Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Kembalinya Viona


__ADS_3

"Lexi!" panggil Viona saat berhasil menemukan pria yang dicari-carinya.


Alexi menoleh, sorot matanya menajam, disertai rahangnya mengetat saat itu juga. Menandakan ia tidak suka melihat kedatangan gadis itu.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Alexi dingin.


"Aku mencarimu, Lexi. Aku mencarimu ke rumah, tante Ana bilang kau sedang meninjau proyek," sahut Viona saat ia sudah berdiri di depan Alexi.


"Untuk apa kau mencariku?"


''Aku rindu!" sahut Viona lirih.


Alexi tertawa hambar.


Rindu? Yang benar saja! Wanita inilah yang dulu meninggalkannya, memilih untuk hidup bersama pria lain. Jujur, peristiwa itu membuat Alexi sangat terpukul. Hingga ia kesulitan untuk mempercayai wanita sampai saat ini.


"Jangan main-main, Viona. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi," sinis Alexi.


Viona menghela napasnya, sambil menatap Alexi penuh harap. "Iya, aku tahu itu. Tapi apa salah jika aku mengatakan rindu."


Alexi berdecih, dia tidak habis pikir apa isi kepala wanita ini. Setelah 4-tahun menghilang seperti ditelan segi tiga bermuda, kini dia tiba-tiba datang seperti hantu.


Apa yang dia inginkan?


"Pergilah, aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu!" usir Alexi hendak melangkah.


"Alexi, sebentar saja. Saat ini aku sudah tidak bersama Bimo lagi," rengek Viona sambil menahan lengan Alexi.


"Lalu apa hubungannya denganku, jika kau tidak bersama si brengsek itu lagi?"


"Lex, aku minta maaf. Ternyata memilih Bimo dibanding kamu adalah hal yang salah, aku menyesal. Sekarang dia pergi meninggalkanku," lirih Viona berharap Alexi akan peduli.


"Viona, dengar! Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau si brengsek itu, dan aku tidak mau tahu! Kau harus tahu satu hal, saat ini aku sudah menikah, jadi pernah temui aku lagi lagi!" tukas Alexi.


"Bo-bohong. Kata tante Ana kau belum menikah, aku tahu kau masih sakit hati dengan masa lalu kita, makanya aku datang untuk memperbaikinya. Kita mulai dari awal lagi ya, Lexi ...," bujuk Viona dengan suaranya yang terdengar merayu.


"Mimpi! Jangan berharap aku akan kembali padamu. Aku juga mengatakan yang sebenarnya, aku sudah menikah!" Alexi menegaskan statusnya sekali lagi.


"Tidak, aku tidak percaya, kau pasti berbohong!" Viona merangkul tangan Alexi.

__ADS_1


Sambil mendengkus jijik, Alexi segera menepis Viona dari lengannya. Dia juga tidak ingin ada yang salah paham, kemudian mengadu pada Airin. Sementara hubungannya dengan Airin baru saja dimulai.


"Pergilah, jangan sampai aku memanggil para pekerja proyek itu, dan meminta mereka untuk menggilirmu!" geram Alexi sambil menatap jengah pada Viona.


Viona menggelengkan kepala. "Tidak, mana mungkin kau tega melakukan itu padaku. Alexi yang aku kenal tidak kejam, Alexiku sangat lembut, dia perhatian padaku."


Alexi tersenyum sarkas.


"Sayangnya Alexi yang dulu sudah tidak ada lagi, Alexi yang sekarang bisa berbuat apa pun jika kau masih keras kepala, terus memancing emosiku, hingga kesabaranku habis!" Alexi mengatakannya dengan wajah yang di penuhi aura dingin, sesuatu yang belum pernah Viona lihat sebelumnya.


Viona bergidik ngeri, lantas menoleh ke arah pekerja yang sejak tadi memperhatikannya. Mata mereka yang seperti orang kelaparan, membuat tubuh Viona gemetar ketakutan.


Sementara itu Alexi tersenyum miring, dia bergegas pergi meninggalkan mantan yang sudah membuatnya terpuruk, dan melakukan kesalahan besar dalam hidupnya itu.


Sadar usaha pertamanya gagal, Viona kembali ke mobil. Dia memukul kemudi mobil untuk melampiaskan kekesalannya.


Menyesal, itulah yang saat ini ia rasakan. Dia masih sangat muda saat menjalin hubungan dengan Alexi, gaya pacaran Alexi yang kaku membuatnya gerah.


Dia ingin tahu seperti apa rasanya disentuh, ingin bermesraan layaknya pasangan lainnya. Tapi Alexi yang kaku itu tidak mau memberi apa yang ia inginkan, dengan alasan ingin menunggu sampai status mereka resmi.


Bagi Viona cara berpikir seperti Alexi itu sangat kuno, dan ketinggalan zaman. Bagi Viona melakukannya sebelum, atau sesudah menikah, itu sama saja.


Berkali-kali mendapat penolakan dari Alexi, membuat Viona bertindak nekat. Dia meminta Alexi datang ke apartemennya, lalu mencampur minuman mereka dengan obat perangsang.


Tentu saja hal ini membuat Viona kelabakan, sementara dia sudah kepanasan karena dosis obat yang dibuatnya sendiri.


Dia pun lantas menghubungi Bimo, pemuda yang tak lain adalah teman dekat Alexi. Pria itu memang sudah lama menyukai Viona, tentu saja dia tidak melewatkan kesempatan yang datang.


Setelah itu mereka pun resmi berpacaran, Viona bahkan sengaja memamerkan hubungannya dengan Bimo, untuk memanas-manasi Alexi. Ia membanggakan Bimo setinggi-tingginya di depan Alexi, karena pria itu tidak kuno, dan mau memberikan apa yang ia mau.


Tidak sampai di situ, saat itu Viona juga merendahkan Alexi. Menyebar gosip kepada teman-temannya bahwa Alexi memiliki penyimpangan, dia tidak tertarik pada wanita.


***


Sepulang dari kerja, Alexi menepati janjinya pada Airin, untuk membawa istrinya itu jalan-jalan sore. Ini adalah kompensasi, karena dia telah mengurung istrinya selama tiga hari penuh.


Jalan-jalan menggunakan sepeda motor bersama sang istri, tidak pernah ada dalam pikiran Alexi sebelumnya. Saat ini ia merasa seperti sepasang yang kekasih, yang sedang dimabuk cinta saja.


"Apa kamu lapar?" tanya Alexi pada Airin yang duduk di belakangnya.

__ADS_1


Airin yang saat ini memeluk, sambil menempelkan dagu di pundak suaminya itu mengangguk. "Iya, tapi aku nggak mau makan nasi. Di ujung sana ada toko kue kesukaan aku, beliin ya, Mas," rengeknya.


Dari belakang, Airin masih dapat melihat suaminya itu tersenyum mendengar suara manjanya.


"Iya, aku akan belikan sebanyak yang kamu mau!" sahut Alexi, yang membuat senyum Airin semakin merekah.


Tak lama kemudian mereka tiba di toko kue yang dituju. Setelah memarkirkan sepeda motornya, mereka pun hendak memasuki toko tersebut.


"Mas kamu tunggu di sini, perutku mules, aku ke toilet umum sebentar." Airin meringis sambil memegangi perutnya.


"Kamu mau kue apa, biar aku yang belikan," balas Alexi.


"Cup cake red velvet!" seru Airin seraya melangkah cepat mencari toilet umum.


Alexi menggelengkan kepala, dia tersenyum tipis melihat kelakuan sang istri. Lantas memasuki toko kue tersebut, untuk membeli apa yang diinginkan Airin.


Setelah mendapat apa yang ia mau, Alexi pun hendak keluar dari toko tersebut.


"Eh, Nak Alvin. Lagi apa di sini?" sapa seorang wanita.


Alexi menoleh dengan dahi berkerut, ada seorang wanita paruh baya ia sendiri lupa-lupa ingat.


"Kamu pasti lupa, ya. Saya bu Santi, waktu itu kita pernah bertemu di pasar." Wanita itu meperkenalkan diri.


"Oh ...." Alexi membulatkan mulutnya. Ia baru ingat, wanita inilah yang merendahkan Airin sewaktu di pasar.


"Ganteng, kenalin nih anak ibu. Namanya Siska, lebih cantik dari Airin, kan!" ujar bu Santi.


Alexi melirik, di sebelah wanita paruh baya itu berdiri seorang gadis, penampilan gadis itu tak kalah menor dari ibunya.


"Nggak mau ah, Ma. Masa aku dikenalin sama mandor begini, nggak berkelas banget," sinis gadis itu. Dia menatap Alexi jijik, seraya menarik tangan yang diulurkan ibunya.


"Eh, ada apa ini?" tanya Airin yang baru kembali dari toilet. Dia sempat mendengar apa yang dikatakan Siska, dan ia tidak senang mengetahui suaminya itu direndahkan.


Bersambung.


Ehmm, aku mau curhat dikit, kenapa hari ini upnya telat.


Tadi pagi-pagi itu aku udah nulis, udah dapat 1bab, terus tiba-tiba kehapus😭😭😭

__ADS_1


Jengkel banget, mood aku seharian jadi ancur. Aku sampe ngomel-ngomel sendiri mau banting hp, saking jengkelnya😭😭😭


Untung hpnya nggak kebanting beneran, kalo iya nggak bakalan bisa nulis lagi, dong🙈🙈


__ADS_2