Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Seperti Orang Cemburu


__ADS_3

Tok ... tok!


Airin bergegas menuju pintu untuk membukannya.


"Udah pulang, Mas!" sapa Airin.


Dia mengembangkan senyum, saat melihat orang yang berada di balik pintu adalah Alexi.


"Ya, saya sudah kelaparan," sahut Alexi, ia pun membalas senyuman manis dari istrinya itu.


"Itu pakaian kamu, Mas?" Mata Airin menyorot tangan Alexi yang menjinjing tas dengan ukuran cukup besar.


Alexi mengangguk. "Iya."


"Ya sudah, yuk masuk! Siniin tasnya biar nanti aku rapiin," pinta Airin.


Alexi menyerahkan tas di tangannya, lantas mengikuti Airin masuk ke dalam rumah.


"Mas duluan aja ke meja makan, nanti aku nyusul."


Airin mempercepat langkahnya menuju kamar untuk meletakkan pakaian Alexi, kemudian menyusul menuju ruang makan.


Dia dengan telaten melayani alexi, hingga seulas senyum ikut terlukis di wajah pria itu.


"Terimakasih," ujar Alexi yang dibalas senyuman oleh Airin.


"Mas mau kopi?" tanya Airin setelah ia selesai mengambilkan makanan untuk suaminya.


Alexi mengangguk pelan, sejak kecil dia memang sudah terbiasa dilayani, tapi dilayani oleh wanita yang berstatus sebagai istrinya, adalah hal yang sangat baru.


Airin yang sudah selesai menyeduh kopi, duduk bersampingan dengan Alexi.


"Kamu tidak makan?" tanya Alexi.


"Nanti aja, Mas. Biar kamu selesai makan dulu," sahut Airin.


"Mengapa seperti itu? Tidak enak rasanya makan sendiri, sedangkan tuan rumah belum makan."


Perkataan itu sontak membuat Airin menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. Rasanya seperti ada yang menusuk, membuat hatinya merasa sakit.


'Huh, dia hanya menganggap dirinya tamu di sini. Jadi kamu jangan berharap lebih, Airin.' Airin berkeluh dalam hati.


"Kenapa diam? Apa saya salah bicara?" tanya Alexi heran.


"Nggak, Mas. Kamu nggak salah kok. kamu memang hanya tamu di sini." Airin menegaskan kembali perkataan Alexi tadi dengan nada yang sedikit jutek.


"Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu," ucap Alexi menyadari kesalahannya.


"Sudah, Mas. Nggak usah di pikirin." Airin mulai mengambil makanannya sendiri.


Mereka pun menghabiskan santap siang masing-masing tanpa ada yang bicara lagi.

__ADS_1


"Airin, saya minta maaf," ujar Alexi lagi, setelah ia menghabiskan makanannya.


"Mas, aku bilang nggak usah dibahas lagi. Memang benar, kita hanyalah dua orang asing," balas Airin datar.


"Tapi kita suami istri, Airin."


Airin menoleh dengan tatapan nyalang. "Jangan bahas ikatan, Mas. Kita menikah terpaksa oleh keadaan, kita berdua tahu itu. Dan aku cukup sadar diri dengan status yang aku miliki."


Alexi menghela napas, dia sadar perkataannya tadi memang sudah menyinggung Airin.


"Ehmm, sebenarnya saya sangat kagum sama kamu!" Alexi mengalihkan pembicaraan, agar suasana menjadi lebih cair.


"Kagum? Maksud kamu?"


"Ya, biasanya seorang wanita pasti akan merasa trauma setelah menjadi korban pelecehan. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untukmu, kamu bisa melupakannya begitu saja," jawab Alexi.


"Aku sudah terbiasa, Mas. Rasanya aku sudah kebal dengan perlakuannya. Empat tahun aku hidup dengannya, dia selalu kasar dan tidak peduli dengan perasaanku. Dia selalu memaksa saat menginginkanku, tidak peduli aku sedang sakit atau apa." Airin membuang napas kasar dari mulut, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maaf, tidak seharusnya aku menceritakan aib suamiku," ucap Airin tertunduk.


"Suamimu? Saya suami kamu sekarang!" tegas Alexi sambil menajamkan pandangannya.


"Maksudku mantan suami." Airin berdiri kemudian mengambil piring kotor untuk dibawa ke tempat penyucian.


"Saya berangkat dulu," pamit Alexi.


"Mau berangkat kok ke sini?" Airin mengkerutkan dahi. Karena Alexi menghampiri dirinya yang sedang mencuci piring.


"Fiuuh ...." Meski begitu tak urung ia membilas tangannya, kemudian mencium tangan Alexi.


Alexi pun beranjak meninggalkan dapur dengan bibir tersenyum. Saat baru melangkah keluar rumah, dia berpapasan dengan seorang pria yang tak dikenalnya.


"Mau cari siapa?" tanya Alexi datar.


"Apa Airinnya ada?" pria itu malah balik bertanya.


"Katakan dulu apa tujuanmu ke sini, baru saya izinkan untuk bertemu Airin!" balas Alexi tidak bersahabat.


"Aku hanya ingin mengantarkan ini." jawab pria tersebut, sambil menunjukkan map coklat di tangannya.


"Bicara yang jelas!" desak Alexi.


Pria itu sedikit kesal dengan sikap Alexi. "Map ini isinya surat perceraian dari pengadilan, dan aku ingin mengantar ini agar Airin menanda-tanganinya," jelasnya.


"Bawa sini, biar saya yang memberinya pada Airin!" seru Alexi.


Dia meraih map tersebut, lalu membukanya. Sudut bibirnya menyungging, setelah melihat isinya adalah berkas perceraian Airin dengan Galang. Alexi pun balik langkah ke dalam rumah dengan penuh semangat.


"Cih, posesif sekali. Seperti suaminya saja!" pria itu bergumam pelan, tapi masih terdengar oleh Alexi.


Alexi yang mendengar itu menjadi kesal, dia pun kembali berbalik badan. "Saya memang suaminya! Dan kamu, berhati-hatilah dengan ucapanmu!"

__ADS_1


Alexi mengetatkan rahang seraya bergegas masuk ke dalam rumah. Sedangkan pria yang ditinggalkannya hanya menggelengkan kepala.


'Cih, punya istri jelek saja posesifnya setengah mati. Lagi pula di dunia ini hanya kau saja yang tertarik pada si culun itu,' umpatnya, kali ini hanya dalam hati.


Di dalam rumah, Airin mengkerutkan dahi melihat Alexi sudah kembali.


"Nggak jadi kerja, Mas?" tanya Airin heran.


"Jadi, ini kamu tanda tangan dulu!" perintah Alexi sembari menyerahkan map di tangannya.


"Apa ini, Mas?"


"Dibuka dulu baru, Airin. Jika tidak mengerti baru bertanya," sahut Alexi dengan sedikit kesal.


"Kok malah marah-marah sih, Mas!" Airin mengerucutkan bibir.


"Maaf," balas Alexi, sebenarnya dia kesal karena pria yang ditemuinya di depan tadi. "Kamu baca dulu, habis itu kamu tanda tangan!"


Airin tidak membantah lagi, dia membuka map tersebut kemudian membacanya. Dia cukup heran dari mana Alexi mendapatkan surat tersebut.


"Ini surat perceraianku dengan mas Galang, kamu yang mengurusnya, Mas?" cecar Airin.


"Bukan, dan jangan panggil dia dengan sebutan mas lagi!" Alexi menghunuskan tatapan tidak suka.


Airin berdecak, dia segera mengambil pulpen lalu membubuhkan tanda-tangannya tanpa keraguan.


"Sepertinya kamu sama tidak ragu bercerai dengan Galang. Apa karena sudah ada saya?" Alexi bertanya dengan pongah.


"Hadeuh ...." Airin memutar bola mata, "Aku memang ingin lepas darinya, jauh sebelum ini, Mas," tegasnya.


Alexi menganggukkan kepala. 'Bagus, buang jauh-jauh si brengsek itu dari pikiranmu,' gumamnya dalam hati.


Setelah menanda-tanganinya Airin pun mengembalikan map itu pada Alexi, dia lantas mengekor di belakang Alexi menuju teras.


"Ini suratnya, dan segera pergi dari sini!" Alexi menyerahkan map di tangannya pada pria tadi.


Tapi pria itu memaku di tempatnya, bola matanya menatap Airin dengan sorot tidak percaya. Airin yang dilihatnya sekarang, sangat berbeda dengan Airin yang dulu.


"Airin, kamu cantik sekali!" sanjungnya.


Pujian itu membuat Airin tersenyum tipis, berbanding terbalik dengan Alexi, kulit wajahnya yang bewarna putih itu bermimikri menjadi merah padam.


"Beraninya kau memuji istriku di hadapanku sendiri! Cepat pergi, sebelum aku kehilangan kesabaran dan memasukkanmu ke kandang buaya!" Alexi mencengkeram kerah kemeja pria itu, kemudian mendorongnya.


"I-iya, aku akan pergi!" pria lantas berlari menuju mobil, dan meluncurkannya meninggalkan rumah Airin.


Airin melirik Alexi dengan tatapan aneh. "Mas, berhentilah bersikap seperti ini, karena aku bisa menganggapmu sedang cemburu!" kekehnya geli.


"Bisa jadi!" sahut Alexi tanpa pikir panjang.


Bersambung.

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya, ya. Salam hangat.


__ADS_2