Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Pesekutuan Para Dedemit


__ADS_3

"Ponselku ... ponselku ... heu, heu, heu ...."


Mama Reni menangis tergugu, dia terduduk di paving block seperti anak kecil yang baru direbut mainannya.


Saat ini orang-orang yang berada di lokasi kejadian sudah berkumpul mengelilingi mama Reni. Namun, tanpa tahu malu mama Reni terus saja meraung-raung seperti orang sudah kehilangan akal sehat.


"Ma, bangun ... malu dilihat orang!" Frita meraih tangan mama Reni, mencoba memapah ibunya itu untuk berdiri.


Alih-alih disambut, tangan Frita malah ditepis kasar oleh mama Reni. Kini mama Reni melayangkan tatapan berapi-api pada orang-orang di sekitarnya.


"Dasar orang-orang bodoh, tidak berguna! Bukannya mengejar jambret yang mengambil ponselku, kalian malah berkumpul di sini!" bentak mama Reni.


"Kenapa menyalahkan kami? Itu salahmu sendiri karena lalai menjaga barang bawaanmu!"


"Benar, lagi pula bagaimana kita harus mengejar jambret itu, mereka sudah terlalu jauh!"


"Sudahlah, lebih baik kita bubar saja. Sepertinya wanita ini sudah tidak waras."


"Iya, tidak ada gunanya kita berbelas kasihan padanya!"


"Huuu ...."


Orang-orang itu pun segera bubar. Mereka yang mulanya kasihan pada mama Reni, menjadi kesal karena sifat mama Reni yang tidak tahu diuntung.


"Kurang ajar! Berani sekali kalian menghinaku" raung Mama Reni.


Merasa tidak terima dicemooh oleh orang-orang tersebut, mama Reni segera berdiri ingin mengamuk.


Untung saja Frita dengan cepat menghalanginya. Jika tidak, pasti keadaan akan semakin kacau.


"Mama ngapain, jangan membuat kita semakin malu!" Frita sekuat tenaga menahan ibunya.


"Orang itu harus diberi pelajaran, masa kamu diam saja mamamu ini dikatai tidak waras!" Mama Reni menggeram kesal.


"Sudah, Ma ... sudah! Jangan membuat masalah baru, saat ini hidup kita sudah susah."

__ADS_1


Mama Reni membuang napas berat, dia emosi karena pikirannya sedang kacau. Saat ini mereka sudah tidak punya apa-apa lagi, sementara haus dan lapar sudah menyerang sejak tadi.


Mereka berdua begitu frustasi, sama-sama tidak mengerti mengapa nasibnya begitu sial.


Di saat mereka nyaris gila memikirkan nasib kedepannya. Tiba-tiba seorang wanita seksi berpenampilan mewah, datang menghampiri ibu dan anak ini.


"Aku bisa membantu kesusahan kalian, dengan syarat kalian mau bekerja sama!" Wanita ini adalah Viona.


"Siapa kau?" tanya Frita heran.


Akal pikirannya tidak bisa memproses penawaran yang diberikan Viona. Lagi pula siapa yang tidak bingung, jika ada orang tak dikenal tiba-tiba datang menawarkan kerja sama.


Kerja sama apa?


Viona tersenyum tipis. "Nanti kalian juga akan tahu siapa aku."


"Dari mana kau mengenal aku dan ibuku?" Frita kembali bertanya.


"Mudah bagi orang sepertiku untuk mengetahui identitas seseorang, aku tahu kehidupan kalian berdua mulai dari A sampai Z."


"Tidak etis membicarakan masalah itu di sini. Bagaimana jika kita mencari tempat makan, lalu kita bicarakan di sana," usul Viona.


Wajah Frita langsung berbinar mendengar kata makan, kebetulan sekali dia sudah menanggung haus dan lapar sejak tadi.


"Bagaimana? Kau setuju?"


Frita mengangguk cepat. "Baiklah."


Frita dan mama Reni mengekor ke mobil Viona, lalu Viona membawa ibu dan anak itu menuju sebuah restoran.


Di sana Viona memesankan makanan untuk calon partnernya. Frita dan mama Reni menyantap hidangannya dengan begitu lahap, sampai-sampai membuat Viona tersenyum mengejek.


"Baiklah, sembari kalian makan. Aku akan mulai bercerita, agar kalian tahu dasar kerja sama ini."


Frita menggaangguk, dia memasang telinga untuk mendengar penjelasan Viona selanjutnya.

__ADS_1


"Ini masalah Airin."


"Apa?"


Viona tersenyum tipis. "Seperti dugaanku, kalian pasti terkejut karena kita memiliki musuh yang sama. Baiklah, aku langsung saja pada intinya. Aku ingin kalian melenyapkan Airin ... tapi ingat, jangan sampai namaku ikut terseret."


"Mengapa kau ingin kami melenyapkan Airin?" tanya Frita bingung.


Setahu Frita, kakak tirinya itu bukanlah tipe manusia yang sering membuat masalah dengan orang lain.


Viona menjawab, "Karena dia janda gatal yang telah merebut kekasihku dengan cara kotor, dan dia harus membayar mahal karena telah berani melawanku."


"Biar kuberitahu satu hal. Galang menjadi curiga tentang ayah biologis anak yang dikandungmu, karena saat ini Airin tengah hamil. Jadi secara tidak langsung, Airin adalah biang keladi yang membuat rumah tanggamu menjadi kacau," tambah Viona.


"Sialan, kenapa juga Airin mandul itu bisa hamil!" Mama Reni mendengus kesal.


"Bagaimana kau bisa tahu masalahku?" tanya Frita.


Frita heran sekaligus kagum karena Viona tahu segalanya. Apakah dia ini paranormal? Pikir Frita.


"Kau ini benar-benar banyak tanya." Viona berdecih mengejek, lalu menjelaskan, "Sebelumnya aku sudah bilang, mudah bagiku untuk mengetahui identitas kalian. Aku punya uang, aku punya kekuasaan. Dengan keduanya aku bisa mendapatkan informasi apa pun dengan mudah. Jadi kau jangan coba-coba ingin bermain api denganku."


Frita manggut-manggut seperti orang bodoh.


"Jika kau mau menjalankan tugas dariku, sebagai imbalannya aku akan memberimu tempat tinggal, beserta fasilitas lengkap. Bagaimana?"


Terang saja Frita tidak menyiakan kesempatan emas ini, dia langsung mengangguk. "Aku setuju, jadi kapan kau ingin aku melenyapkan Airin?"


"Belum tahu, saat ini dia tengah pergi berbulan madu. Anggap saja sekarang kita sedang membiarkan dia menikmati kebahagiannya yang sesaat, sebelum pindah ke neraka. Saat dia kembali nanti, kita telah siap dengan kejutan besar untuknya."


Frita mengangguk antusias, dia akan menjalani misi dari Viona sebaik mungkin. "Baiklah, kau atur siasatnya, biar aku yang mengeksekusi."


Bagi Frita, misi ini bukan sekedar tentang imbalan yang diberikan Viona, melainkan juga mencari kepuasan batin. Akal dengkinya tidak terima karena kehidupan Airin lebih bahagia dibanding dirinya.


Bersambung.

__ADS_1


Kira-kira dedemit-dedemit ini enaknya diapain ya? Hehe ....


__ADS_2