Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Persiapan Prewedding


__ADS_3

Pagi harinya Airin mengerjap dalam dekapan suaminya. Hal pertama yang terlintas di kepalanya adalah rasa sukur. Bukan bermaksud membandingkan, hanya saja saat terlelap pun Alexi mampu membuatnya merasa nyaman.


Airin beranjak turun dari ranjang, dahinya berkerut heran saat melihat tumpukan paper bag di depan lemari besar kamarnya.


Entah sejak kapan barang-barang itu berada di sana. Mungkin saja sejak tadi malam, tapi ia tidak memperhatikannya.


Rasa penasarannya membawa Airin untuk memeriksa paper bag tersebut. Ia semakin keheranan karena semuanya adalah pakaian wanita, dan jelas saja semuanya adalah barang-barang branded.


Airin mengambil salah satunya, lalu kembali duduk di tepi ranjang. Ia menguncang pelan tubuh suaminya. "Mas ini punya siapa?"


Alexi menggeliat malas, mata perlahan terbuka menyorot paper bag yang ditunjukkan Airin. "Tentu saja milikmu, My Luvv!" Suaranya saja masih terdengar mengantuk.


"Tapi kapan kamu membelinya?"


"Semalam, aku menyuruh Sam membelikannya untukmu."


"Hah?" Airin terbelalak, mengingat paper bag itu juga berisi berbagai pakaian dalam, membuat wajahnya langsung memerah seperti udang rebus.


Demi apa? Bukankah itu berarti Sam mengetahui ukuran pribadinya? Sungguh memalukan!


"Kanapa?" Alexi bertanya dengan wajah keheranan.


Airin berdecak. "Kenapa menyuruh asistenmu, Mas? Aku malu."


"Itu karena kamu tidak bisa memilih pakaianmu sendiri. Apa selehai pakaian yang kau beli itu cukup?"


Airin membuang napas berat, mau apa lagi? Toh, semuanya sudah terjadi, ya 'kan!


Ia pun beranjak mengeluarkan isi paperbag tersebut, lalu mulai menyusunnya ke dalam lemari.


Setelah sama-sama mandi dan berganti pakaian. Mereka pun turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama.


Di meja makan sudah menanti kedua orang tua Alexi, beserta keempat adiknya.


Ini adalah kali pertama Airin makan bersama keluarga besar Alexi secara lengkap. Suasananya hangat, penuh kekeluargaan. Benar-benar sebuah keluarga yang harmonis, pikir Airin.


Sekali lagi Airin merasa bersukur berada dalam lingkungan keluarga ini. Ia sejak kecil sudah ditinggal untuk selamanya oleh sang ibunda, kini dapat merasakan perhatian seorang ibu, dari mertuanya.


"Bagaimana? Apa kalian sudah menentukan tema untuk resepsi kalian nanti?" tanya Riana, setelah keempat anaknya yang lain berangkat sekolah.


"Belum, Mom. Airin tidak ingin resepsinya diadakan di hotel kita," jawab Alexi.


Riana mengalihkan pandangan pada menantunya. "Kenapa? Apa ada masalah?"


Airin yang ditanyai seperti itu, tapi malah Alexi yang mulai bekeringat dingin. Bagaimana tidak? Kejadian buruk yang membuat Airin trauma itu tidak diketahui siapa pun, termasuk keluarganya.


Cukup dengan Airin mengatakan kamar nomor berapa yang menjadi tempat na'asnya, orang tua Alexi sudah pasti langsung tahu siapa pelakunya.

__ADS_1


Kamar nomor 909 itu tidak disewakan untuk umum, melainkan kamar khusus untuk pemilik hotel, bila sewaktu-waktu ingin menginap di sana.


"Bukan kenapa-kenapa, Bun. Dulu pernikahan pertamaku diadakan di hotel itu." Saat ucapan itu lolos dari mulut Airin, jantung Alexi berdegup kuat saking cemasnya.


Di mata kedua orang-tuanya, ia adalah anak baik. Berbeda dengan kedua adik laki-lakinya yang suka berganti-ganti wanita.


Ah, sepertinya citra anak baik-baik itu akan rusak!


Sebenarnya bukan kekecewaan orang-tuanya Alexi cemaskan, melainkan kemarahan Airin. Apalagi ia tahu Airin sangat mengutuk kejadian tersebut.


Saat ini dia sedang memikirkan cara yang tepat untuk memberi-tahu Airin, tapi belum menemukan celah tersebut. Ia terlalu khawatir Airin tidak terima, lalu pergi meninggalkannya.


"Aku berharap pernikahanku kali ini tidak lagi gagal lagi, Bun. Jadi aku ingin resepsinya diadakan di tempat yang berbeda." Lanjutan dari perkataan Airin itu membuat Alexi langsung bernapas lega


Sungguh, tadi ia khawatir Airin akan menceritakan tentang traumanya.


Riana tampak menganggukkan kepala. "Ehmm, bagaimana kalau resepsinya diadakan di rumah saja?"


"Aku setuju saja, Bun," sahut Airin menurut.


"Kalau kamu, Bang?" Riana beralih pada putranya.


"Ya, sepertinya bukan ide yang buruk, Mom." Alexi juga sepakat.


"Ya sudah. Kemarin mommy sudah menghubungi Dhivya, kalian bisa menemuinya untuk melakukan photo prewed."


'Photo prewedding?' gumam Airin dalam hati.


***


Sekelompok gadis tampak berlari mengotong temannya yang jatuh pingsan. Entah apa salah gadis itu, hingga tiba-tiba bola basket mengenai kepalanya.


Padahal ia hanya duduk menonton dengan tenang. Sungguh, ia sama sekali tidak berniat untuk menjadi penonton di sini, hanya saja ia dipaksa oleh seorang senior untuk menjadi supporter timnya.


"Leo, apa kau sudah tidak memiliki pekerjaan selain menggangu gadis itu?" tegur Adiba kesal.


Orang satu kampus tahu, belakangan ini Adelio memiliki hobi baru, yaitu mengganggu seorang juniornya.


Adelio menggelengkan kepala, ia tidak menyangka gadis tersebut akan sampai pingsan. Niatnya hanya ingin mengerjai gadis itu, tidak betul-betul ingin menyakitinya.


Sambil menggaruk kepalanya, Adelio barlari menyusul gadis yang barusan dicelakainya. Mungkin orang lain tidak tahu, tapi dua saudari kembarnya itu tahu Adelio sedang kehabisan akal.


Siapa yang tidak kenal Adelio di kampus ini. Setiap kaki tegapnya melangkah, akan menarik tatapan penuh minat dari para gadis.


Tubuhnya Atletis, dan merupakan ketua tim basket di kampusnya. Mungkin ia layak disebut selebriti kampus.


Hanya saja, ada seorang junior yang tidak peduli akan pesonanya. Hal ini membuatnya merasa tertantang. Sayangnya, rayuan maut yang ia miliki tidak mempan pada gadis tersebut. Sehingga ia tampak seperti orang kehabisan akal.

__ADS_1


"Sudahlah, biarin aja pembuat onar itu, yuk kita pulang!" Adila menarik tangan saudari kembarnya.


Adiba mengganguk, kedua gadis itu lantas berjalan menuju pelataran kampus, tempat mobilnya terparkir.


Di parkiran, sudah ada Viona yang menanti kedatangan meraka.


Gadis itu syok saat mengetahui kabar Alexi akan mengadakan resepsi pernikahan. Bisa-bisa harapannya untuk mendapatkan Alexi kembali jadi pupus.


Untuk itulah ia datang ke sini, dengan niat ingin mempengaruhi pikiran adik Alexi.


"Kak Viona? Sedang apa kau di sini?" Adila mengeryit heran.


Viona membuang napas berat, kedua gadis kembar ini sangat jarang berjalan terpisah, padahal niatnya ke sini hanya untuk bertemu Adila saja.


Adila memiliki pemikiran yang sedikit lambat, dan lumayan mudah dipengaruhi. Sedangkan Adiba, cara berpikirnya lebih cerdas dan rasional.


'Tapi sudahlah, lebih baik aku coba saja!' gumam Viona dalam hati.


Viona menatap kedua adik kembar Alexi bergantian. "Diba, Dila, kalian harus percaya padaku! Istri Alexi itu bukan wanita baik-baik, ka- ...."


"Bukan wanita baik-baik bagaimana maksudmu?" Adiba memotong, bahkan saat ucapan Viona belum selesai.


"Iya, kak Airin baik kok." Adila menimpali.


"Ya, Tuhan. Kalian jangan tertipu wajah polosnya. Dia itu wanita penggoda yang hanya ingin memanfaatkan harta keluarga kalian!" hasut Viona.


"Kak, dengar ya! Aku percaya penilaian daddy dan mommyku! Jadi, jika mereka tidak merasa kak Airin wanita yang jahat, maka aku pun akan percaya," tegas Adiba.


"Hooh, mending kamu cari cowok lain aja deh, Kak. Jangan ganggu bang Lexi lagi," tambah Adila.


"Tapi kalian harus dengarin aku dulu!" Viona masih tidak ingin menyerah.


"Udah deh, Kak. Aku nggak perlu dengarin apa pun dari kamu!" Adiba mendorong Viona yang menghalangi jalan masuknya.


Setelah Adila ikut masuk, mobil milik gadis kembar itu pun meluncur meninggalkan area parkir.


Viona hanya memandanginya sambil menghentak kesal. "Cih, sombong sekali! Lihat aja nanti, tanpa bantuan kalian pun aku pasti bisa mendapatkan Alexi lagi!"


Viona pun bergegas pergi. Ia harus memikirkan cara lain, untuk memisahkan Alexi dari Airin.


Bersambung.


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya, ya.


Terimakasih.


Ehmm, satu lagi nih karya teman aku yang nggak kalah serunya. Yuk pada mampir.

__ADS_1


Covernya seperti di bawah ini ya.



__ADS_2