
Airin mencoba memejamkan matanya, apa yang tadi ia sampaikan pada Alexi, membuat pikirannya benar-benar terusik, sehingga ia kesulitan untuk tidur.
Dalam hatinya, Airin masih merutuki diri, menyesal karena sudah terlalu berani melangkah. Memikirkan apa yang akan terjadi esok, membuat nyali Airin semakin menciut.
Dia takut, khawatir Alexi akan menganggapnya murahan, haus sentuhan, dan semacamnya. Dapat dipastikan, besok dia tidak akan berani menatap wajah Alexi.
Airin mengambil bantal, menutup wajah kemudian berteriak, "Bodoh, bodoh, bodoh! Dasar Airin bodoh!"
Airin mengatur napas setelah puas berteriak di balik bantal. Dia kembali memaksakan diri untuk tidur, tapi rasanya sangat sulit.
Di kamarnya, Alexi juga tidak bisa tidur. Semua yang Airin katakan tadi membuat pikirannya melayang jauh. Dia pria normal, selama tinggal serumah, dia sudah mati-matian menahan hasratnya pada Airin.
Selama ini Alexi tidak berani meminta lebih, takut jika Airin menolak dan berpikir buruk tentangnya. Tapi malam ini, istrinya itu sendiri yang membahas masalah tersebut, membuat Alexi tidak tahan lagi.
Ah, memikirkan hal itu membuat Alexi ingin mengedor kamar istrinya sekarang juga, lalu menuntaskan apa yang selama ini ia tahan.
Saat terbangun pagi hari, Alexi bergegas keluar kamar untuk membersihkan diri. Saat menuju kamar mandi, dia berpapasan dengan Airin yang baru saja keluar dari sana.
Airin menunduk malu, dia melangkah melewati Alexi. Wangi semerbak yang menyeruak dari tubuh Airin, membuat Alexi nyaris Gila. Alexi menelan saliva, matanya tak berkedip memandang kulit mulus Airin, yang hanya berbalut handuk putih.
Alexi menggelengkan kepala, semalaman dia membayangkam bercinta dengan Airin. Ditambah pemandangan yang ia dapatkan pagi ini, semakin membuat hasratnya meledak-ledak, meminta untuk disalurkan.
Sarapan pagi dilalui dengan hening. Baik Alexi maupun Airin tidak ada memulai bicara, keduanya asik dalam pikiran masing-masing.
Selesai sarapan, meraka pun hendak berangkat bersama. Hari ini Airin akan kembali berjualan seperti biasa, setelah seminggu warungnya dibiarkan tutup.
"Ah, persetan dengan semuanya, aku sudah tidak tahan lagi." Alexi mengerang dalam hati.
Dia menahan tangan Airin yang hendak menarik knop pintu. Dengan satu tarikan, Alexi membawa Airin duduk di sofa ruang tamu, lalu mendudukkan istrinya itu di atas pangkuan.
Napas Airin tercekat, dia sempat kehilangan kesadaran saat Alexi tiba-tiba menarik tubuhnya. Kini ia sudah berada di atas pangkuan suaminya, duduk berhadapan nyaris tak berjarak.
"Kamu mau apa, Mas?" tanya Airin gelagapan.
__ADS_1
Dengan jarak sedekat ini, membuat mereka dapat merasakan hangatnya saling bertukar udara, dari hembusan napas masing-masing.
Mata Alexi terfokus pada bibir ranum Airin. "Bukankah kamu bilang saya boleh meminta hak sebagai suami?" tanyanya dengan napas yang tidak beraturan.
Airin mengangguk pelan, wajahnya sudah merona semerah tomat. "Iya, tapi jangan sekarang. Kita harus berangkat kerja."
"Saya tidak peduli, Airin. Saya menginginkanmu sekarang, saya sudah menahannya sekian lama, Airin," desis Alexi dengan suara yang mulai terdengar serak.
Alexi perlahan mendekat, meraup bibir istrinya yang ranum. Rasanya lembut, hangat, dan begitu manis. Membuat Alexi terbuai saat menghisapnya.
Awalnya Airin masih pasif, tapi perlahan ia mulai mengimbangi permainan lidah Alexi di dalam mulutnya. Saling melilit bertukar candu, bahkan kini tangannya sudah melingkar di leher Alexi.
Tangan Alexi yang berada di punggung Airin, berusaha mencari resleting dress itu. Dia lantas menariknya turun, hingga kain itu menumpuk di pinggang sang istri.
Alexi melepas pagutan bibir mereka. Matanya yang sudah berkabut gairah itu, tak berkedip menatap indahnya bagian yang membusung di tubuh Airin.
Tampak penuh, padat, dan menggoda. Tanpa membuang waktu lagi, Alexi melepaskan pengait di belakangnya, hingga penutup terakhir itu pun terbebas dari tugasnya.
"Sangat indah," puji Alexi, yang membuat wajah Airin semakin merona.
"Sshh, Mas Alvin ...." Airin mendesah tertahan, saat bibir hangat sang suami mendarat di puncak ranumnya.
Memabukkan, Airin merasakan kepalanya pening saat lidah sang suami menari di puncak miliknya. Erangan nikmat pun lolos dari bibirnya saat Alexi menghisap, dan memberikan gigit-gigitan kecil yang nakal.
Puas bermain di satu sisi, Alexi berpindah ke bagian sebelah. Tangannya juga tidak tinggal diam, mulai meremas pelan bagian yang satunya. Ukurannya sangat pas dalam genggaman, tidak kecil, tidak pula terlalu besar.
Alexi menjauhkan tubuh istrinya, hanya untuk membuka penutup masing-masing. Susah payah Airin menelan saliva, saat matanya tertuju pada milik Alexi yang sudah mengeras, juga memiliki ukuran yang jauh melebihi ekspektasinya.
Setelah sama-sama polos, Alexi kembali memangku istrinya. Dia kembali mencium bibir ranum itu, menghisapnya dalam-dalam, menikmati manisnya bertukar saliva.
"Mas, kamu ...." Airin meracau.
Bibir Alexi berpindah ke ceruk lehernya, membasahinya dengan lidah, sesekali membuat tanda kepemilikan, kemudian berpindah ke telinganya.
__ADS_1
"Manis, Airin ... bukan hanya bibirmu yang manis, tapi lehermu juga manis," bisik Alexi menggoda, tepat di telinga Airin dengan suaranya yang serak.
Sedetik kemudian Alexi sudah menghisap daun telinga istrinya itu. Membuat tubuh Airin terus mengelinjang tak karuan, diiringi erangan-erangan khas yang terus keluar dari bibir indahnya.
Getaran di tubuh Airin semakin menjadi-jadi, karena tangan Alexi juga tidak tinggal diam. Jemari nakal itu sangat aktif, menggoda titik sensitifnya dengan sentuhan berirama.
Sampai akhirnya Airin tak mampu lagi menahan ledakannya, tubuhnya pun mengejang bersamaan dengan pelepasan dahsyat yang ia dapatkan.
Alexi tersenyum puas memandangi wajah sayu istrinya. Dia membiarkan Airin menikmati pelepasan, memberikan kesempatan bagi Airin untuk mengatur napasnya yang tersengal.
"Sekarang, Airin. Aku ingin berada di dalam dirimu sekarang," ujar Alexi kemudian.
Airin mengangguk, dia membantu mengarahkan suaminya untuk menjalankan tugas.
"Ehmm, Mas," lirih Airin tertahan, dia perlahan menurunkan tubuh, agar bisa menampung penuh keberadaan suaminya.
Mulut Airin ternganga, napasnya tertahan dengan mata membulat. Tubuhnya benar-benar penuh, disesaki oleh suaminya.
Melihat bibir istrinya merekah lebar, membuat Alexi tidak dapat menahan diri. Dia meraupnya lagi, menghisap rasa manis yang membuatnya benar-benar kecanduan.
"Bergerak, Airin ... bergeraklah!" Alexi melepas pagutannya hanya untuk membisikkan itu, setelahnya ia pun kembali menyatukan bibir mereka.
Seperti yang diinginkan Alexi. Perlahan Airin mulai bergerak di atas tubuh suaminya, dengan ritme yang semakin lama semakin liar. Membuat peluh di tubuh keduanya mulai bercucuran.
Alexi memejamkan matanya, menikmati sensasi hangat yang menjepit kuat miliknya di bawah sana.
Airin merasakan dirinya akan kembali meledak. Dia mempercepat gerakannya, lalu disusul erangan keras dari mulutnya dan Alexi yang saling menyahut. Setelahnya ia pun terkulai lemas, ambruk di atas tubuh sang suami.
"Terimakasih, Airinku," bisik Alexi sambil berusaha mengatur napasnya tersengal.
Alexi memeluk istrinya itu erat-erat. Dia tahu pelukan hangat setelah percintaan, adalah hal yang sangat diinginkan setiap wanita.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya. Berat lho nulis bab ini, hehe ....