
Daddy Almeer, Mommy Riana, dan semua tetua yang ada di sana kompak tertawa geli melihat wajah Sarah yang pucat pasi.
Sementara itu Adelio hanya bisa menggaruk tengkuknya, dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Dari sekian banyak gadis yang pernah bersamanya, hanya Sarah yang pernah ia ajak ke rumah, dan ia kenalkan pada keluarga. Yang sialnya, gadis itu malah tidak membenarkan pengakuannya.
Sambil menahan tawa gelinya, mommy Riana mendekati Sarah. "Kamu lucu sekali, Nak ... siapa nama kamu?" Ia bertanya dengan suara lembut.
"Nama saya Sarah, Tante," jawab Sarah pelan.
"Oh, Sarah ... kamu temannya Leo?" tanya Riana lagi.
"Bukan, Tante."
Adelio yang mendengarnya semakin mendesah frustasi. Jangankan diakui memiliki hubungan spesial, diakui sebagai teman pun tidak!
Memikirkan hal itu, ia pun menjauh dari area tersebut. Membiarkan ibunya berbincang dengan Sarah.
Dahi Riana berkerut heran. "Lalu ... yang mengundang kamu ke sini siapa?"
"Saya temannya Airin, Tante."
Sambil berbicang, kedua wanita beda generasi itu berjalan menuju meja prasmanan. Sarah langsung meneguk habis segelas minuman berperisa buah, ia kehausan.
Padahal sebelumnya ia sudah minum, ya 'kan? Mungkin saja yang membuat kerongkongannya kembali gersang itu adalah pengakuan tidak lazim Adelio!
"Tapi kamu kenal, Leo?" Mommy Riana kembali bertanya.
Sarah mengangguk. "Iya, Tante. Dia senior saya di kampus."
"Ah, tante baru ingat ... Diba pernah bilang Leo sering mengusili juniornya di kampus, apakah yang dimaksud itu adalah kamu?"
"Ehmm, saya tidak tahu, Tante ... soalnya di kampus itu, ada banyak gadis yang dekat sama Leo," elak Sarah.
Padahal jelas-jelas cuma dirinya yang selalu menjadi korban keusilan Adelio.
__ADS_1
Sarah menelan sulit salivanya. Ya Lord ... bahkan cerita konyol itu sampai terdengar oleh keluarga Adelio!
Sarah sampai bingung harus menjuluki keluarga ini dengan sebutan apa. Keluarga yang saling terbuka, atau keluarga tukang gosip? Ah, terserah saja ... untuk apa dia harus peduli!
"Sebelum ini, Leo tidak pernah membawa teman wanitanya ke rumah lho, apalagi sampai di kenalkan pada keluarga. Kamu satu-satunya!" ujar Riana.
"Begitu ya, Tante," sahut Sarah seadanya.
Haruskah dia merasa tersanjung, bila ternyata dirinya mendapat perlakuan spesial? Tidak perlu, sama sekali tidak berpengaruh.
Buat apa? Toh yang namanya buaya tetaplah buaya. Sarah bergidik takut. Dia tidak ingin dirinya menjadi salah satu mangsa predator itu!
Cukup lama ia dan Riana berbincang-bincang santai, akhirnya wanita yang sudah berumur itu permisi. Karena hendak menemui tamu yang lain.
Baru sebentar Sarah menikmati kesendiriannya, suara Adelio kembali terdengar menegurnya. "Tadi kau bicara apa dengan mommyku? Apa dia melamarmu?"
Untuk ke sekian kalinya bola coklat milik Sarah nyaris melompat keluar, sebab mulut Adelio seperti saringan rusak.
"Kau gila? Dasar tidak waras!" suntuk Sarah tak habis pikir.
"Jika dengan menjadi gila, bisa membuatku dekat denganmu. Maka akan aku pertimbangkan!" balas Adelio santai.
"Pergilah, keberadaanmu di sini hanya membuatku tidak nyaman. Aku ingatkan padamu jika kau lupa, di sini aku adalah tamu. Jadi bersikaplah hormat sebagai tuan rumah yang baik," ujar Sarah yang semakin mual mendengar perkataan Adelio.
Adelio kembali terkekeh. "Kau pikir aku sedang apa? Saat ini aku sedang menemani tamu mengobrol, agar ia merasa disambut. Itulah yang seharusnya dilakukan tuan rumah!"
Sarah memutar bola matanya, sejak tadi ia terus memperhatikan Airin, yang sangat sibuk menyambut ucapan selamat dari para tamu. Andai waktu Airin kosong sedikit saja, pasti Sarah akan buru-buru pamit untuk pulang, karena saking malasnya berada di sini.
Sarah membuang napas kesal. Saat ini dia sudah kehabisan kata-kata untuk mengusir Adelio agar menjauh darinya.
Lama waktu berjalan bagi Sarah, ia terpaksa bersabar mendengarkan celotehan demi celotehan yang keluar dari mulut Adelio.
Akhirnya kesempatan untuk pamit itu pun datang, setelah resepsinya sudah hampir memasuki penghujung acara. Di saat hari mulai sore.
"Airin, aku pulang ya!" pamit Sarah sembari memeluk Airin.
__ADS_1
Bila diperhatikan, saat ini wajah Airin sudah memucat saking kelelahannya.
"Kamu pulang naik apa? Kamu kenal Leo, kan? nanti aku minta dia untuk mengantarmu pulang," ujar Airin.
"Jangan, nggak perlu ... aku naik taksi aja," tolak Sarah cepat.
"Lho kenapa?"
"Ya nggak kenapa-kenapa sih." Sarah mengeluarkan kotak kado yang ia beli dengan uang tabungannya. "Ini buat kamu!"
"Ya, ampun ... kenapa harus repot-repot sih?" Airin menerimanya dengan tidak enak hati.
"Nggak repot kok, Airin ... nanti kalau aku nikah, gantian kamu yang kasih. Tapi ingat, kadonya harus yang lebih mahal, hehe ...," canda Sarah.
"Bisa aja kamu!" balas Airin.
"Ya udah ya ... aku pamit!" Sarah mengakhiri obrolan itu.
"Hati-hati!" pesan Airin dengan suaranya terdengar lemah.
Sarah mengangguk, lalu beranjak untuk pulang.
"Airin!" Jeritan itu terucap dengan nada panik dari mulut Alexi.
Sarah yang baru dua kali melangkah itu berhenti, lalu kembali berbalik badan.
"Airin ...." Ia pun memekik panik.
Saat ini sahabatnya itu sudah terkulai tak sadarkan diri dalam rangkulan Alexi.
Bersambung.
Maafkan daku yang upnya lama ini ya, Readers readers kesayanganku.🙈🙈
Airin dan bang Lexi akan rutin up tiap hari lagi ya. Mulai dari sekarang, janji deh, hehe ....🙈🙈
__ADS_1