
Pagi harinya Alexi tampak masih terlelap di alam mimpi. Dan hal ini membuat Airin beberapa kali berdecak kesal.
Bagaimana tidak? Semalam suaminya itu telah berjanji akan menemani Airin pergi check up ke dokter kandungan, tapi hingga Airin selesai mandi dan berdandan rapi, Alexi masih saja bermalas-malasan di tempat tidur.
"Ayo dong, Mas. Buruan bangun." Airin merengek sambil menguncang tubuh suaminya tersebut.
Alexi menggeliat perlahan. Alih-alih bangun, dia malah menarik Airin saat matanya terbuka. "Sayang, kamu cantik sekali pagi ini," godanya.
"Huh, memangnya dari kemarin-kemarin nggak cantik?" Airin mengerucutkan bibirnya.
"Cantik, kamu selalu cantik, Sayang ... dan setiap harinya semakin cantik, itu yang membuat cintaku semakin hari semakin besar," rayu Alexi sambil menampakkan seringaian jahilnya.
Airin menarik sudut bibirnya saat mendengar gombalan itu. "Ya udah, buruan bangun. Kamu jadi nemenin aku ke dokter, nggak?"
"Sebentar dulu, Sayang," sahut Alexi malas, dia masih nyaman dalam posisi rebahannya.
"Ck, Ini sudah jam berapa, Mas? Kalau kamu malas, aku mau minta temanin Bunda atau Diba aja," rajuk Airin kesal.
"Iya, iya ...." Sedikit ancaman itu membuat Alexi langsung turun dari tempat tidur, dia memberikan sebuah kecupan mesra di pipi Airin sebelum beranjak ke kamar mandi.
Setelah mandi dan sarapan bersama, sepasang suami istri yang masih tergolong baru itu pun berangkat ke rumah sakit.
Saat ini masa kehamilan Airin sudah memasuki minggu ke 18. Dari hasil pemeriksaan kali ini, mereka pun mendapat kepastian tentang jenis kelamin janin dalam kandungan Airin, yaitu laki-laki.
Alexi menyambut kabar ini dengan penuh suka cita, ini seperti doa lainnya yang terkabul. Sebab Alexi memang mengharapkan anak laki-laki.
__ADS_1
"Selamat ya, Mas," ujar Airin saat mereka keluar dari ruang praktik dokter.
"Selamat buat apa, Sayang?"
"Karena anak-anak kita laki, ini kan harapan kamu."
Alexi merangkul pinggang Airin. "Iya, Sayang. Lebih baik punya anak pertama laki-laki, karena bisa menjadi pelindung bagi adik-adiknya nanti."
Airin mengangguk, dia tampak setuju dengan alasan sang suami. "Habis ini aku mau punya anak perempuan, biar nanti aku ada teman di rumah, anak laki-laki pasti sering keluyuran."
Alexi terkekeh jahil. "Kamu mau berapa? Tiga, Empat? Nanti di rumah kita buat ya!"
Hah?
"Kalau gitu jenguk deh, jenguk ... soalnya ayah sudah tidak sabar mau main sama jagoan ayah ini." Alexi tergelak sembari mengusap perut Airin yang mulai membuncit.
Dia seolah ingin memamerkan kemesraan mereka, pada setiap orang yang berpapasan di sepanjang koridor rumah sakit.
Airin memutar bola matanya, ada-ada saja modus suaminya ini.
Setelah meninggalkan rumah sakit, mereka pergi mencari tempat makan siang, lagi pula mereka memang cukup jarang makan siang bersama di luar.
Kini mereka telah sampai di salah satu restoran, dan tinggal menunggu pesanan datang.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Airin heran, suaminya itu lebih banyak diam selama di restoran ini.
__ADS_1
Alexi menghela napas panjang, sebenarnya ada beban pikiran yang sedang ia pendam, yaitu masa lalunya dengan Airin.
Saat ini kandungan Airin sudah memasuki trimester kedua, Alexi berpikir ini adalah waktu yang aman, dia tidak ingin menyimpan rahasia itu terlalu lama.
Alexi membuang jauh keraguannya, dia menatap Airin. "Sayang, aku ingin bertanya sesuatu."
Airin membalas tatapan suaminya dengan mesra. "Ya sudah, bilang saja, Mas."
Sebelum berkata, Alexi terlebih dulu menghela napas panjang. "Apa kamu akan menghakimi seseorang karena dia memiliki masa lalu yang buruk? Dalam hal ini aku."
Airin tersenyum lembut. "Mas, aku nggak peduli masalalu kamu. Mau dulunya kamu brengsek, playboy, atau apa pun itu. Yang akan kita jalani itu masa depan, Mas. Aku cuma mau kamu jadi suami dan ayah yang baik, jadi pria yang bertanggung-jawab, itu sudah lebih dari cukup."
Seolah mendapatkan angin segar, Alexi semakin memberanikan diri untuk mengungkap rahasianya.
"Aku harap kamu bisa memaafkan aku Airin. Karena sebenarnya ini bukan hanya menyangkut diriku sendiri, tapi juga menyangkut masa lalu kamu," ujar Alexi pelan.
Airin mengerutkan dahi, dia tidak mengerti. "Maksud kamu apa, Mas?"
Alexi memantapkan hati untuk menyelesaikan beban yang selama ini berkutat di pikirannya. "Airin, sebenarnya akulah pria yang bersamamu malam itu."
"Malam kapan, Mas? Ngomong yang jelas, aku nggak ngerti."
Meski Airin tidak terlalu yakin, tapi hati kecilnya mengatakan maksud Alexi adalah malam kelam di hari pengantinnya, dan hal ini dada Airin mulai sesak.
Besambung.
__ADS_1