
Tak berapa lama menunggu di ruang makan, para wanita di dapur pun selesai dengan acara memasaknya.
Pandangan Adelio terkunci saat Sarah datang menghidangkan masakan. Senyum lebar pun Adelio kembangkan menyambut kedatangan wanita incarannya tersebut.
"Kamu kok kelihatan beda ya," pancing Adelio.
Sarah mengkerutkan dahi. "Apanya yang beda?"
"Dengan kamu menghidangkan makanan seperti ini, aku seperti melihat aura seorang istri yang berbakti dalam diri kamu," jawab Adelio sembari tersenyum menggoda.
Sarah mencebik, rasanya dia ingin muntah, dan ia butuh kantong besar atau mungkin karung untuk menampung muntahannya.
"Jangan dilihatin terus, si Sarah nggak bakalan hilang kok," celutuk Mommy Riana yang muncul dari arah dapur bersama Airin.
Mereka berempat pun duduk untuk makan bersama. Dan dengan terpaksa Sarah harus duduk bersisian dengan Adelio.
"Biasanya saat hendak makan seperti ini. Kak Airin selalu menuangkan nasi ke piring Bang Lexi, Mommy juga begitu sama Daddy. Apa kau tidak melakukan hal yang sama untukku, Sayang?"
Sarah memutar bola matanya, dia jengah dengan sikap Adelio yang tidak tahu malu. Pria itu bahkan tidak merasa sungkan sama sekali, merayu anak gadis orang di depan ibunya sendiri.
Ingin rasanya Sarah memaki Adelio. Namun, keberadaan Mommy Riana di sini membuat Sarah harus menahan diri, dia tidak ingin terkesan bar-bar di mata mertua Airin tersebut.
Jadi mau tidak mau Sarah pun menuruti keinginan Adelio.
"Terimakasih, Sayang Kalau kamu baik gini kan aku jadi senang," kekeh Adelio.
"Cukup nasinya?"
"Kayaknya kurang deh. Karena dilayanin kamu gini, aku pasti makannya banyak."
Mendengar itu sengaja Sarah menyendokkan nasi yang banyak ke piring Adelio, hingga piring itu membubung menyamai porsi kuli.
'Makan tuh playboy kampret, awas aja kalau nggak habis,' gerutu Sarah, yang lagi-lagi hanya bisa ia lepaskan dalam hati.
Mereka kembali ke ruang keluarga setelah selesai makan, mengobrol santai sebelum akhirnya Sarah pamit pulang.
Airin ikut mengantar Sarah ke depan rumahnya.
"Hati-hati di jalan ya, Sar. Sering-sering dong main ke sini," pesan Airin.
"Iya, pasti." Sarah mengangguk lalu memberi pelukan untuk Airin, setelah itu ia pun masuk ke dalam mobil milik Adelio.
"Kamu, jagain teman aku baik-baik," kata Airin pada Adelio.
__ADS_1
"Iya, Kakak jangan khawatir, aku jagainnya pakai hati malah," jawab Adelio sambil mengedipkan matanya.
Tentu saja Adelio sengaja memperkeras suaranya saat mengatakan itu, dengan tujuan agar Sarah mendengarnya.
Hampir bersamaan dengan mobil Adelio yang meluncur keluar, tampak mobil Alexi memasuki halaman rumah.
Airin pun menunda niatnya untuk masuk ke rumah, demi menyambut kedatangan suaminya tersebut.
"Kok pulangnya cepat, Mas?" Airin menerima tas kerja Alexi, saat suami tercinta sampai ke teras rumah.
"Iya, aku cuma ke proyek, ngecek bentar, sebelum kita berangkat," jawab Alexi sembari mereka berjalan menuju kamar.
"Berangkat ke mana, Mas?" tanya Airin penasaran.
"Surprise buat kamu nanti. Kalau aku kasih tahu sekarang, bukan kejutan lagi dong namanya," kekeh Alexi sembari mendaratkan kecupan di dahi Airin.
"Ish, apaan sih, Mas ... main rahasia-rahasiaan segala," sungut Airin memberengutkan wajahnya.
"Harus dong, yang jelas kita akan pergi honeymoon," balas Alexi, ia dengan sengaja membuat rasa penasaran istrinya semakin besar.
Airin menarik sudut bibirnya. "Ck ... mau honeymoon bisa, tapi bikin usaha sama bunda nggak boleh."
Alexi tertawa kecil mendengar keluhan istrinya, dia memang tidak ingin Airin terlalu lelah, terlebih saat ini istrinya itu sedang hamil muda.
"Bentar ya, Mas. Aku siapin air buat kamu," ujar Airin seraya melangkah ke kamar mandi.
Alexi tidak menjawab, dia malah mengikuti langkah Airin. Apa lagi yang ada di kepala mesumnya, selain ingin memaksa Airin untuk mandi bersama.
Di tempat lain.
Mobil yang dikemudikan Adelio sudah sampai di depan rumah Sarah. Seperti biasa, ia akan menemui Mama sari terlebih dulu sebelum pamit pulang. Bermanis muka untuk mengambil hati calon mertua.
Kali ini Sarah tidak protes lagi, dia membiarkan Adelio melakukan apa yang ia inginkan. Karena tahu semakin dicegah, semakin bersemangat pula Adelio melakukan keinginannya.
Sarah segera pergi ke kamarnya dan langsung tertengun melihat kamarnya yang sempit itu penuh sesak oleh paper bag dari berbagai butik terkenal.
Dari warna dan merknya Sarah tahu itu adalah barang-barang yang ia pilihkan di mall tadi siang.
Penasaran, Sarah pun memeriksa isi paper bag tersebut untuk memastikan kecurigaannya.
"Mama ...." Sarah berteriak setelah tahu isinya benar-benar barang yang ia pilihkan untuk kekasih Adelio tadi.
"Ada apa sih teriak-teriak?" Sosok Mama Sari sudah berdiri di ambang pintu kamar putrinya.
__ADS_1
"Ini punya siapa?"
"Ya punya kamu lah, tadi kata orang yang ngantar barang itu ke sini, mereka disuruh Leo ngantarin barang punya kam" jawab Mama Sari.
Setelah mengatakan itu Mama Sari pun beranjak meninggalkan kamar putrinya.
Sarah berdecak bingung, apa maksud pemuda itu mengirim semua barang ini ke rumahnya? Padahal tadi Adelio bilang barang-barang tersebut adalah untuk kekasihnya!
Sampai-sampai tadi itu Sarah sengaja memilihkan barang-barang sesuka hati, dengan maksud membuat pria tersebut jera meminta bantuannya.
Sarah merasa perlu untuk menghubungi Adelio untuk meminta penjelasan.
Tepat pada dering pertama, panggilan dari Sarah pun dijawab oleh Adelio.
"Iya, Sayang. Ada apa? Udah Kangen ya?" Suara Adelio terdengar begitu maskulin, selaras dengan wajah tampan yang ia miliki.
"Kamu itu apaan sih? Kenapa semua barang buat pacar kamu dikirim ke rumah aku?" tanya Sarah dengan suara melengking, membuat pria di ujung sana sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Terus salahnya di mana? Kan kamu pacar aku!" balas Adelio santai.
"Bukan, sejak kapan aku jadi pacar kamu!"
"Sejak aku jatuh hati sama kamu, Sarah. Kamu pacar aku, dan selamanya akan menjadi milik aku." Meski nada bicaranya lembut, tapi setiap kata yang keluar dari mulut Adelio itu terdengar tegas tidak bisa dibantah.
Seakan Sarah tidak memiliki hak untuk memilih nasibnya sendiri.
"Jangan seenak udelmu aja dong! Mana bisa status ditentukan oleh satu pihak. Pokoknya aku nggak mau sama kamu, besok aku kembaliin semua barang-barang ini!"
"Aku nggak mau dong, lagian itu semua pakaian wanita!"
Sarah mendengkus kesal. "Kalau gitu aku buang aja, daripada bikin sempit kamar aku!"
"Terserah, tinggal aku beliin lagi aja, sampai kamu mau terima pemberian aku." Adelio berkata dengan santainya.
Sarah mendesah berat, dia sudah bingung harus berkata apa, dan bagaimana caranya untuk menghadapi Adelio.
"Leo, sebenarnya mau kamu itu apa sih?" tanya Sarah, kali ini dengan suara memelas.
"Mau aku itu kamu, Sarah. Aku mau kamu jadi pacar aku, jadi milik aku!"
Adelio lantas mengakhiri panggilannya begitu saja, tanpa memberi Sarah kesempatan untuk bicara lagi.
Bersambung.
__ADS_1