Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Price Tag


__ADS_3

"Tapi apa, Bunda?'' tanya Airin.


"Bunda harap kamu tidak menyerah, kamu harus tetap berusaha. Kita akan berusaha mencarikan pengobatan terbaik untuk kamu. Tapi tidak sekarang, karena bunda ingin mengadakan resepsi untukmu dan alexi terlebih dulu."


Airin mengkerutkan dahi. "Resepsi?''


"Ya, tentu saja bunda ingin mengadakan resepsi untuk kalian, apalagi Alexi itu adalah anak tertua di rumah ini. Kenapa? Apa kamu keberatan?"


Airin menggelengkan kepala, bukan resepsinya yang ia khawatirkan, melainkan tanggapan dari orang-orang jika mengetahui statusnya. Dia khawatir Alexi dan keluarga ini akan menjadi bahan olok-olokan, karena menerima seorang janda sebagai menantu.


"Tidak, Bunda. Sebenarnya aku setuju saja, tapi apa itu tidak memalukan?" jawab Airin yang diakhiri pertanyaan dengan nada khawatir.


"Memalukan? Apanya yang memalukan? kamu jangan terlalu mengkhawatirkan perkataan orang," sela Riana dengan tegas.


"Ya sudah, bagaimana maunya Bunda saja," sahut Airin pasrah.


"Baiklah, kalau begitu kita akan mulai mempersiapkannya, bunda ingin membuat pesta yang sangat mewah untuk kalian."


Airin hanya mengangguk. Lagi pula tidak mungkin dia menolak keinginan Riana untuk mengadakan resepsi.


Mereka pun lanjut mengobrol santai, sampai akhirnya tampak duo Adiba dan Adila pulang dari kampusnya, yang lantas mendekati Airin.


"Halo, Kakak ipar. Aku Dila, senang banget akhirnya bang Lexi ketemu jodohnya, hehe ...." Adila pertama kali mengulurkan tangan, yang lantas disambut Airin.


Adiba bergantian mengulurkan tangan, sebelum keduanya duduk di samping Airin. "Aku Diba."


"Terimakasih, aku juga senang bertemu kalian," tutur Airin sembari mengembangkan senyumnya.


"Oh, ya, Kakak ipar. Tadi bang Lexi telpon, katanya dia sangat sibuk, jadi dia meminta kami untuk menemanimu belanja," ujar Adiba.


"Iya, sekalian saja kita jalan-jalan," timpal Adila dengan begitu antusias.


Airin menatap kedua adik iparnya bergantian, sebelum mengangguk setuju. ''Baiklah, kita akan pergi bersama."


Karena sudah sepakat, ketiga wanita muda itu pun berangkat menuju butik langganan keluarganya, setelah sebelumnya berpamitan pada mommy Riana.


Saat memasuki butik mewah tersebut, mereka langsung disambut dengan baik oleh karyawan butik, yang semuanya memang sudah mengenali duo kembar itu.


Mereka pun diarahkan menuju ruangan VVIP, yang hanya dikhususkan untuk tamu-tamu tertentu saja.


Kedua gadis kembar itu begitu antusias melihat-lihat koleksi terbaru yang terpajang pada manekin, juga lemari kaca. Seolah melupakan tujuan utama, siapa yang ingin berbelanja.

__ADS_1


Sesaat kemudian, salah seorang karyawan butik datang dengan mendorong stand hanger, yang dipenuhi berbagai koleksi terbaru butik mereka.


"Nona, ini koleksi tebaru kami. Edisi terbatas yang dijual untuk pelanggan eksklusif saja," jelas karyawan tersebut dengan bahasa yang santun.


"Kakak Ipar, kemarilah! Ini koleksinya bagus-bagus!" panggil Adiba.


Saat ini Airin tengah memperhatikan berbagai koleksi, mulai dari gaun pesta sampai pakaian rumahan.


Tentu saja banyak dari koleksi itu yang menarik minatnya, karena memang memiliki desain yang sangat bagus, tapi sayangnya price tag yang tertempel di sana membuat Airin selalu urung memilih. Karena memiliki harga yang menurutnya terlalu mahal untuk sehelai pakaian.


Mendengar suara adik iparnya memanggil, Airin pun melangkah mendekati. Siapa tahu saja koleksi yang ada di stand hanger itu, memiliki harga yang lebih murah, pikirnya.


"Kakak pilih saja mau yang mana!" ujar Adiba, sedangkan Adila sudah menghilang ke ruang ganti sejak tadi.


"Baiklah," sahut Airin.


Ia pun mulai memilah pakaian yang tergantung indah di depannya. Kali ini matanya semakin terbeliak, karena harga pakaian itu bahkan jauh lebih mahal daripada yang dilihatnya tadi.


"Apa tidak ada model yang lain? Aku tidak terlalu suka dengan model yang seperti ini," ujar Airin beralasan, padahal yang jadi masalah adalah harga pakaian tersebut.


"Astaga, Kak. Ini adalah model terbaru, yang dkhususkan untuk pelanggan tertentu saja, masa kau tidak menyukainya?" Adiba mendecakkan bibirnya.


"Silakan, ambil saja yang mana pun Kakak suka," desak Adiba lagi.


Airin menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak berniat untuk membeli pakaian mahal itu. "Ehmm, tadi itu di luar, aku melihat ada model yang cukup menarik, aku mau ambil yang itu saja."


Adiba membuang napas berat. "Ya sudah, silakan Kakak ambil, aku mau cobain yang ini dulu. Nanti kalau ada apa-apa, panggil saja aku."


Airin menggangguk, ia membiarkan Adiba pergi menunju ruang ganti. Setelah itu ia pun melangkah keluar dari ruangan VVIP tersebut.


Di luar sana kan bukan barang VVIP, sudah pasti harganya jauh lebih murah, dan siapa tahu ada diskon, pikir Airin.


Yang Airin lupa, ini adalah butik eksklusif, yang merupakan tempat belanja para kaum jetset. Jadi meskipun untuk koleksi yang berada di luar ruangan VVIP, tetap saja harga sangat mahal, dan tidak diskon, alias full prize.


'Ya, Tuhan. Mengapa harga tetap mahal?' Sekali lagi Airin medesah berat, saat ini dia sedang memegang sebuah drees berwarna biru, dan memiliki model yang sesuai seleranya.


Drees yang kini di tangannya, memang lebih murah daripada yang ada di ruangan VVIP tadi, tetap saja harganya masih sangat mahal, untuk orang berpemikiran seperti Airin.


Lelah memilih, dan tidak menemukan harga yang lebih murah. Airin pun memutuskan untuk mengambil dress yang diminatinya tersebut. Ia lantas menanyakan di mana ruang ganti kepada karyawan, untuk mencoba dressnya.


Ruang ganti untuk tamu biasa lebih tepatnya, bukan ruang ganti di dalam VVIP room, yang digunakan oleh dua saudari iparnya tadi.

__ADS_1


Karena banyak melamun memikirkan harga pakaian yang ada di butik ini, membuat Airin tidak fokus pada jalannya, hingga ia tak sengaja menambrak seorang wanita.


Entah karena tubuh Airin yang lebih tegap, atau mungkin wanita cantik yang ditabraknya itu memiliki tubuh terlalu langsing, membuat wanita itu pun tersungkur di lantai.


"Aawww ...."Wanita itu terpekik bersamaan dengan saat tubuh seksinya terduduk di lantai.


"Maaf, aku tidak sengaja." Airin menatapnya dengan perasaan bersalah.


Airin juga mengulurkan tangan pada wanita tersebut, untuk membantunya berdiri.


"Apa kau tidak punya mata?" Wanita itu menggeram, lalu menepis tangan Airin dengan kasar.


Wanita berambut kemerahan itu lantas berdiri, meski sedikit kesulitan karena high heels setinggi tujuh centimeter yang ia kenakan.


Begitu berdiri, tangannya pun terayun ke wajah Airin.


Plaakk!


Airin, meringis memegangi pipinya yang perih. Namun, ia tidak membalas, karena sadar memang dirinya yang salah.


Tidak puas dengan satu tamparan itu, si wanita seksi itu lantas menarik rambut Airin sekuat tenaga.


Membuat Airin tersungkur, diiringi suara mengaduh yang keluar dari mulutnya.


Masih belum puas, wanita itu menunduk, lalu tangannya kembali terulur untuk menampar.


Tap!


Adila datang di saat yang tepat, untuk menangkap lengan wanita itu. Sujurus itu Adiba juga datang, lalu mendorong tubuh kurus itu hingga tersungkur.


Wanita berpenampilan glamour itu meringis, memegangi lututnya yang baru saja mencium lantai. Kini wanita pemilik betis jenjang itu menatap dua gadis kembar di hadapannya dengan sorot mata berapi-api.


"Sialan! Berani sekali kalian mengasariku! Aku pasti akan membuat kalian menyesal seumur hidup. Kekasihku adalah pelanggan VVIP di butik ini!" ancamnya dengan suara meraung.


"Ada apa ini? Apa kalian memiliki masalah dengan kekasihku?" Suara maskulin itu terdengar dingin dari arah belakang mereka.


Bersambung.


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya ya.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2