Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Keinginan Galang


__ADS_3

Galang terdiam, dia tidak bisa membantah penegasan dari Airin, karena status mereka memang bukan lagi suami istri.


Hari ini Galang menjadi tidak fokus, dia terus-terusan memikirkan Airin. Saat berkeliling proyek, Galang berharap waktu cepat berlalu, dia ingin bertemu Airin untuk mengungkapkan penyesalannya.


Saat hari beranjak sore, Galang pun kembali ke warung Airin. Dia menunggu sampai semua orang pergi, agar ia bisa bicara berdua dengan Airin tanpa ada gangguan.


"Airin bisa ke sini sebentar?" panggil Galang setelah melihat Airin selesai dengan pekerjaannya.


"Ya, ada apa, Mas?" sahut Airin yang lantas menghampiri Galang.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Ya ... seperti yang Mas lihat, aku baik," jawab Airin seperlunya.


"Airin."


"Ya."


"Aku ... ehmm, aku ingin kamu tahu, aku menyesal telah menyakiti kamu. Frita sangat berbeda dengan kamu, dia tidak bisa membuatku tenang, seperti yang aku dapatkan saat bersama kamu." ucap Galang pelan.


"Lho, bukannya waktu itu kamu bilang dia lebih segalanya dibanding aku," sinis Airin.


"Ya, aku memang pernah mengatakannya, tapi sekarang aku sadar, aku salah tentang itu, aku sudah menyesalinya. Aku ingin memperbaiki semuanya, Airin ... dengan kamu," ucap Galang sambil menatap Airin penuh harap.


"Memperbaiki? Maksudnya?" Airin mengkerutkan dahi.


"Begini, aku tahu pasti berat bagi kamu untuk memaafkan aku. Aku minta sama kamu, kembalilah ke rumah, kamu tidak perlu repot-repot berjualan seperti ini. Kita mulai semuanya dari awal lagi," bujuk Galang dengan suara merayu.


"Maksudnya kamu mau minta rujuk?" Airin langsung to the point.


Galang menganggukkan kepala. "Iya, Airin ... kasih aku satu kesempatan lagi!"


Jemari Galang terulur untuk menggapai tangan Airin. Tapi secepat itu pula Airin menepisnya.


Airin tersenyum hambar, rasanya permintaan Galang ini terdengar begitu menjijikkan di telinganya.


"Mas, kamu sadar nggak sih apa yang barusan kamu katakan?"

__ADS_1


"Ya, tentu aku saja aku sadar, aku tahu ini tidak mudah buat kamu. Tapi pelan-pelan, aku yakin kamu bisa melupakan kesalahanku, Airin. Beri aku kesempatan untuk menebus kekhilafanku, pliiss," ucap Galang dengan intonasi memohon.


Airin menggeleng karena tidak habis pikir. "Kamu sakit, Mas. Saat ini Frita sedang mengandung anak kamu, tapi kamu malah datang ke aku untuk minta rujuk!? Kamu mikir nggak sih, Mas?"


"Airin, Frita tidak akan keberatan, biar aku yang mengatasinya." Galang mencoba menyakinkan Airin.


"Mas ... Mas, lebih baik sekarang kamu pergi buat jernihin pikiran kamu, karena sampai kapan pun aku nggak akan mau terima permintaan rujuk dari kamu. Aku nggak mau penderitaan yang selalu aku dapatkan selama pernikahan denganmu terulang lagi, itu yang pertama. Yang kedua, aku sudah bahagia dengan hidup aku yang sekarang," tegas Airin.


"Kamu sudah punya pria lain?" Galang bertanya dengan raut wajah kecewa.


"Mas, aku sudah punya pria lain atau belum, itu urusan aku. Dan kehagiaan itu bukan melulu tentang pasangan. Aku permisi dulu, Mas!" Pamit Airin hendak mengayunkan langkah.


"Kembali sama aku, Airin. Kamu juga belum nikah lagi, kan? Aku janji tidak akan membuatmu menderita lagi." Galang mencoba menghentikan Airin.


Airin mendesah berat, dia sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk Galang. Memang, dia belum melupakan pria itu, tapi bukan kenangan indah yang diingatnya, melainkan penderitaan demi penderitaan yang ia selalu dapatkan. Itu berlangsung selama 4-tahun, lebih tepatnya sepanjang ia berstatus sebagai istri Galang.


Airin menepis tangan Galang yang menahan lengannya. "Maaf, Mas. Aku harus pulang."


Galang memandangi kepergian Airin dengan sorot mata kecewa. Tapi dia tidak patah arang, dia harus mendapatkan kembali sesuatu yang memang miliknya, dia tidak akan membiarkan Airin dimiliki orang lain.


Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, Airin dikejutkan dengan kehadiran Sarah yang sudah duduk di ruang tamu.


"Kapan kamu datang?" tanya Airin heran.


"Untung yang masuk ke rumah ini aku, gimana kalau orang jahat? Kamu itu tinggal sendiri, Airin! Ceroboh banget sih, pintu rumah dibiarin kebuka gitu aja!" Sarah langsung menceramahi.


"Astaga ...." Airin menepuk dahi, entah apa yang ada di pikirannya tadi sampai-sampai lupa menutup pintu.


"Jangan diulangi lagi!" Sarah mengacungkan jarinya dengan nada mengancam.


"Iya, bawel ... eh, tadi siang kamu ke mana lagi? Kok nggak ke warung?" tanya Airin seraya mendudukkan diri di samping Sarah.


"Ketemu konsumen lagi. Tapi kali ini beda cerita, hari ini aku berhasil closing dua unit. Satu apartemen, satu lagi rumah biasa," ujar Sarah dengan raut wajah sumringah.


"Wah, selamat ya, Sar ... anggap aja ini pengganti kesialan kamu yang kemarin," sahut Airin tak kalah senang.


"Sepertinya gitu ... mana konsumen yang aku temui hari ini enak banget rundingnya. Habis aku jelasin spesifikasi produk, udah. Langsung deal, nggak pake neko-neko."

__ADS_1


"Enak, dong. Pasti insentif kamu bulan ini gede banget, ya?" goda Airin.


"Ya, lumayan sih. Sekarang tabungan aku udah lumayan, rencananya tahun ajaran baru nanti aku mau nerusin kuliah," ujar sarah antusias. "Ehmm, ngomong-ngomong soal kuliah. Kamu nggak ada niatan buat kuliah lagi, kita nggak tau nasib orang, kan!? Siapa tau nanti kamu bisa kesampean jadi chef terkenal!"


Airin menganggukkan kepala. "Aku emang ada niatan sih, tapi mau lihat situasi sama kondisi dulu. Kalau nanti penghasilan dari warung memungkin untuk kuliah, aku pasti bakal lanjutin."


"Gimana hari ini? Masih rame?"


"Seperti kemarin sih, tapi ...."


"Ada masalah lagi?"


Airin menggelengkan kepala. "Nggak sih, cuma hari ini aku ketemu mas Galang."


"Oh, kan mantan suami kamu itu pemilik perusahan kontraktor yang megang proyek. Jadi wajar dong, dia datang ke sini untuk cek lapangan," balas Sarah.


"Iya, tapi bukan itu yang jadi masalah. Pas ngelihat aku tadi dia langsung ngajak rujuk, nggak tau diri banget," rutuk Airin.


Dia bergidik jijik, saat pikirannya kembali mengulas rayuan yang dilontarkan Galang tadi.


"Cih, yang namanya laki emang gitu. Mentang-mentang udah bening langsung aja nyesal." Sarah berdecak kesal mendengar cerita Airin. "Nggak tau dia siapa yang ngubah kamu jadi glowing gini, sekarang enak aja mau diambil lagi. Your Mine!"


"Hah?" Airin terbelalak.


"Canda, Airin ... gini-gini aku masih normal kali!" Sarah tertawa jahil lalu berdiri dari tempat duduknya, "Ya udah, ah. Aku pamit ya!"


"Lagian kamu becandanya amit-amit!" Airin bergidik takut.


Airin juga berdiri, lalu mengantar Sarah sampai ke teras. Dia memastikan pintu sudah terkunci dengan baik, sebelum melangkah ke kamar.


Airin segera merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Baru sekitar satu jam beristirahat, suara ketukan pintu memaksa Airin kembali turun dari tempat tidurnya, untuk melihat siapa yang bertamu.


"Kamu, Mas. Ngapain ke sini?" tanya Airin terkejut, saat melihat sosok pria yang berdiri di teras rumahnya.


Bersambung.


Terimakasih sudah membaca, salam hangat.

__ADS_1


__ADS_2