
"Mas, kamu kenapa sih? Aku perhatiin beberapa hari ini kamu itu seperti orang yang kehilangan semangat hidup!" ujar Frita, dia merasa ada perubahan dengan sikap suaminya.
Galang yang sedang memakai baju kerjanya membuang napas berat. "Proyeknya mas lagi bermasalah, pihak dari perusahaan develover berhasil mencium adanya kecurangan. Mereka mengancam akan memutuskan kontrak sekaligus menuntut ganti rugi."
"Terus bagaimana?"
"Ya, jadinya mas harus merebuild bangunan yang sudah jadi, dan membangun kembali sesuai kontrak, agar perusahaan develover tidak melayangkan tuntutan," jawab Galang lesu.
"Rugi dong, Mas. Kan jadinya mas nggak dapat keuntungan lagi dari proyek itu," rajuk Frita sambil memberungutkan wajahnya.
"Masih ada untung kok, tapi sedikit," jawab Galang seraya memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Mengetahui keuntungan yang didapatkan Galang hanya sedikit, Frita pun berdecak kesal.
Hari ini Galang akan berangkat ke proyek, dia harus menepati janjinya pada Alexi untuk mengawasi pembangunan secara langsung.
Dulu, dia selalu dilayani setiap saat oleh Airin, semua keperluannya dalam hal apa pun, bisa dikerjakan dengan baik oleh mantan istrinya itu.
Sekarang, jangan berharap untuk dilayani, Frita hanya menjadi penonton dan membiarkan Galang mempersiapkan keperluannya sendiri.
Alasan Frita, bawaan kehamilan membuat tubuhnya tidak kuat untuk mengerjakan ini dan ini, dan Galang pun terpaksa memaklumi.
"Dasar anak buah Mas di proyek aja yang nggak becus, sampai curang sedikit aja bisa ketahuan develover," rutuk Frita.
"Mau bagaimana lagi? Direktur dari perusahaan develover turun langsung ke lapangan, jadinya ketahuan begini. Makanya sekarang mas juga harus ikut turun ke proyek, agar direktur itu tidak semakin menyalahkan mas."
"Mas berapa lama di proyek?"
"Satu minggu, kamu baik-baik di rumah ya," pesan Galang.
"Iya ... eh, Mas masih ingat janji mau beliin aku penthouse di Paris, kan? Apa nanti keuntungan dari proyek itu masih cukup untuk nepatin janjinya Mas ke aku?" tanya Frita.
Galang menggelengkan kepala, alih-alih menenangkannya di saat tengah pusing, istrinya yang sekarang malah menambahkan beban di pundaknya.
Berbeda dengan Airin. Selama 4-tahun pernikahan, mantan istrinya itu tidak banyak menuntut, dia selalu menerima apa adanya yang diberikan Galang, tanpa pernah mengeluarkan protes sama sekali.
Entahlah, sekarang ini Galang mulai sering membandingkan Airin dan Frita, meski itu hanya berani ia lakukan di dalam hati.
Padahal baru tiga bulan dia berpisah dengan Airin, tapi di hatinya sudah tumbuh benih-benih penyesalan. Terkadang dia bertanya-tanya dalam hati, apa kabar Airin sekarang? Di mana dia berada saat ini?
Mengingat lokasi proyeknya berada di sebelah kampung Airin, membuat Galang berharap bertemu mantan istrinya itu di sana nanti.
"Mas, kalau Mas seminggu di proyek. Jadi mau ngurus surat cerai ke pengadilannya kapan? Ini sudah tiga bulan lebih lho Mas, masa harus ditunda-tunda melulu!" Lagi Frita mengeluarkan unek-unek untuk kepentingan pribadinya.
"Sabar, ya. Setelah pulang dari proyek, Mas akan langsung urus." Galang berjanji seraya memberikan kecupan di puncak kepala Frita.
"Sabar, sabar ... itu terus yang Mas bilang, tapi sampai sekarang nggak jadi juga. Kalau gitu biar aku yang urus deh, Mas mau ngapa-ngapain aja serba lamban," rajuk Frita.
"Memangnya kamu bisa?"
__ADS_1
"Ya bisa lah! Aku punya teman yang kerja di firma hukum, nanti aku minta bantuan sama dia."
"Ya sudah, silakan kalau kamu sempat. Tapi ingat jangan terlalu capek, jagain anak mas ini baik-baik." Galang mengusap perut Frita lalu memberikan sebuah kecupan di sana.
"Iya, Mas tenang aja."
"Kalau gitu mas pamit dulu ya."
***
Mata Alexi terus memperhatikan Airin yang tengah sibuk melayani pelanggan, siang ini warung Airin sangat Ramai, sehingga wanita itu tampak kerepotan melayani pesanan pengunjung.
Alexi sudah benar-benar lapar, beberapa kali decakan kesal keluar dari mulutnya, sudah lebih setengah jam dia bersabar menunggu giliran, tapi Airin malah mendahulukan pelanggan yang datang belakangan, dibanding dirinya yang lebih dulu duduk di sini.
"Airin!" panggil Alexi yang sudah tidak sabar.
Mendengar itu Airin pun datang mendekat. "Eh, iya Mas. Kenapa?" tanyanya tanpa merasa berdosa.
Alexi menggelengkan kepala. "Ck, kalau ada orang duduk di warung makan, sudah pasti dia itu mau makan. Harusnya kamu itu tanya mau pesan apa, bukan malah bertanya kenapa!" serunya kesal.
"Ehmm, Mas mau pesan makanan ya?"
"Astaga ...." Alexi membuang napas berat, saat ini kesabarannya benar-benar tengah diuji. "Ya, iyalah! Saya mau pesan nasi putih sama gulai ayam!"
"Aduh ... maaf, Mas Alvin. Gulai ayamnya sudah habis."
"Ck, ya sudah. Aku pesan apa yang masih ada saja!" sahut Alexi kesal.
"Apa? sudah habis semua? Harusnya kamu itu mendahulukan mana yang lebih dulu datang!"
"Bukannya Mas baru datang ya?!"
"Baru datang kamu bilang? Saya sudah duduk di sini lebih dari setengah jam!" Alexi menajamkan tatapannya.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar nggak ngelihat ada Mas Alvin di sini," tutur Airin sambil memasang raut wajah bersalah.
"Jadi dagangan kamu sudah habis semua?"
"Iya, Mas."
Sekali lagi Alexi bedecak kesal. Sebenarnya tak jauh dari sini masih ada warung makan lainnya. Tapi menurut Alexi rasa masakannya sungguh aneh, jadi dia tidak mau ke warung itu lagi setelah satu kali mencoba menunya.
Dia juga sudah ketagihan dengan masakan Airin, yang sangat sesuai dengan selera lidahnya.
"Mulai besok, kamu wajib sisain satu porsi buat saya, kamu lupa?! Saya ini pelanggan tetap dan pelanggan lama di warung kamu ini, harusnya saya menjadi pelanggan prioritas bagi kamu!" ujar Alexi sambil memegangi perutnya yang keroncongan.
"I-iya, Mas, maaf." Airin menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, buatkan saya mie instan saja, pakai telur dua. Daripada saya mati kelaparan," pinta Alexi dengan nada menggerutu.
__ADS_1
"Iya, tunggu sebentar ya. Aku buatin dulu." Airin lantas pamit ke dalam warung.
Airin mulai memasak mie instan, matanya sesekali melirik ke arah Alexi, pria itu tampak sedang menunggu pesanannya dengan wajah kesal.
"Emangnya enak, siapa suruh tadi pagi jutekin aku," cibir Airin sambil terkekeh kecil.
Setelah hidangannya jadi, dia pun mengantarkan pesanan tersebut.
"Silakan, Mas." Airin meletakkannya di hadapan Alexi, lantas kembali ke dalam warung.
Alexi yang sudah kelaparan, langsung menyantap mie tersebut dengan lahap. Hanya butuh sekitar lima menit, satu mangkuk mie instan spesial dengan dua telur itu pun ludes, masuk ke dalam perutnya.
"Selamat siang, Tuan Alexi. Boleh saya duduk di sini?" tegur Galang.
"Selamat siang kembali, silakan. Dan tolong pelankan suara Anda. Apa Anda sengaja ingin membuat semua pekerja di sini tahu siapa saya? Agar mereka bertindak hati-hati untuk melakukan kecurangan bila ada saya, begitu?" ujar Alexi pelan tapi penuh dengan penekanan.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu, saya jamin tidak akan ada pekerja yang mengetahui identitas Anda," sahut Galang dengan suara tergagu.
"Ya, itulah yang harus Anda lakukan, jika perusahaan Anda masih ingin meneruskan kontrak kerja sama kita."
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
"Satu lagi, ini yang pertama dan terakhir Anda duduk satu meja dengan saya di proyek ini. Apa Anda berpikir orang-orang tidak akan curiga, bila terus-terusan melihat seorang mandor biasa memiliki kedekatan langsung dengan pemilik perusahaan kontraktor?"
"Maaf, Tuan. Saya berjanji tidak akan mengulangi hal ini," tutur Galang.
Alexi mengangguk. "Anda ingin minum apa? Hari ini saya yang traktir!"
"Kopi saja, Tuan."
Alexi pun mengangkat tangan untuk memanggil pemilik warung. "Airin ...."
Mendengar nama mantan istrinya disebut, ekor mata Galang langsung menyusur ke dalam warung, menanti siapa yang akan keluar.
Dan benar saja, pemilik warung ini memang mantan istrinya. Galang masih bisa mengenali Airin, meski saat ini penampilan sang mantan sudah berbeda 180-derajat dibanding saat bersamanya dulu.
Airin yang sekarang terlihat begitu cantik, fresh, wajahnya berbinar bahagia, yang membuatnya kelihatan lebih muda. Galang yang tidak menyangka perubahan ini, memandangi Airin tanpa berkedip.
"Airin ... kamu apa kabar?" Galang berdiri dari tempat duduknya dan berusaha untuk memeluk Airin.
Tentu saja Airin langsung menahannya. "Maaf, Mas."
Adegan yang ada di hadapannya ini membuat Alexi mengkerutkan dahi. "Apa kalian saling mengenal?"
"Dia ini istri saya!" sahut Galang cepat.
Sontak mata Airin pun melotot. "Mantan, lebih tepatnya ... MANTAN ISTRI!!" ralat Airin tegas dan penuh penekanan.
Besambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya, ya.
Terimakasih.