Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Tidak Ada Maaf Lagi


__ADS_3

"Mas, izinin aku sama mama nginap dulu, masa kamu tega ngusir kita malam-malam begini." Frita bersimpuh memohon di kaki Galang.


"Aku tidak peduli, dan bukan urusanku ... angkat kakimu dari rumahku sekarang juga!" seru Galang sembari melepaskan tangan Frita yang bergelayut di kakinya.


Dengan sedikit dorongan dari Galang, membuat Frita terjungkal ke belakang. Sontak saja hal ini langsung membuat mama Reni melotot marah, dia tidak terima putrinya diperlakukan dengan kasar.


"Kamu ... dasar suami bejad, tidak berprikemanusiaan! Tega sekali kamu mengasari wanita yang sedang hamil! Apalagi saat ini Frita sedang mengandung anakmu!" geram Reni seraya membantu Frita untuk berdiri.


Galang tertawa hambar. "Anakku? Tanya sama putri jalangmu ini anak siapa yang sedang dia kandung."


Sejak tadi Frita sudah mencoba berbagai cara agar Galang bisa Luluh. Namun, semua usahanya tidak ada yang berhasil.


Galang tidak memberi sedikit pun celah yang bisa diamanfaatkan Frita.


Lebih terkejut lagi mama Reni, dia sudah tidur saat Galang pulang dalam keadaan murka, dan menyuruh pelayan untuk membuang barang-barang milik mama Reni keluar.


Sorot mata Galang menghunus tajam membalas tatapan mama Reni. "Segera angkat kaki dari sini. Aku tidak segan meminta security menyeret kalian jika masih keras kepala."


Brakk!


Galang masuk ke dalam rumah seraya membanting pintu dengan keras, setelah mengakhiri perkataannya.


Mama Reni terlonjak kaget, jantungnya nyaris copot karena ulah Galang.


"Gila, dasar orang gila! Lihat saja, kamu pasti akan menyesal telah memperlakukan kami seperti ini!" raung mama Reni tidak terima.


"Ma, sudahlah. Nggak ada gunanya Mama teriak-teriak di sini. Lebih baik kita pergi saja dari sini," ajak Frita yang sudah pasrah.

__ADS_1


Mama Reni menghela napas berat, lalu ibu dan anak itu mulai beranjak sambil menyeret tas masing-masing dari teras rumah tersebut.


"Memangnya apa yang membuat Galang marah besar, sampai mengusir kita seperti ini?" Mama Reni yang belum tahu apa-apa itu tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Galang menangkap aku sedang bersama Radit, Ma," jawab Frita.


"Apa?" Bola mata mama Reni nyaris melompat keluar, "Dasar bodoh! Makanya kalau dinasehati orang tua itu didengar. Kan mama sudah bilang, jangan dulu bertemu Radit sampai keadaan benar-benar tenang!"


"Mana aku tahu Galang akan pulang secepat ini, Ma. Kemarin itu dia pamit untuk dua minggu di proyek, ternyata satu minggu sudah pulang." Frita mendesah frustasi.


"Ck, Kapan kamu mau belajar berpikir lebih cerdas, Frita ... sekarang lihat apa akibat dari perbuatan semberonomu ini, hidup kita jadi menderita!"


Frita berkali-kali membuang napas berat, menyesali apa yang terjadi hari ini. "Maaf, Ma. Sudah seperti ini, mau gimana lagi?"


"Sekarang kita mau ke mana?" tanya mama Reni ketika mereka tiba di jalan Raya.


Frita mencoba menghubungi Radit, tapi anehnya tidak dapat tersambung.


Mama Reni yang melihat gelagat buruk dari putrinya langsung bertanya, "Kenapa?"


"Nomor Radit nggak aktif, Ma."


"Hah? Mengapa bisa begitu?"


Frita menggeleng pelan. "Nggak tau, Ma. Mungkin masalah di hotel tadi selesai, jadi Radit nggak sempat ngecas hp.".


"Ya sudah, kalau begitu kita naik taksi saja ke apartemennya," usul mama Reni.

__ADS_1


"Tapi gimana kalau Radit nggak ada di sana? Apa kita harus nunggu di luar?"


"Lha, memangnya kamu nggak punya acces cadangannya?"


Rita menjawab dengan gelengan kepala.


"Astaga Frita ... kamu beliin Radit apartemen, tapi kamu nggak pegang acces cardnya. Apa isi kepalamu ini Frita?" geram mama Reni.


Dia sampai menjambak rambut sendiri, karena saking frustasi dengan masalah yang datang bertubi-tubi.


Ditambah cara berpikir putrinya yang terlalu bodoh, membuat mama Reni tidak tahu harus bagamana lagi.


"Mama ada nyimpan uang nggak? Kita cari penginapan aja dulu, baru besok kita ke apartemen Radit," ujar Frita memberi solusi.


Mama Reni merogoh saku celana, sukurnya ia menemukan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan di dalam sana, jadi setidaknya akan cukup bagi mereka untuk menyewa losmen malam ini.


Sekarang ini Frita sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua barang berharganya habis disita oleh Galang, mulai dari mobil, pershiasan, sampai kartu debit dan kreditnya.


Tapi untungnya Frita cukup pintar, dia sempat menggunakan uang milik Galang untuk menimbun aset. Seperti apartemen dan mobil yang dia beli atas nama Radit, dia juga masih punya beberapa perhiasan yang disimpan di apartemen kekasihnya tersebut.


Akhirnya ibu dan anak itu berhasil mendapatkan losmen murah untuk menginap. Memang kamarnya sempit, dan hanya ada kipas angin. Tapi setidaknya cukup bagi mereka untuk beristirahat malam ini.


Renacanya setelah bangun esok pagi, Frita akan langsung ke apartemen Radit. Frita merasa perlu menjual sebagian perhiasannya untuk biaya hidup.


Bersambung.


Terimaksih sudah membaca.

__ADS_1


__ADS_2