Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Tidak Mau Mengaku


__ADS_3

Pria yang mengenakan jas hitam ini tersenyum penuh kharisma. "Kebetulan sekali kita langsung bertemu. Nama saya Farrel, saya adalah notaris yang telah diberi amanat oleh almarhum. Bisa minta waktu kalian berdua sebentar."


Airin sama sekali tidak mengerti dengan maksud pria ini. "Maksudnya bagaimana ya, Pak?"


"Begini, Nyonya. Seminggu yang lalu Galang datang ke kantor saya untuk membuat surat wasiat. Pesannya jika dia meninggal, maka semua aset yang ia miliki akan diwariskan kepada Anda," ujar Farrel.


Airin semakin tidak mengerti, bagaimana bisa seperti itu?


Apa Galang sudah memiliki firasat bahwa dia akan segera pergi?


"Tuan, Nyonya, bagaimana jika saya jelaskan selengkapnya sambil kita makan siang?" usul Farrel.


Airin dan Alexi mengangguk setuju, mereka lantas pergi menuju sebuah restoran.


Di sana Farrel menyampaikan semuanya. Mulai dari hubungannya dengan almarhum yang merupakan teman semasa sekolah.


Flash Back On:


Setelah meminta bantuan Alexi untuk mendapat akses ke unit apartemen selingkuhan frita, dan berhasil menangkap basah kebusukan istri keduanya itu, keesokan harinya Galang mendatangi kantor Farrel.


"Hei, kawan! Kau datang ke kantorku ini seabad sekali, tapi datang-datang malah membawa jelek, ada apa?" Farrel sengaja menggoda Galang, hubungan mereka berdua memang cukup akrab.


"Aku sedang banyak masalah," jawab Galang lesu.

__ADS_1


"Dasar, kau baru ingat padaku di saat ada masalah, tapi sudahlah, ayo duduk!" Farrel mempersilakan.


Baru saja duduk, Galang langsung memberitahu, "Istriku selingkuh, dan ternyata anak yang dikandungnya bukan darah dagingku."


"Jadi kau ke sini untuk memintaku mengurus perceraian dengan istrimu?" tebak Farrel.


Galang mengangguk. "Itu salah salah satunya. Yang lain, aku ingin membuat surat kuasa. Jika aku meninggal nanti, aku ingin semua asetku diwariskan pada mantan istriku yang pertama."


Farrel terkekeh lalu mencibir Galang. "Kau ini ada-ada saja, perkataanmu seperti orang yang tidak akan hidup lama lagi. Lagi pula kenapa harus diwariskan pada mantan istrimu?"


Galang mendesah berat, raut wajahnya tampak dipenuhi rasa frustasi. "Kita tidak tahu akan hidup sampai kapan, kawan! Aku hanya tidak ingin terlambat, dan membuat penyesalanku jadi semakin besar."


"Aku banyak salah pada mantan istriku, aku terus-terusan menyakitinya selama pernikahan kami, tapi bukan itu alasanku ingin memberikan semua asetku padanya. Kau tahu sendiri, bukan? Aku tidak memiliki keluarga lagi, sedangkan mantan istriku adalah wanita yang dipilih oleh orang-tuaku, jadi aku merasa dia adalah orang yang paling berhak atas semuanya." Galang bercerita panjang lebar.


Farrel mengangguk, kali wajahnya berubah serius. Dia sudah mengerti alasan Galang. "Baiklah, aku akan membantumu."


Farrel menatap Airin dan Alexi bergantian, sama seperti dua orang yang ada di hadapannya ini, ia pun sangat berkabung atas kepergian Galang.


"Saya tidak menyangka dia benar-benar akan pergi secepat ini," ujar Farrel.


"Iya, padahal dia sedang berusaha untuk menjadi sosok yang lebih baik," sahut Alexi.


"Sukurnya dia telah menyadari kesalahan sebelum pergi," sahut Farrel yang lantas beralih pada Airin, "Nyonya, saat menemuiku waktu itu, almarhum juga meminta agar aku menyampaikan permintaan maafnya padamu."

__ADS_1


Airin mengangguk pelan, "Saya sudah lama memafkannya, Pak."


Tak lama setelah itu pelayan datang membawakan pesanan, mereka pun menyantap hidangan masing-masing.


Selesai makan, Farrel menyerahkan beberapa dokumen untuk ditanda-tangani Airin.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit," ujar Farrel sembari merapikan kembali berkas-berkasnya.


"Silakan, Pak. Terima kasih," balas Airin dan Alexi bersamaan.


Setelah dari restoran, Airin dan Alexi melanjutkan niatnya untuk ke kantor polisi.


Di sana sudah ada Sam asisten Alexi, dan Roby detektif swasta disuruhnya menyelidiki pelaku tabrakan.


"Bagaimana? Apa Viona sudah mengakui keterlibatannya?" tanya Alexi pada Roby.


"Belum, Tuan. Dia bersikeras tidak mengaku, tapi kita punya bukti untuk memberatkannya, mobil yang dikendarai Nona Frita saat kecelakaan itu, adalah milik Nona Viona," jawab Roby.


Alexi mengganguk, dia lantas beralih pada asistennya. "Sam, minta polisi untuk membawa Viona ke sini. Aku akan memaksanya untuk mengaku."


"Baik, Tuan."


Sekitar sepuluh menit kemudian, Viona dibawa menemui Alexi dengan dikawal oleh dua orang polisi.

__ADS_1


Melihat Alexi, Viona langsung berlari dan memeluk dengan erat, tanpa peduli ada Airin di sampingnya. "Sayang, Lexi ... tolong bebaskan aku dari sini. Aku tidak salah apa-apa, aku difitnah ...."


Bersambung.


__ADS_2