Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Kabar Bahagia


__ADS_3

Airin yang tiba-tiba jatuh pingsan, membuat Sarah mengurungkan niatnya untuk pulang saat itu juga. Dia ikut ke rumah sakit bersama keluarga Alexi yang lainnya.


Saat ini Sarah sedang berada di ruang tunggu, duduk di sana menanti kabar dari tim medis dengan perasaan cemas.


Berkali-kali ia mendesah berat, memikirkan apa yang menimpa Airin barusan. Apalagi dia tahu Airin masih sangat baru, mengenal yang namanya bahagia dalam hidup.


"Tenanglah, kita berdoa saja agar tidak terjadi hal buruk pada temanmu itu." Mommy Riana mengusap punggung Sarah yang sejak tadi tampak gelisah.


"Semoga saja ya, Tante. Kasihan Airin ... sebelum ini hidup tidak pernah senang," lirih Sarah.


"Sepertinya kamu khawatir sekali. Memangnya sedekat apa hubungan kamu dengan Airin?" tanya mommy Riana.


"Sangat dekat, Tante. Kita sudah berteman sejak kecil, bahkan nyaris jadi saudara."


Teringat pada nasib Airin, membawa Sarah kembali pada kenangan masa kecilnya dulu. Nasib mereka tak jauh berbeda, satunya yatim, satunya lagi piatu.


Saat itu ayahnya Airin sudah beberapa kali meminta bu Sari untuk menjadi istrinya, tapi selalu ditolak dengan alasan bu Sari belum siap bersuami lagi.


Sementara ayah Airin sangat kerepotan, dia harus bekerja mencari nafkah, membuat Airin kecil tidak ada yang mengurus.


Terus mendapat penolakan dari bu Sari, akhirnya ayah Airin meminang mama Reni, dengan harapan ada yang akan mengurusi kebutuhan putrinya.


Alih-alih diperlakukan dengan baik, Airin malah menjadi korban kesemena-menaan ibu tirinya. Bahkan tak jarang Airin kecil datang ke rumah Sarah dalam kondisi menagis tergugu, belum makan, tubuhnya juga sering biru-biru bekas cubitan dan pukulan ibu tirinya.


Bu Sari sangat kasihan pada Airin. Dia juga merasa berasalah karena ada andil dirinya dalam penderitaan Airin tersebut. Kalau saja sebelumnya dia mau menerima pinangan ayah Airin, pasti hidup Airin tidak akan semenderita itu.


Tapi mau bagaimana lagi? Yang namanya hati memang tidak bisa dipaksakan!


Sejak saat bu Sari meminta Putrinya untuk selalu baik pada Airin. Sarah juga tidak pernah keberatan berbagi kebahagiaannya, hingga persahabatan mereka pun terjalin baik sampai saat ini.


Alexi berdiri dari tempat duduknya saat dokter yang menangani Airin selesai melakukan pemeriksaan.


"Apa istriku baik-baik saja, Dokter?" tanya Alexi tidak sabaran.


Dokter wanita yang sudah puluhan tahun mengabdi di rumah sakit milik Rahadi Group tersenyum, lalu mengangguk. "Nona hanya kelelahan."

__ADS_1


"Oh, sukurlah!" Wajah Alexi tampak benar-benar lega.


"Trimester pertama kehamilan adalah fase yang paling rawan. Tapi beruntung janinnya sehat sehingga nona Airin hanya perlu beristirahat." Dokter itu menambahkan.


"Istriku hamil, Dokter?" tanya Alexi dengan mata terbelalak.


"Benar, Tuan. Saat ini sudah memasuki minggu ke tujuh."


Tujuh minggu? Bukankah itu artinya pembuahan tersebut langsung terjadi setelah mereka beberapa kali berhubungan suami istri? Ya Tuhan ... mengingat dirinya pernah mengabaikan Airin, membuat Alexi langsung didera perasaan bersalah.


Alexi membuang napas, dadanya sesak oleh rasa bahagia. Dia tidak menyangka atau berharap istrinya sedang hamil, karena sebelumnya Airin sendiri yang mengatakan bahwa dirinya cacat.


Alexi mengucapkan terimakasih pada dokter tersebut. Dia terus mengucap sukur atas kado pernikahan terindah dari Yang Maha Kuasa, ia lantas melangkah masuk ke dalam ruang rawat untuk menemui Airin.


Airin duduk ranjangnya dalam posisi fowler, keadaannya sudah mulai membaik. Hanya saja ia masih tidak berhenti menangis, setelah mengetahui ada janin yang kini tengah tumbuh di dalam rahimnya.


Rasa haru, senang, bahagia, semua itu membuat air matanya meleleh sendiri. Apalagi ia sendiri sama sekali tidak menyangka dirinya akan mengandung.


Melihat kedatangan Alexi. Tangan Airin terulur menyambut suaminya. "Mas, aku hamil .... anak kita, Mas. Kita akan jadi orang tua," isaknya.


"Aku akan jadi mommy!"


Alexi menarik sang istri lalu mendekapnya hangat. "Maafkan aku, Airin ... maafkan aku yang bodoh ini."


Airin mengernyit heran. "Maaf buat apa, Mas?"


"Maaf, aku sempat memperlakukanmu dengan tidak baik. Aku mengabaikanmu, pasti saat itu sangat berat bagimu. Padahal kamu tengah mengandung anak kita." Alexi semakin mengeratkan pelukannya.


Airin tersenyum lembut, tidak ada gunanya menyalahkan masa lalu, ya kan!


"Kamu nggak salah apa-apa, Mas. Aku juga nggak nyangka bisa hamil, jadi aku maklum kamu kecewa mendengar pengakuan itu."


Alexi terdiam, istrinya itu sangat baik. Untung saja dia tidak sampai melangkah terlalu jauh, pasti akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya jika Airin benar-benar menghilang pada waktu itu.


Alexi mengurai pelukannya saat mendengar suara langkah mendekat. Sarah, mommy Riana, bersama adik kembar Alexi yang datang.

__ADS_1


Alexi bergeser, memberi ruang bagi yang lain mendekati Airin.


Senyum Sarah mengembang, lantas memeluk Airin. "Ya ampun, Airin ... selamat ya!"


"Makasih ya ... maaf, kamu jadi harus kemalaman gara-gara aku," sahut Airin.


"Nggak apa-apa, kok. Yang penting sekarang aku lega, senang juga, aku pulang sekarang ya," pamit Sarah.


"Mas, antarin Sarah pulang, ya. Kasihan dia kalau naik taksi malam-malam begini," suruh Airin pada suaminya, yang dijawab anggukan setuju oleh Alexi.


"Eh, jangan ... aku nggak apa-apa kok. Biar Alvin di sini aja, jagain kamu," tolak Sarah.


"Jangan, apalagi rumah kamu jauh lho. Nanti malah kenapa-kenapa di jalan, pokoknya harus diantar!" paksa Airin.


Sarah menggeleng, meskipun Airin sendiri yang memaksa, tetap saja dia tidak mungkin setuju, karena sadar ada batas-batasan yang harus ia jaga.


"Leo, kamu yang antar Sarah sana!" suruh mommy Riana.


"Siap, Boss," balas Adelio cepat. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu.


"Ti-tidak perlu, Tante ... beneran, aku bisa pulang sendiri."


Saat ini Sarah berada dalam pilihan yang sulit. Baginya, diantar pulang oleh Alexi bukanlah hal yang dapat di benarkan, diantar oleh Adelio malah jauh lebih buruk, pastinya!


"Sudah sana! Tante cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa di jalan. Kalau Leo berani macam-macam sama kamu, laporin saja sama tante." Mommy Riana memberikan jaminan.


Sarah menghela napas berat. Mungkin dia mulai menyesal ikut ke rumah sakit ini. Andai saja sejak awal tahu penyebab Airin pingsan adalah sebuah kabar bahagia, dia pasti tidak perlu khawatir dan jadi ikut ke sini.


Lebih baik tadi dia langsung pulang, lalu datang menjenguk Airin esok hari. Ah, kenapa juga Airin harus pingsan di saat dia hendak pulang, seperti tidak ada waktu lain saja!


Sementara itu tak jauh darinya, Adelio sedang tersenyum penuh kemenangan. Melihat wajah Sarah yang semakin gugup, dia tahu gadis itu sudah tidak memiliki alasan untuk menolak.


"Ya, sudah ... biar aku diantar Leo saja," pilih Sarah pada Akhirnya dengan suara malas.


Bersambung.

__ADS_1


Selamat beribadah puasa bagi yang menjalankan, ya. Semoga Ramadhan kali ini menjadi berkah buat kita semua. Aamiin ....


__ADS_2