Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Mereka Harus Lenyap


__ADS_3

"Ya Tuhan, anakku ... bagaimana dengan nasib anakku, bagaimana aku bisa melihat anakku yang hidup cacat," raung mama Reni histeris.


"Ibu, tenanglah ... ini sudah takdir dariNya. Anda harus bersyukur putri Anda masih bisa diselamatkan. Itu adalah kecelakaan yang sangat fatal, bahkan sebelumnya kecil sekali harapan bagi putri Anda untuk bertahan," bujuk Pak Dokter, dia ingin membantu mama Reni untuk berdiri.


Namun, hal ini malah semakin membuat Mama Reni mencak-mencak seperti orang kesetanan.


"Apa untungnya hidup jika harus cacat, putriku pasti akan sengsara. Ini tidak adil, Tuhan tidak adil pada kami. Tuhan selalu membuat aku dan putriku hidup sengsara, lebih baik aku mati saja!" Mama Reni menepis tangan dokter tersebut dengan kasar.


Dia juga mengacak-acak rambut sendiri, seperti orang yang kehilangan akal sehat, membuat petugas medis tersebut bingung harus berbuat apa.


Sedangkan Viona yang sejak tadi bersama Mama Reni, mulai merasa ketar-ketir. Dia sadar hal ini pasti akan membuatnya terjerat masalah pelik.


Memikirkan hal ini, Viona ingin segera melarikan diri. Diam-diam dia melangkah menjauhi Mama Reni.


Sayangnya, aksi Viona ini tidak luput dari penglihatan mata Mama Reni.


"Kurang ajar, enak saja dia ingin kabur, setelah membuat anakku menjadi cacat!" geram Mama Reni, dia berdiri untuk mengejar Viona.


Jelas saja Mama Reni tidak terima, Viona adalah biang keladi dari nasib na'as yang menimpa putrinya.


Sebelum bertemu Viona, mama Reni sama sekali tidak berniat untuk mencelakai Airin. Dia bahkan berniat untuk baik pada Airin, dan menumpang di rumah anak tirinya itu.

__ADS_1


"Aahhkk ...." Viona menjerit sakit, karena Mama Reni menarik rambutnya dari belakang.


Gadis itu terjungkal, dia meringis, kepalanya juga sakit karena harus beradu dengan keramik lantai.


Viona menatap marah pada Mama Reni. "Dasar wanita gila, apa yang kau lakukan!"


"Kaulah yang gila, kesialan yang alami putriku disebabkan niat burukmu pada Airin. Kalau saja kami tidak bertemu wanita jahat sepertimu, putriku pasti tidak akan celaka!" Mama Reni menunduk untuk menjambak Viona yang masih terduduk di ubin.


"Enak saja kau ingin menyalahkanku, ini salah putrimu yang bodoh itu!"


Viona tidak ingin kalah, dia berdiri untuk membalas mama Reni.


Aksi saling jambak dan saling cakar pun terjadi, dua wanita itu bergumul layaknya pegulat yang sedang bertarung di atas ring.


"Apa kalian sudah gila? Ini rumah sakit, jangan membuat keributan di sini!" bentak security berwajah sangar.


Pria itu menatap Mama Reni dan Viona bergantian dengan sorot mata membunuh.


"Wanita ini yang salah, dia adalah penyebab putriku celaka!" Mama Reni mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajah Viona.


Viona membulatkan mata seraya menepis tangan Mama Reni. Dia mendengus dingin, lancang sekali wanita tua miskin ini menunjuk wajahnya dengan tangan kiri.

__ADS_1


"Mana ada, dia ini wanita gila. Aku bahkan tidak mengenalnya. Bapak security, bawa saja wanita tidak waras ini ke rumah sakit jiwa!" sangkal Viona.


"Sudah, sudah! Kalian bisa diam, tidak? Ini rumah sakit, dan perbuatan kalian ini mengganggu ketenangan pasien. Saya tidak mau tahu urusan kalian berdua, selesaikan masalah kalian di tempat lain, jangan membuat ulah di sini!" bentak security tersebut.


Viona mendekati security berbadan tegap itu, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tasnya.


"Bapak security, tahan wanita tua gila ini. Ini ada sedikit uang rokok untukmu!" bisik Viona seraya menyelipkan lembaran uang merah tersebut ke saku celana si security.


Viona mencibir Mama Reni, bagaimanapun dia tidak akan kalah berhadapan dengan orang miskin seperti ini.


Uang dengan mudah membuatnya berhasil lolos.


Dalam posisi ini Mama Reni tidak berdaya, dia hanya bisa membatin ketika Viona dibebaskan, sementara dirinya harus ditahan di pos security.


'Lihatlah, aku tidak akan membiarkanmu selamat. Aku pasti akan menuntut balas!'


Dalam perjalanan meninggalkan rumah sakit, Viona berpikir keras. Sekarang dia cukup aman, tapi dia sadar ini tidak akan berlangsung lama.


Jika tidak mengambil tindakan cepat, maka tidak mungkin dirinya akan berakhir di penjara.


"Iya, aku harus secepatnya bertindak, nanti malam aku harus kembali ke rumah sakit, aku harus melenyapkan Frita dan wanita tua itu. Baru aku benar-benar aman."

__ADS_1


Bersambung.


Ikuti terus kisah selengkapnya ya, terima kasih.


__ADS_2