Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Tertangkap Basah


__ADS_3

"Itu kan Frita, ngapain dia di sini?" gumam Galang dengan dahi berkerut heran.


Saat ini Galang sedang dalam perjalanan pulang setelah satu minggu berada di proyek, kebetulan ia melihat Frita keluar dari sebuah mini market lalu masuk ke dalam mobil miliknya.


Anehnya Frita tidak masuk untuk duduk di kursi pengemudi, melainkan di kursi penumpang. Sehingga membuat Galang menjadi penasaran dengan apa yang sedang dilakukan istrinya itu, dan siapa yang sedang bersamanya.


"Lebih baik aku ikuti saja," gumam Galang lagi.


Entah apa yang sedang dilakukan istrinya tersebut, yang jelas sekarang ini perasaan Galang mulai tidak enak.


Dengan perlahan Galang membuntuti mobil Frita, sampai mobil tersebut berbelok memasuki parkiran sebuah hotel.


Sejurus kemudian bola mata Galang pun terbelalak lebar, ia disuguhkan pemandangan yang berhasil membuat dunianya serasa kiamat. Seorang pria muda tampak turun dari kursi pengemudi, lalu bergandengan mesra dengan Frita menuju lift.


Saat itu juga Galang merasakan jantungnya bergemuruh, napasnya ikut sesak menyaksikan sendiri pengkhianatan yang dilakukan istrinya.


"Sial, ternyata selama ini aku memang bodoh, aku membuang Airin hanya untuk menikah dengan wanita ular itu," maki Galang pada dirinya sendiri.


Untuk sesaat bayang-bayang di waktu dirinya mengkhianati Airin kembali terlintas di benak Galang, hingga menimbulkan lebih banyak penyesalan yang membebani pikirannya.


Ini adalah pukulan telak bagi Galang, yang seketika membuat sekujur tubuhnya terasa lemas. Kini ia merasakan sakitnya dikhianati, seperti yang ia berikan pada Airin waktu itu.

__ADS_1


Dengan hati berselimut amarah Galang berlajan menuju meja resepsionis. Namun, petugas resepsionis tersebut menolak untuk memberikan info pada Galang, dengan alasan privasi tamu hotelnya.


Setelah berdebat cukup panjang dengan petugas resepsionis tersebut, dan tidak berhasil. Barulah Galang teringat bahwa hotel tempatnya berada sekarang adalah milik Rahadi Group, ia pun buru-buru menghubungi Alexi untuk meminta bantuan.


"Ada apa?" Terdengar bentakan dari Alexi ketika panggilan Galang tersambung.


Sepertinya orang yang di seberang sana juga tengah panik.


"Tu-tuan, maaf saya mengganggu sebentar. Saya hanya ingin meminta bantuan Anda," ucap Galang terbata.


"Ck ... kau ini, apa kau tidak tahu saat ini aku sedang pusing!" sergah Alexi.


"Huh ... ya sudah, cepat katakan!" balas Alexi dengan nada tidak sabar.


Galang lantas menceritakan secara singkat masalah yang dihadapinya, setelah itu Alexi meminta Galang untuk memberikan ponselnya pada petugas resepsionis.


Dengan bantuan dari pemilik hotel, akhirnya Galang mendapatkan akses ke kamar yang di tempati istrinya, sekaligus mendapat pengawalan dari petugas.


Tanpa bersusah payah Galang berhasil masuk ke kamar yang dituju dengan acces card cadangan.


Pintu kamar yang tiba-tiba dibuka, dan disusul beberapa orang yang melangkah masuk, membuat sepasang kekasih yang tengah beradegan panas di atas ranjang kamar bertipe deluxe room itu tersentak kaget.

__ADS_1


Terlebih Frita, wajahnya seketika menjadi pucat pasi setelah menyadari salah satu di antara orang-orang itu adalah suaminya sendiri.


Sedangkan Galang hanya bisa menggelengkan kepala. Apa yang ia saksikan sekarang persis seperti yang dulu Airin lihat.


Bagaimana perasaan Galang? Sudah pasti hancur, sungguh ia tidak pernah menyangka karma untuknya akan datang dengan begitu cepat.


Sorot mata Galang sudah memerah oleh kilatan amarah, kini menghunus tajam pada Frita. Pada wanita yang ia pilih sendiri untuk menggantikan Airin, dan mencampakkan mantan istrinya itu seperti sampah.


Pilihan yang buruk pastinya akan membuat Galang dihantui penyesalan seumur hidup.


"Ma-mas, kenapa kamu ada di sini?" Pertanyaan bodoh itulah yang keluar dari mulut Frita karena kehilangan kata-kata.


Bergegas Frita turun dari ranjang, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Frita menghampiri Galang. "Mas, aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kamu lihat!"


Tidak ada jawaban dari mulut Galang, giginya menggertak menahan luapan emosi. Bersamaan dengan itu tangannya gemetar sejak tadi langsung mengayun.


Plak ... plak!


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2