
Keluar dari rumah sakit, Adelio terus senyum-senyum sendiri, membuat Sarah semakin keki saja karenanya.
Lampu sebuah mobil jenis sedan keluaran Eropa bekedip, saat Adelio menekan remot di tangannya. Seakan memberitahu Sarah bahwa kotak besi itulah yang akan mengantarnya pulang.
"Kamu jangan kurang ajar ya!" Adelio menepis tangan Sarah, saat gadis tersebut hendak menarik knop pintu kabin belakang mobilnya.
"Kamu pikir aku supir?" kesal Adelio.
"Ya sudah. Lebih baik aku naik taksi saja," balas Sarah keras kepala.
Adelio membuang napas berat, sepertinya gadis ini lebih suka dipaksa daripada menurut secara baik-baik.
"Naik nggak, atau aku bakal nyuruh orang buat nyulik kamu, biar kamu dijual sekalian!" ancam Adelio tidak main-main.
"Kamu pikir aku takut!" balas Sarah tidak ingin kalah.
Ia hendak melangkah pergi, tapi Adelio benar-benar tidak melepaskannya. Pria tersebut menarik tangan Sarah, lalu mendorongnya dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil.
Akhirnya mobil milik Adelio itu meluncur meninggalkan parkiran rumah sakit. Sembari fokus pada jalanan yang ditempuhnya, sesekali Adelio mencuri lirikan ke arah Sarah yang terus memberengut kesal.
"Kenapa sih kamu selalu jutekin aku?"
"Terus aku harus gimana? Pura-pura baik gitu?" Sarah menaikkan bibir atasnya. "Mending kamu jauh-jauhin aku deh, aku capek kamu usilin!"
Adelio membuang napas berat. Sebenarnya dia mengusili Sarah karena ingin gadis tersebut menganggap keberadaannya.
Setelah menempuh perjalanan panjang yang hanya diisi saling diam, akhirnya mereka pun tiba di depan rumah Sarah.
"Terimakasih," tutur Sarah meski dengan nada bicara yang tidak ikhlas.
__ADS_1
Ia membuka seat beltnya sendiri, lalu keluar dari mobil. Hal yang sama juga dilakukan Adelio, ia menysul Sarah turun.
"Kamu mau apa lagi? Jangan macam-macam deh! Nggak ada orang yang bertamu tengah malam, lebih baik kamu pulang sana!"
Sementara Adelio tidak menghiraukannya, ia terus berjalan di sisi Sarah.
Mengetahui Adelio masih begitu keras kepala. Sarah menghentikan langkahnya, sambil berdecak kesal. "Kamu nggak ngerti bahasa manusia, apa?"
"Aku hanya ingin bertemu calon mertuaku, sebelum pamit pulang," sahut Adelio penuh percaya diri.
"Mamaku sudah tidur jam segini!" balas Sarah ketus.
Namun, sedetik setelah pernyataan itu keluar dari mulut Sarah, pintu rumahnya terbuka. Memunculkan sosok bu Sari yang menyambut kedatangan mereka.
Melihat sosok wanita paruh baya itu, Adelio mempercepat langkah. Sapaan ramah diiringi ucapan selamat malam pun lolos dari mulut tersebut, membuat Sarah menggelengkan kepala.
"Kalian dari mana saja? Kenapa pulangnya malam sekali, Nak?" tanya bu Sari.
"Kita nggak ke mana-mana kok, Ma. Tadi itu Airin kecapekan terus pingsan, jadi aku ikut ke rumah sakit dulu," potong Sarah sebelum Adelio menjawab.
"Trus ketemu sama Leo di mana?" bu Sari masih penasaran.
"Kak Airin itu kakak ipar saya, Tante," jawab Adelio yang berhasil membuat bu Sari sedikit terkejut.
"Udah, Ma. Suruh aja dia pulang, nggak enak dilihat tentangga!" protes Sarah agar obrolan kedua orang itu tidak semakin memanjang.
"Kamu tuh, bukannya ngucapin terimakasih malah langsung ngusir!" Bu Sari memelototi putrinya.
"Udah tadi," sahut Sarah malas, lalu masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Bu Sari menggelengkan kepala, ia jadi tidak enak hati pada Adelio atas sikap tidak sopan putrinya,. "Maafkan sikap Sarah ya, Nak Leo."
"Iya, Tante. Sudah biasa," sahut Adelio santai.
Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap Sarah yang seperti itu. Bahkan semakin Sarah mengabaikannya, semakin pula ia merasa tertantang menaklukkan gadisnya tersebut.
Bu Sari baru masuk ke rumahnya setelah Adelio pamit pulang, ia menuju kamar Sarah untuk menasehati sikap keterlaluan putrinya.
"Sarah, kalau sifat kamu masih seperti ini, kapan kamu mau laku?" kesal bu Sari.
"Laku gimana? Memangnya Sarah barang apa? Mama sepertinya ketularan penyakit si Leo deh, kalau ngomong suka ngasal!" balas sembari mengganti gaunnya dengan baju tidur.
"Kamu itu dikasih tahu malah nggak nyambung. Maksud mama kamu harus mengubah sikap, biar bisa ketemu jodoh!"
"Mama Sayang, kalau nanti sudah waktunya ketemu, jodoh itu nggak bakal ke mana kok."
Sarah menghampiri ibunya, mencium malaikat tanpa sayap yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang tersebut, sebelum mendorongnya keluar kamar.
"Udah ya, Ma. Sarah ngantuk, ngobrolnya besok lagi!" Dia mengucapkannya tanpa perasaan berdosa, sebelum mengunci kamarnya rapat-rapat.
"Dasar anak durhaka! Mama belum selesai ngomong sudah diusir!" bu Sari menggedor pintu kamar anaknya.
Dasar Sarahnya yang bandel, dia tidak menghiraukan teriakan itu. Dia naik ke atas ranjang, lalu membalut tubuhnya dengan selimut.
Dia tidak ingin membahas Adelio, tidak peduli sebesar apa pria itu menunjukkan kesungguhannya. Yang jelas, dia seakan alergi pada pria kaya.
Perlu diingat, dulu dia menyukai Alexi karena berpikir pria tersebut hanyalah seorang mandor biasa, yang memiliki kesamaan status sosial dengan dirinya.
Bersambung.
__ADS_1