Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Mengadu Pada Calon Mertua


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Viona sudah mendatangi rumah orang tua Alexi. Setelah tiba di parkiran mobil untuk para tamu, dia harus menaiki buggy car. Karena hanya keluarga pemilik rumah besar ini, yang diizinkan menggunakan mobil sampai ke depan halamannya.


"Halo, Sayang ... sedang apa kalian?" Viona bergegas turun dari Buggy car, seraya menyapa gadis yang dilihatnya seramah mungkin.


Dia mendekati duo kembar yang tampak sedang beristirahat, di taman depan sehabis lari pagi. Viona lantas duduk di depan kedua gadis itu.


"Mau apa lagi kau ke sini?" balas Adiba ketus, sementara Adila yang ada di sampingnya hanya menatap tidak suka.


Viona menghela napas pelan. "Kok jutek gitu sih jawabnya! Tentu saja karena kakak rindu sama kalian. Ehmm, kakak juga punya sesuatu buat kalian!"


Viona lantas menyerahkan dua kotak berisi sepatu training berlogo ceklis limited edition, yang sudah ditanda tangani oleh atlet idola kedua gadis kembar itu.


"Ini sudah ditanda-tangani Cristiano Ronaldo lho!" Viona mengeluarkan sepatu itu dari kotak, sambil menatap dua gadis kembar itu dengan mimik wajah mengiming-imingi.


"Benarkah!" sahut Adila dengan mata berbinar, seraya hendak menyambar sepatu itu dari tangan Viona.


"Jangan Dila! Daddy masih mampu membelikannya untuk kita!" Adiba menepis tangan saudarinya.


"Ya sudah, kalau Diba nggak mau, sepatunya buat Dila aja!" ujar Viona.


Adila yang ingin sekali mengambil sepatu itu harus mengurungkan niat, karena mendapat pelototan tajam dari saudarinya.


Melihat adegan itu Viona tersenyum puas dalam hati. Jika Adiba tidak termakan rayuannya, tapi masih ada Adila yang bisa ia bujuk, untuk berpihak padanya.

__ADS_1


"Ehmm, tante Ana ada?" tanya Viona.


"Ada di dalam," sahut Adila.


"Kalau gitu kakak tinggal dulu, ya. Kakak mau ketemu tante Ana." Viona menyunggingkan senyum termanisnya, lalu masuk ke dalam rumah keluarga Rahadi.


"Dasar penjilat, kalau ada maunya aja, manis banget," sinis Adiba sembari menatap punggung Viona.


"Mang!" panggil Adiba pada tukang kebun yang sedang membersihkan taman di depan rumah.


Pria itu pun datang menghadap.


"Iya, Non. Ada apa?" tanyanya.


"Kotak itu, tolong buang ke tempat sampah ya, Mang," tunjuk Adiba pada kotak sepatu yang ditinggalkan Viona.


"Terus kamu mau terima barang pemberian Viona? Mau ngedukung dia balikan lagi sama bang Lexi, gitu?"


"Ya, bukan gitu, aku juga nggak mau dia balikan sama bang Lexi. Tapi, menerima barang pemberian dia bukan berarti kita ngedukungnya, kan! Lagian kita juga nggak minta, jadi kita nggak akan hutang budi. Kalau besok-besok dia ungkit masalah sepatu, tinggal kita balikin aja, kalau perlu lempar ke mukanya," Adila terkekeh menampakkan seringaian liciknya.


Adiba menggelengkan kepala, sembari tertawa mengejek. "Aku lupa, kalau kamu ini mewarisi otak liciknya grandma!" Dia lantas mengalihkan pandangan pada pelayannya, "Nggak jadi dibuang deh, Mang. Adilanya nggak boleh!"


Pelayan itu beranjak pergi.

__ADS_1


"Bilang aja kamu juga mau sepatu itu!" sinis Adila balik mengejek.


Sementara itu di dalam rumah, Viona menemui Riana yang sedang bersantai di ruang keluarga.


Setelah mengucap salam, dan memberikan paper bag yang dibawanya. Viona pun duduk berseberangan dengan calon mertuanya itu.


"Bagaimana? Apa kamu sudah bertemu Lexi?" tanya Riana.


"Iya, kami sudah bertemu, tadi dia menolak untuk bicara denganku," adu Viona memelaskan suara, "Tante bantu aku ya, buat bujuk Alexi," rengeknya.


Riana menghela napas berat. "Maaf, Nak. Tante tidak bisa melakukan itu. Sejak awal kamu berhubungan dengan Lexi, tante tidak melarang atau mendukung hubungan kalian. Tante membebaskan Alexi sepenuhnya untuk memilih pasangan yang dia inginkan."


"Tapi, Tante. Masalahnya sekarang ini Lexi sedang menjalin hubungan dengan wanita penggoda. Ini tidak baik buat Lexi, Tante. Apa Tante tidak takut? Bisa jadi kan, tujuan wanita itu mendekati Lexi hanya karena menginginkan hartanya."


"Wanita penggoda?" gumam Riana.


"Benar, Tante. Bahkah Lexi sudah menikahi wanita itu, mereka ditangkap basah warga sedang berbuat mesum, wanita itu pasti sudah menjebak Lexi. Tante tidak mau kan, punya menantu yang tidak baik!"


"Alexi sudah menikahi wanita itu?" tanya Riana dengan wajah memerah, berusaha menahan amarah.


"Iya, Tante. Lexi sudah menikahinya, Tante tidak bisa membiarkan Lexi berlama-lama terjebak dengan wanita itu."


Melihat perubahan pada raut wajah Riana, Viona pun bersorak riang. Dia yakin sekali, bahwa Riana telah terpengaruh oleh kata-katanya

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, tunggu bab kedua nanti sore, ya.


__ADS_2