Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Terlalu Protektif


__ADS_3

Di ruang rawat rumah sakit, Alexi masih belum tidur. Dia tetap setia menemani Airin, meski sejak tadi istrinya itu sudah memintanya untuk istirahat.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Alexi karena menyadari Airin sering melamun.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya kepikiran sama anak dalam kandungan Frita. Jika sama kamu ternyata aku bisa hamil, berarti kemungkinan besar Frita bukan hamil anaknya Galang."


Alexi naik ke atas ranjang, ia menatap lembut sembari mengusap kepala Airin. "Sudah, jangan dipikirkan, itu urusan mereka."


"Iya, Mas. Aku hanya kasihan aja sama Galang."


Setelah berkata seperti itu, Airin kembali melamun. Hal ini membuat Alexi dapat merasakan ada yang mengganjal di pikiran istrinya tersebut.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Alexi.


"Apa sebelum ini aku pernah hamil ya?" Pertanyaan tersebut lebih Airin tujukan pada dirinya sendiri.


"Kenapa memangnya?" Alexi semakin keheranan.


"Saat beberapa bulan nikah sama Galang, aku pernah mengalami pendarahan karena dia sering meminta haknya dengan kasar. Jadi bisa aja, kan ... kalau ternyata waktu itu aku sedang hamil, lalu keguguran. Ah, entahlah, aku juga bingung, Mas."


Airin menggelengkan kepala, dia tidak tahu harus bersukur atau bagaimana jika benar saat itu dia keguguran. Karena bisa jadi janin tersebut adalah milik pria yang telah merengut kesuciannya.


Alexi meringis mendengar cerita itu, terlebih saat memikirkan kemungkinan yang tidak subur itu adalah Galang.


Bukankah itu berarti janin tersebut adalah miliknya? Alexi merasa benar-benar berdosa jika mengingat kejadian malam itu.

__ADS_1


Kenyataan bahwa Airin adalah wanita yang bersamannya saat malam itu, membuat penyesalan di hati Alexi sedikit berkurang. Karena kini ia diberi kesempatan untuk menjaga wanita telah ia hancurkan hidupnya.


Namun, dengan kondisi Airin yang tengah hamil muda, sepertinya Alexi harus menunda dulu untuk memberitahu Airin yang sebenarnya. Dia khawatir kenyaataan itu akan membuat Airin syok, lalu berakibat buruk pada janinnya.


Setelah satu malam beristirahat di rumah sakit, keesokan harinya Airin sudah diizinkan pulang.


Tak ada bedanya dengan saat di rumah sakit, di rumah mertuanya pun Airin dipaksa oleh suaminya untuk menghabiskan waktu di kamar. Beristirahat, tanpa diperbolehkan melakukan apa-apa, membuat Airin merasa sangat bosan karenanya.


"Mas, aku bosan, aku ingin keluar," rengek Airin yang sedari tadi hanya duduk di atas ranjang, sambil membaca buku.


Sementara itu Alexi yang selalu setia di samping sang istri, tampak terkekeh geli melihat wajah cemberut Airin yang menggemaskan.


"Kamu harus ingat kata dokter, harus banyak-banyak istirahat, tidak boleh kelelahan," balas Alexi mengingatkan.


"Iya, aku ingat ... tapi kalau cuma di kamar terus, lama-lama aku yang stres. Mas juga dengar, kan? Kata dokter stres itu bisa berakibat buruk pada kehamilan, dan bisa menjadi salah satu penyebab keguguran," sungut Airin.


"Makanya aku jangan dipenjara!" Airin masih besungut-sungut.


Melihat istrinya sudah benar-benar dirundung kebosanan, Alexi pun mengalah. "Sebentar, aku ambilkan kursi roda untukmu."


"Mas, aku ini sehat, masih bisa jalan, kamu jangan ngadi-ngadi deh," suntuk Airin kesal, karena suaminya itu seperti sangat meremehkan dirinya.


"Tapi, My luvv ...."


"Mas, ibu hamil itu juga harus banyak gerak, biar kandungannya makin sehat."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kamu bergeraknya di atas ranjang saja. Kamu bisa melakukannya seliar yang kamu mau!" Alexi memainkan Alis mata menggoda istrinya.


"Sshh ... itu maunya kamu!" Airin semakin kesal, dan Alexi pun tergelak karenanya.


"Ya sudah, ayo kita keluar." Alexi akhirnya benar-benar menurut, karena sudah tidak tahan mendengar desakan dari istrinya sejak tadi.


Mereka bergandengan keluar kamar, menuju taman depan rumah untuk bersantai menikmati sore.


"Mas, jangan menatapku seperti itu!" Airin menutup wajah dengan telapak tangan, karena suaminya tersebut terus menatapnya tanpa berkedip.


Saat ini mereka tengah duduk dengan posisi berhadapan, di ayunan depan rumah.


"Tidak ada yang salah, kan? Toh, yang aku pandangi adalah istriku sendiri. Seorang bidadari tanpa sayap yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anakku."


Pujian itu membuat wajah Airin semerah udang rebus. "Kalau dilihatin terus, nanti lama-lama kamu bosan."


"Tidak, mana mungkin aku bosan melihat ciptaanNya yang sempurna ini." Alexi semakin bersemangat menggoda istrinya.


Airin mencebik. "Kita lihat aja nanti."


Saat meraka asik bersenda gurau, Airin melihat sosok Galang turun dari buggy car. Pria yang tak lain adalah mantan suami Airin itu, melangkah mendekati mereka.


'Mau apa dia?' gumam Airin seakan tak senang karena kehadiran Galang, yang datang tanpa diundang mengganggu we timenya bersama sang suami.


Bersambung.

__ADS_1


Salam hangat, semoga kita semua diberi kesehatan, dan puasanya lancar terus ya. Aamiin ....


__ADS_2