itu.
Saat masih bersama Galang, Airin merasa dirinya hanyalah objek untuk menuntaskan kebutuhan batin, layaknya benda yang tidak memiliki perasaaan.
Galang juga melakukannya dengan terburu-buru, memasukinya dengan kasar tanpa pemanasan, apalagi perasaan.
Yang penting bagi mantan suaminya itu kebutuhannya terpenuhi, tanpa peduli Airin menikmatinya atau tidak, bahkan Airin sering menangis karena hanya rasa perih yang ia dapatkan.
Yang lebih menyakitkan, Airin selalu ditinggal pergi setelah memberikan pelayanan, layaknya seorang wanita di tempat hiburan malam. Atau jika tidak, suaminya itu akan segera tertidur lelap, dengan posisi memunggunginya, sangat miris, bukan?
Bersama Alexi, Airin menemukan hal yang sangat berbeda. Pria itu memulai dengan perlahan, memberinya kenyamanan sebelum masuk pada ritual inti.
Bahkan, Airin diberi kesempatan memimpin permainan, membiarkannya mengekspresikan hasrat liar yang selama ini terpendam.
Dan yang paling membahagiakan, Alexi mendekapnya erat setelah mereka selesai, membuatnya merasa dihargai, juga dicintai. Sesuatu yang belum pernah Airin rasakan sama sekali.
Tubuh mereka yang masih menyatu, membuat Alexi merasakan miliknya kembali mengeras di dalam sana. Dia mengangkat wajah Airin yang membenam di lehernya, lalu menatap wajah cantik istrinya itu dengan sorot mata penuh Arti.
"Belum waktunya bagimu untuk istirahat, Airin!" kekeh Alexi menampakkan seringai jahilnya.
"Hah?"
__ADS_1
"Apa kamu tidak merasa ada yang kembali mengeras di dalammu." Alexi mengedipkan mata.
Airin menelan saliva, ia menjerit tertahan saat suaminya itu tiba-tiba berdiri, membawanya dalam gedongan menuju kamar.
Alexi baru melepaskannya saat merebahkan Airin di atas ranjang. Kini sorot matanya menyusur tubuh indah Airin penuh rasa kagum. Bernar-benar ciptaanNya yang sempurna, ramping pada tempat semestinya, berisi pada tempat seharusnya.
"Mas, jangan memandangiku seperti itu!" Airin merasa malu lantas meraih selimut untuk menutup tubuhnya. Tapi secepat itu pula Alexi menarik dan membuangnya ke sembarang arah.
"Melihatmu tidak akan membuat mataku menjadi kotor, Airin. Kamu milikku!"
"Tapi aku malu, Mas ...." Airin menutupi wajah, menutup bagian yang lain pun percuma, karena masih ada bagian lain lagi yang terekspos.
Alexi terkekeh kemudian menunduk, memberikan kecupan di puncak kenikmatan milik Airin. Bermain di sana seperti bayi kehausan, kecupannya perlahan turun ke bawah, lalu berhenti di titik paling sensitif milik istrinya itu.
Lidah dan bibir Alexi terus bermain dengan nakal bagian sensitifnya, membuat erangan demi erengan lolos begitu saja dari bibir Airin.
Airin menjambak rambut Alexi, dia mengejang hebat saat gelombang itu datang. Airin tidak kuat dengan kelakuan sang suami, yang terus menggoda titik sensitifnya. Dia menjambak rambut Alexi ingin menjauhkan suaminya itu.
Namun, alih-alih melakukan niatnya. Airin malah semakin membenamkannya saat gelombang itu terasa kian menggila. Tubuhnya mengejang, sebelum akhirnya lemas sejadi-jadinya.
Alexi mengangkat wajah, dia menatap wajah sayu Airin sambil tersenyum menggoda.
Airin menelan salivanya dengan susah, suami barunya ini benar-benar menghabisi dirinya tanpa ampun.
__ADS_1
Durasi ritual kali ini pun jauh lebih lama, dibanding saat di ruang ramu tadi. Alexi berhasil membawanya mencapai nirwana bekali-kali, membuatnya melayang menikmati kepuasan tiada batas.
Saat Alexi selesai, pria itu menjatuhkan tubuh ke samping, lalu memeluk istrinya erat-erat.
Airin merasakan kehangatan dan kenyamanan di sana, membuat udara dingin pagi ini sama sekali tidak dirasakan oleh mereka.
"Terimakasih, Mas," lirih Airin, seraya membenamkan wajahnya semakin dalam di dada bidang suaminya.
"Terimakasih untuk apa?"
"Untuk semuanya."
Tangan Alexi yang mengusap kepala belakangnya, membuat Airin semakin nyaman dalam dekapan itu. Matanya perlahan terpejam, sebelum akhirnya tertidur lelap.
Bukan karena mengantuk, tapi karena lelah yang mengusai. Aktivitas mereka menghabiskan begitu banyak energi, dan peluh yang membanjiri tubuh masing-masing.
Saat terbangun dari tidurnya, Airin tidak menemukan Alexi di sampingnya. Hal membuat Airin sedikit kecewa, dia berpikir mantan dan suami barunya tidak ada bedanya. Meninggalkannya sendiri, setelah puas menikmati tubuhnya.
'Ah, semua pria sama saja,' lirih Airin pilu.
Bersambung.
Tunggu bab kedua nanti sore, ya.
__ADS_1