Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Menjadi Retak


__ADS_3

Airin tiba di warungnya, dia mencium punggung tangan Alexi, dan menunggu suaminya itu berangkat, baru setelahnya ia masuk ke dalam warung.


Airin mulai menata barang-barang dengan gerakan lesu. Berbagai cacian dari bu Santi dan bu Endang tadi, masih terngiang jelas di telinganya, membuat hatinya sakit.


Tapi di balik itu, dia juga bahagia dengan sikap yang ditunjukkan Alexi. Pria itu memang terlihat biasa saja saat mereka sedang berdua, tapi membelanya mati-matian saat ia dihina orang lain.


Entahlah, semua sikap Alexi mulai membuatnya menaruh perhatian. Dia mulai nyaman, tapi di sisi lain dia juga takut, insecure, rendah diri. Merasa dirinya tidak pantas menerima perhatian dari Alexi, apalagi berharap lebih.


Baru beberapa saat dibuka, warung Airin sudah mulai ramai. Dia bersukur karena skandal yang terjadi sebelumnya, tidak berpengaruh pada pelanggan warung.


Mungkin orang-orang sudah tahu dagangan Airin enak, sehingga mereka tidak peduli apa yang dilakukan Airin. Yang penting bagi mereka makanannya enak, perut mereka kenyang, dan tidak membuat kantong bolong.


Tak lama kemudian Airin melihat Sarah meilntas di depan warungnya, sahabatnya itu hendak berangkat kerja. Mereka memang tidak pernah bertemu lagi, sejak pernikahan terpaksanya dengan Alexi.


"Sarah, tunggu!" panggil Airin.


Tapi gadis yang dipanggilnya itu melengos, terus saja melangkah seolah tidak mendengar panggilan dari Airin.


"Sarah, tunggu sebentar!" panggil Airin lagi, kali ini sambil setengah berlari untuk mengejar sahabatnya itu.


Arin berhasil menahan langkah Sarah, tapi langsung mendapat tepisan, dan tatapan jijik dari sahabatnya itu.


"Minggir, aku mau berangkat kerja!" seru Sarah dengan suara ketus.


"Sarah, kamu marah sama aku? Kalau gitu aku minta maaf," ujar Airin tulus.


"Marah? Untuk apa aku harus marah? Aku hanya jijik sama orang munafik kayak kamu!" ketus Sarah.


"Sar, aku tau kamu kecewa karena aku tiba-tiba nikah sama Mas Alvin. Tapi aku benar-benar nggak ada niat, untuk ngerebut pria yang ditaksir sama sahabat aku sendiri!" lirih Airin.


"Nggak niat kamu bilang? Haha ...." Sarah tertawa hambar. "Terus, kamu bilang aku kecewa? Cih, memangnya laki-laki di dunia ini cuma Alvin doang!"


"Ya terus, kalau kamu nggak marah, nggak kecewa, kenapa sikap kamu jadi kayak gini sama aku? Aku nggak mau kehilangan sahabat satu-satunya cuma gara-gara laki. Apalagi selama ini kamu baik banget sama aku, kamu banyak bantuin hidup aku, aku berhutang budi sama kamu," lirih Airin pilu.


"Cih ... sahabat! Aku tegasin ya Airin, aku jijik sama kamu! Aku nggak mau kenal orang munafik kayak kamu!" geram Sarah.


"Ya, tapi kasih tahu aku alasannya dong! Kenapa kamu ngevonis aku kayak gitu?"

__ADS_1


"Hahaha ... konyol!" Sarah kembali tertawa hambar. "Setelah semua yang terjadi kamu masih tanya alasan? Kamu bilang nggak ada rasa sama Alvin, tapi kamu bawa dia ke rumah, sampai ditangkap warga karena berbuat mesum. Kamu munafik Airin! Kalau aja dari awal kamu bilang punya perasaan sama Alvin, aku pasti nggak akan sakit hati sama kamu. Kamu tahu sendiri aku paling benci, yang namanya musuh dalam selimut!"


"Sar, kenyataannya nggak seperti itu! Aku emang lagi di rumah, pelukan sama Alvin, tapi lagi nggak berbuat mesum!" Airin mencoba menjelaskan.


"Oke, fine! Aku coba percaya kamu. Lagi nggak berbuat mesum, oke! Tapi kamu sendiri juga ngakuin, saat itu kamu lagi pelukan sama Alvin! Itu artinya apa? Kamu bermain di belakang aku, apa salahnya selama ini jujur kalau kamu juga suka sama Alvin. Aku pun pasti bakal ikhlas-ikhlas aja. Toh, aku tau Alvin emang care sama kamu. Tapi kamu munafik! Kamu tusuk aku diam-diam kayak gini, kamu tahu pengkhianatan tersadis? Itu pengkhianatan dari orang yang paling kita percaya!" Sarah menumpahkan semua yang mengganjal di benaknya.


"Minggir, aku nggak mau kenal sama orang munafik, aku jijik sama orang bermuka dua!" Sarah mendorong tubuh Airin yang menghalangi jalannya. "Aku harus pergi kerja, jangan pernah temui aku lagi!"


Airin menghela napas berat, sembari memandangi Sarah yang berlalu menjauh. Dia tidak ingin petemanan mereka retak, tapi dia tidak tahu bagaimana lagi harus menjelaskannya pada Sarah.


Airin kembali ke dalam warung, moodnya benar-benar memburuk hari ini. Meski begitu dia tetap bersikap ramah pada pengunjung, tidak ingin masalah pribadinya berimbas buruk pada usahanya.


Tanpa terasa hari pun beranjak siang, Alexi datang ke warung untuk makan siang. Airin hanya melayaninya seperti pelanggan biasa, tanpa bisa menemaninya makan, karena harus melayani pesanan pelanggan yang lain.


"Airin!" panggil Alexi setelah ia menghabiskan santap siangnya.


"Iya, Mas."


"Ini uangnya!" Alexi meletakkan selembar uang seratus ribu di atas meja.


"Kok makan di warung istri sendiri pake bayar sih, Mas?!" Airin hanya melirik uang tersebut.


"Oh, begitu!" Airin pun mengambil uang tersebut, lantas kembali ke dalam warung.


Belum lima menit Airin berada di dalam warung, teriakan Alexi sudah kembali terdengar memanggilnya. "Airin!"


Airin bergegas menghampiri. "Ada ada apa lagi, Mas?"


"Kembaliannya mana?"


"Nggak ada!"


"Hah?"


"Masa sama istri sendiri, uang seratus ribu aja kembaliannya diminta sih, Mas! Perhitungan banget!" rutuk Airin.


Mendengar itu Alexi pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudah, terserah kamu saja!"

__ADS_1


Pria itu lantas berlalu meninggalkan warung, sedangkan Airin hanya memandangi kepergian suaminya sambil terkekeh geli.


Sore hari, Alexi kembali dengan sepeda motor bebeknya untuk menjemput Airin. Mereka berdua berboncengan pulang ke rumah, seperti sepasang suami istri yang harmonis. Orang-orang tidak tahu saja, jika mereka tidur di kamar terpisah.


Setelah selesai mandi, Alexi menghampiri Airin yang duduk di sofa, istrinya itu tampak sedang menonton drama di salah satu stasiun televisi.


"Mas mau dibuatin kopi?" tanya Airin.


Alexi mengangguk kemudian mendudukkan diri sofa tersebut.


Airin pergi ke dapur, menyeduh kopi, lalu kembali untuk menemani Alexi.


"Silakan, Mas."


Alexi mengambil gelas kopi tersebut, lalu menyeruputnya. "Kenapa tidak manis?"


"Hah? Masa sih, Mas. Itu takaran gula sama kopinya seperti biasa kok," sahut Airin heran.


"Nih, coba sendiri kalau tidak percaya!" Alexi mendekatkan gelas kopinya pada Airin.


Airin mencicipi kopi tersebut. "Manis kok, lidahnya Mas aja kali yang salah!"


"Oh, mungkin tadi itu saya minumnya sambil melihat kamu, jadi kopinya kalah manis," ujar Alexi sambil terkekeh menggoda.


Dia mengambil gelas kopi itu dari tangan Airin, lantas menyeruputnya satu tegukan.


"Ish, Mas bisa aja!" sungut Airin dengan wajahnya yang bersemu merah.


"Hanya agar suasananya lebih cair, Airin. Saya merasa kita terlalu kaku!" balas Alexi.


"Iya, Mas, kamu benar." Airin mengangguk. "Ehmm, Mas. Aku sama Sarah lagi renggang gara-gara masalah kita, kamu bantuin aku dong buat jelasin ke dia. Aku nggak enak sama dia, aku juga banyak hutang budi sama dia."


Alexi menghela napas berat. "Ya, saya tidak keberatan untuk menjelaskan sama dia. Tapi masalahnya, dari kemarin itu Sarah tidak mau lagi bicara sama saya."


"Lalu aku harus gimana ya, Mas? Aku nggak mau kehilangan sahabat sebaik dia," lirih Airin dengan wajahnya lesu.


"Jangan dijadikan beban. Jika memang pertemanan kalian itu tulus, maka dia akan kembali seperti semula," bujuk Alexi mencoba menenangkan.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya, ya. Terimakasih.


__ADS_2