Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Trauma Masa Lalu


__ADS_3

Membiarkan Airin menikmati sensasinya sendiri, Alexi memeluk erat sampai istrinya itu mulai tenang.


Setelah beberapa saat menunggu, Alexi mengangkat tubuhnya hanya untuk memperlihatkan seringaian jahil.


Manik mata hitam terangnya masih berkabut akan gairah, seakan masih menyimpan badai yang siap menerjang kemudian.


"Sekarang giliranku, My Luvv!" Suara itu terdengar serak, parau, seksi dan menggoda.


Airin yang baru selesai menikmati sisa pelepasannya tiba-tiba terpekik, tubuhnya melayang. Alexi melepaskan diri hanya untuk membuat istrinya itu tengkurap.


Sejurus itu juga, Airin merasakan telapak tangan berhasrat sang suami menarik ceruk pinggangnya lebih tinggi. Lalu jemari nakal itu perlahan merayap turun, sebelum berhenti tepat pada dua sembulan padatnya yang menggantung, memainkan puncaknya dengan ahli.


Sungguh, sentuhan yang gila. Membuat desiran menyengat di tubuh Airin kembali begelora, padahal baru hendak, belum benar-benar padam.


"Hemmp ...."


Napas Airin tercekat, saat bagian belakangnya menyentuh sesuatu, yang bahkan belum selesai mengamuk. Airin masih berusaha mengatur napas, ketika padatan perkasa itu sudah terposisi sempurna di celah lembutnya.


Lalu perlahan menyeruak masuk, dalam, lebih dalam. Membuat Airin merasakan celah feminisnya itu sesak, penuh. Sampai tidak tersisa kekosongan sama sekali.


Airin meracau liar. Sungguh, saat ini tubuhnya sudah benar-benar lelah, tapi hasrat dalam dirinya berkata lain. Gelora yang membakar itu membuatnya masih haus kenikmatan duniawi ini, tidak peduli seberapa banyak energi yang sudah ia habiskan.


Mulut Alexi mengeluarkan lenguhan nikmat, hangat dan kuatnya jepitan itu benar-benar membuatnya Gila. Matanya terpejam, meresapi sensasi tiada tara yang membawa jiwanya ke nirwana.


Otot-otot liat di tubuh Alexi berkolaborasi, bergerak dengan tempo yang semakin cepat. Berusaha mengejar sensasi yang akan segera meledak dari dalam dirinya.


Erengan seraknya pun semakin sering terdengar, saat istrinya berdenyut secara luar biasa, memaksa sensasi yang dikejarnya semakin mendekat.


Lebih dekat!


Akhirnya, gelombang panas nan dahsyat itu pun menerpa. Alexi menumpahkan semuanya di dalam sana, memenuhi celah lembut, sempit, hangat, yang membuat jiwanya ikut ke terhisap ke dalam surga dunia.


Airin pun roboh diikuti suaminya, ia benar-benar tidak berdaya setelah beberapa kali mencapai sensasi puncaknya..


Namun, sensasi terdahsyat adalah yang terakhir ini, karena gelombang surgawi itu datang bersamaan dengan tertaburnya benih cinta oleh sang suami di dalam rahimnya.

__ADS_1


Tidak lama, Alexi segera bergeser ke samping, lalu merangkul Airin untuk rebahan di atas dada berototnya.


Airin membenamkan wajahnya di sana, deru napasnya perlahan mulai stabil. Ia bermanja-manja seiring tangannya menyusuri lekukan liat, yang ditumbuhi bulu-bulu halus di tubuh kekar sang suami.


"Terimakasih, Sayang," bisik Alexi seraya memberi kecupan mesra di puncak kepala Airin.


"Jangan tinggalkan aku, Mas," sahut Airin lirih.


"Tidak akan pernah!" Alexi mengusap punggungnya, menebar kehangatan dan juga kenyamanan.


Airin mengangguk percaya, ia memejamkan mata, ingin tidur dalam pelukan nyaman itu setelah benar-benar kelelahan.


"Mandilah, kita sudah ada janji dengan pihak WO, kita harus memilih dekorasi ballroom untuk resepsi kita nanti," ujar Alexi pelan.


"Aku lelah, Mas. Kita perginya besok saja ya," bujuk Airin dengan suara manja.


"Terserah, aku senang bisa berlama-lama dalam posisi seperti ini, tapi jangan salahkan jika nanti ada yang kembali bangun, lalu mengamuk untuk meminta ditidurkan," balas Alexi santai.


Airin mendongakkan kepala, manik matanya menatap khawatir melihat seringaian licik di wajah Alexi.


Benar, tenaganya sudah habis, tubuhnya juga remuk. Namun, ia harus membuat pilihan. Pergi bertemu tim wedding organizer membutuhkan tenaga yang lebih sedikit, dibandingkan menghabiskan semalaman di kamar.


Memikirkan hal itu, membuat tubuh Airin bergidik ngeri. Buru-buru ia melangkah ke kamar mandi sebelum Alexi berubah pikiran, dan kembali menyambarnya.


Di kamar mandi luas nan mewah, yang sebagian pernak-perniknya terbuat dari bahan berlapis emas itu. Airin mengisi bathtub dengan air hangat.


Tanpa menunggu penuh, Airin pun segera masuk ke dalam sana. Merendam dirinya untuk mengembalikan sedikit tenaga, juga kesegaran.


Airin bersandar nyaman, memejamkan mata menikmati sensasi hangat dan menyegarkan dari air yang merendam tubuhnya.


Ketenangan itu hanya berlangsung sekitar sepuluh menit. Matanya terbeliak lebar ketika pintu kamar mandi terbuka, menampilkan tubuh polos sang suami, yang melangkah mendekati.


"Mas kamu mau apa? Aku lelah, aku tidak akan bisa pergi bertemu orang WO jika kamu melakukannya lagi." Airin menatap suaminya cemas.


Alexi terkekeh jahil. "Aku tidak akan mengerjaimu lagi, My Luvv. Aku hanya ingin mandi bersama agar bisa membantu menggosok tubuhmu. Hehe ...."

__ADS_1


Tentu saja Airin tidak percaya begitu saja, sorot matanya masih menghunus tatapan penuh curiga.


Nyatanya, Alexi menepati perkataan untuk tidak mengerjai Airin. Mereka hanya mandi biasa seperti orang normal pada umumnya.


Setelah selesai mandi, dan mengenakan pakaian masing-masing. Mereka pun berpamitan pada orang tua Alexi, lalu berangkat menuju sebuah hotel bintang lima milik Rahadi Group.


Tubuh Airin bergetar hebat, saat mobil yang di kemudikan Alexi memasuki area hotel. Matanya menyiratkan ketakutan, seolah memiliki trauma yang begitu besar.


Saat tiba di parkiran, Airin tidak membuka seat beltnya. Ia tidak mampu mengkondisikan rasa takut yang menyerang begitu kuat.


"Mas, apa resepsinya akan diadakan di hotel ini?" tanya Airin dengan suara yang sulit keluar dari tenggorokannya.


"Iya, ayo kita turun!" ajak Alexi.


Airin menggeleng berat. "Aku nggak mau di sini, Mas. Aku takut!"


Tentu saja Alexi langsung keheranan. "Takut? Apa yang kamu takutkan?"


"Hotel ini ... ini adalah tempat resepsiku dengan Galang dulu," lirih Airin.


"Lalu apa masalahnya?"


"Aku takut, Mas. Malam resepsi itu meninggalkan trauma terburuk seumur hidupku."


"Trauma?" Alexi mengernyitkan dahi.


Bersambung.


Kira-kira kenapa ya Airin? Hehe ....


Sambil menunggu lajutannya, yuk mampir ke novel emakku yang satu ini. Judulnya "Suami Masa Depan" karya author "HaruMini"


Semoga kalian berkenan, ya.


__ADS_1


__ADS_2