Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Membujuk


__ADS_3

"Ka-kamu? Kenapa balik lagi?" Napas Airin tercekat saat ia membuka pintu rumah, dan menampilkan sosok Alexi yang berdiri di sana.


Sore hari ini Alexi kembali ke rumah Airin, setelah mendapat pencerahan, juga desakan dari orang-tuanya. Sebenarnya bukan cuma itu alasannya, dia pun dihantui rasa bersalah karena meninggalkan Airin begitu saja.


Alexi membulatkan tekadnya untuk menebus kesalahan, dan berniat mencari Airin sampai ke mana pun. Siapa sangka kedatangannya kembali, malah disambut oleh istri yang sedang dicari-carinya.


Melihat Airin ada di depannya, sorot mata Alexi pun berbinar-binar. Ada kelegaan yang ia rasakan, hingga ia tidak dapat menahan diri untuk memeluk istrinya itu.


"Airin, aku minta maaf. Aku salah telah mengabaikanku. Hukum aku, Airin ... tapi jangan pergi, jangan menghilang dari hidupku," lirih Alexi seraya mendekap Airin erat-erat.


Tubuh Airin membeku, seulas senyum hambar terlukis di bibirnya, lalu ia memberontak hingga pelukan suaminya terlepas.


"Untuk apa kamu datang lagi? Bukannya kamu sudah tidak peduli lagi sama aku? Lebih baik kamu pergi saja, Mas. Kita sudahi semua ini! Dari awal pun aku tidak berharap dengan pernikahan ini!" desis Airin, sorot matanya jelas mengambarkan kekecewaan.


"Airin, kamu tidak bisa seperti ini! Kita masih suami istri yang sah, dan aku sama sekali tidak pernah berniat untuk mengakhiri pernikahan kita."


Airin tertawa sarkas, tidak berniat katanya? Lalu apa maksud pria ini mendiamkannya selama berhari-hari? Menganggap keberadaannya seperti patung, berkali-kali ia mengajak bicara, tapi yang ia dapatkan hanyalah sahutan acuh tak acuh.


Tidak, Airin akan membiarkan dirinya terlalu mudah diluluhkan oleh pesona Alexi. Waspada pada diri sendiri agar tidak tersakiti berulang-ulang, adalah hal yang harus ia lakukan.


"Airin, ayolah. Kita bicarakan dulu semuanya, kita selesaikan dengan kepala dingin," bujuk Alexi sambil memasang raut wajahnya yang memelas.


Tidak ada jawaban dari Airin, ia masih bungkam sambil meanatap Alexi dengan perasaan yang tidak menentu. Kesal, marah, sakit, kecewa, semua rasa itu kini tinggal di hatinya, membuat lobang yang dalam di sana.


Alexi menghela napas berat, ia lantas memutar tubuh Airin, lalu menuntunnya untuk duduk di ruang tamu.


Alexi menatap Airin lekat-lekat, digenggamnya jemari istrinya itu meski tanpa balasan.


"Maafkan aku yang labil ini istriku. Maaf jika sikapku melewati batas. Maaf, aku membutuhkan waktu yang lama, sampai kamu merasa diabaikan. Sekarang aku katakan, aku akan bersamamu, tidak peduli apa pun kekuranganmu," bujuk Alexi dengan intonasi suaranya yang tulus.


"Semudah itu kamu mengabaikanku, semudah itu juga kamu menyesalinya. Mungkin nanti, akan sama mudahnya bagimu melupakan apa yang kini kamu ucapkan," sinis Airin.

__ADS_1


"Airin, dengar. Aku manusia biasa, aku hanya bisa meminta maaf, dan mengakui kesalahan besar yang aku buat, lalu mencoba memperbaikinya." Suara Alexi terdengar memohon, dia tidak peduli lagi yang namanya harga diri.


Airin menoleh, meski dengan tatapan yang masih sama datarnya. Dia sudah kalah, setiap kata yang keluar dari mulut Alexi itu, terdengar tulus dan menyentuh di hatinya.


Airin merutuki dirinya yang rapuh, hatinya tidak mampu mengabaikan pengakuan dari Alexi. Meskipun akal pikirannya tidak ingin menyerah secepat ini.


Airin mendengkus, bagaimana dia harus memagari diri dari kata-kata manis itu. Dia takut. Yang ia tahu. Sesuatu yang manis adalah penyebab dari berbagai penyakit mengerikan. Termasuk sakit hati.


"Apa yang membuat kamu berubah pikiran? Bukannya tadi pagi kamu sudah menyerah? Bahkan kamu sendiri yang mengatakan tidak ingin mencariku lagi!" seru Airin.


Hatinya masih sakit mendengar Alexi sendiri yang mengatakan ingin menyerah. Tidak ingin lanjut mencarinya.


"Airin, di usia yang masih muda ini, aku masih terus belajar. Aku mendengarkan nasehat dari orang yang lebih tua, dan itulah yang membuatku ingin mempertahankanmu."


"Lalu siapa pria yang tadi pagi kamu bawa ke sini?" tanya Airin dengan tatapan menelisik.


Alexi mengernyitkan dahi. "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?"


Airin memalingkan wajah, dia tidak ingin mengatakan dari mana ia mengetahui semua itu.


"Jawab saja pertanyaanku, Mas!" Airin tidak ingin dirinya malah balik terpojok.


"Baiklah," sahut Alexi mengalah.


Ia menghela napas, dia merasa tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi dari Airin. Lagi pula setelah ini ia akan membawa istrinya itu pulang. Dia bersiap menceritakan semuanya pada Airin.


"Pria yang tadi pagi itu asistenku," Jawab Alexi pada akhirnya.


"Asisten?" Dahi Airin berkerut, diiringi tatapannya dipenuhi kebingungan.


Satu kata itu sangat aneh bagi pendengarannya. Yang ia tahu suaminya adalah seorang mandor biasa, bagaimana mungkin memiliki seorang asisten?

__ADS_1


"Ya, dia asisten pribadi. Aku akan menceritakan semuanya, tapi kamu jangan menyela sebelum aku selesai bercerita," pinta Alexi.


Airin yang tengah bingung itu mengangguk cepat, agar dirinya tidak mati penasaran.


Alexi mulai menceritakan tanpa ada yang tersisa. Mulai dari nama lengkap berikut asalnya, sampai masalah membuatnya harus menyamar menjadi seorang mandor.


Airin yang terkejut mendengarnya sontak menjauhkan diri. Meskipun belum sepenuhnya percaya pada omongan Alexi, tapi Airin sadar kehidupannya dan Alexi bagaikan langit dan bumi, dunia mereka benar-benar berbeda.


Mengetahui Alexi seorang mandor saja sudah membuatnya tidak percaya diri. Apa jadinya jika kenyataannya Alexi adalah putra dari seorang konglomerat super kaya. Dalam mimpi pun, Airin tidak berani mengharapkan pria seperti itu menjadi miliknya.


"Airin aku tidak berbohong!" Melihat Airin yang terkejut, Alexi mencoba menyakinkan istrinya bahwa ia tidak sedang mengarang carita.


"Itu dia masalahnya, Mas. Jika yang kamu katakan itu benar, maka aku tidak pantas menjadi istrimu. Dunia kita berbeda, jadi lebih baik kamu pergi saja. Kamu pasti tidak akan kesulitan untuk mencari istri di luar sana, karena pastinya ada banyak wanita yang mengantri ingin menjadi istrimu. Kamu juga masih bisa mengaku bujangan pada setiap wanita kamu temui, karena kita menikah tanpa hitam di atas putih!"


Cukup wajar Airin mengkhawatirkan hal tersebut. Tapi Alexi tidak tinggal diam, dia mendekat untuk berusaha menyakinkan Airin.


"Apanya tidak pantas? Kamu sangat pantas untuk menjadi istriku. aku juga tidak menginginkan apa-apa, aku hanya menginginkanmu, menginginkan istriku!" sela Alexi cepat.


"Tidak, aku tidak bisa!" Airin menggelengkan kepala, dia masih beringsut menjauh dari Alexi.


Tidak ingin Airin tenggelam dalam ketakutannya sendiri. Alexi menariknya ke dalam dekapan, ia tidak melepaskannya meskipun Airin memberontak.


"Katakan apanya yang tidak bisa? Aku masih suamimu Airin, kamu tidak bisa menjauhiku!" bujuk Alexi.


"Kamu harus memikirkan semuanya, Mas. Nanti kamu menyesal, aku ini memiliki banyak kekurangan. Lagi pula mana mungkin keluargamu mau menerimaku," sela Airin.


"Itu menurut kamu, tapi kenyataannya tidak seperti yang kamu takutkan. Keluargaku pasti akan menerima kamu apa adanya."


"Maaf, Mas. Aku tetap tidak bisa!" tolak Airin tegas.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya ya.


__ADS_2