Airin And The Rich Man

Airin And The Rich Man
Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Sarah datang ke warung Airin membawa wajah lelahnya, dia melangkah gontai setelah menjalani hari yang sangat berat.


Penampilan Sarah hari ini sangat aneh, dia mengenakan rok hitam selutut, kemeja putih polos, rambutnya dikepang dua, ditambah riasan wajahnya yang menor, membuatnya nyaris menyamai ondel-ondel.


Airin yang melihatnya sontak tertawa keras, kedatangan Sarah seakan menjadi penawar, bagi kegundahan yang beberapa menjadi beban di pikirannya.


"Jangan ketawa, sialan!" Sarah melotot kesal.


"Oke, oke, aku diam!" Airin menutup mulut berusaha mengkondisikan tawa. Ia lantas mengambilkan minum untuk Sarah. "Nih, diminum dulu, biar segeran dikit!"


Sarah menyambar gelas tersebut, lalu meneguknya hingga tandas, dan berhasil mengembalikan sedikit kesegarannya.


"Gimana hari ini? Enak?" cecar Airin dengan mimik wajah menggoda.


"Enak apanya, nyebelin, iya ...." Sarah ngedumel layaknya wanita yang sedang mendapat tamu bulanan.


"Ketemu senior ganteng nggak?" goda Airin.


"Ada sih, namanya Leo. tapi nyebelin banget, aku dikerjain habis-habisan sama dia!" mengingat apa yang dilakukan seniornya itu di kampus tadi, membuat sorot mata Sarah memancarkan dendam.


"Yang namanya ospek emang gitu. Tapi kan cuma sebentar, nanti juga bakal ada gilirannya kamu yang ngerjain junior." Airin terkikik melihat raut wajah kesal Sarah.


"Rasanya pengen aku pites-pites tuh orang, nggak ada sopan-sopannya jadi manusia. Harusnya dia respect dikit dong sama aku, walau pun aku baru daftar kuliah, tapi umur aku udah 23-tahun. Aku lebih tua dari dia, palingan umur dia itu sekitar 20-an, dari wajahnya aja jelas kalau umur dia itu di bawah aku!" rutuk Sarah lagi.

__ADS_1


"Lihat aja, aku bakal balas saat ada kesempatan nanti!" omel Sarah yang masih belum puas, dalam hatinya mulai tumbuh benih dendam yang ingin ia pupuk seumur hidup, pada senior menyebalkannya itu.


"Jangan terlalu benci sama seseorang, nanti bisa berubah jadi cinta lho!" ledek Airin.


"Amit-amit!" Sarah mengerucutkan bibirnya. "Oh, ya. Udah gimana hubungan kamu sama Alvin?"


Airin menggeleng lesu. "Seperti yang aku ceritain kemarin, bahkan semakin memburuk," lirihnya.


"Yang sabar ya, Airin. Semoga nanti ada jalan terbaik buat kamu sama Alvin," ujar Sarah menyemangati, lantas memeluk sahabatnya.


Airin membalas pelukan itu, dia merasa sedikit lebih tegar sekarang. Lagi-lagi saat ia terpuruk, sahabatnya yang satu inilah yang selalu ada untuknya.


***


Sore harinya sepulang dari warung, Airin segera membersihkan diri, kemudian beristirahat sebentar. Setelah itu ia mulai membuatkan makan malam untuk dirinya dan Alexi.


Airin sedih memikirkan hal ini, padahal baru sebentar ia merasakan indahnya kehidupan berumah-tangga, rasanya dia tidak rela jika harus kehilangan rumah-tangganya sekali lagi.


"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Airin.


"Aku ada pertemuan dengan mandor lainnya, ada yang harus dibahas," jawab Alexi datar.


Saat ini Alexi sudah kembali berpakaian rapi, padahal ia baru saja pulang kerja. Ini bukan yang pertama Alexi keluar malam, tapi sudah beberapa kali, dan selalu pulang dalam keadaan mabuk.


Sebelumnya Airin tidak pernah bertanya apa pun, dia membiarkan Alexi berbuat apa saja, karena berpikir suaminya itu butuh waktu untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Tapi rasanya semua ini sudah cukup, sudah seminggu ia memberi Alexi waktu. Dan sekarang ia sudah tidak kuat lagi menahannya.


"Kita makan malam dulu ya, Mas. Aku udah siapin, udah lama lho kita nggak makan sama-sama," ajak Airin.


Saat ini Airin sudah memantapkan hatinya untuk mengajak Alexi bicara, dia ingin menanyakan apa sebenarnya yang diinginkan Alexi, pisahkah?


"Aku buru-buru, Airin," sahut Alexi, yang lantas pergi begitu saja tanpa berpamitan.


Airin menggelengkan kepala, bendungan air-matanya sudah nyaris pecah. Dia merasakan hatinya teriris dengan sikap dingin yang kini ditunjukkan Alexi.


"Mas, tunggu!" panggil Airin, lalu betis ramping itu berlari mengejar suaminya. "Kita perlu bicara, Mas!"


"Kita bicarakan besok saja, aku sedang buru-buru!" sahut Alexi.


"Buru-buru apa? Buru-buru pergi ke club, lalu bermabuk-mabukan di sana, iya? Apa di sana sudah ada wanita yang menunggumu? Kalau ia katakan saja, Mas. Aku sadar diriku ini penuh kekurangan, aku tidak akan menghalangi jika itu yang kamu inginkan!"


"Aku tahu, Mas. Aku tidak bisa memberikan apa pun untukmu. Tapi tolong, Mas ... tolong buat keputusan, berikan kepastian yang jelas, jangan gantung aku seperti ini!" lirih Airin dengan suara serak menahan tangis.


"Keputusan apa maksudmu?" tanya Alexi menajamkan tatapannya.


"Jangan pura-pura tidak mengerti, Mas. Aku tahu apa sebabnya kamu bersikap seperti ini, kamu tidak bisa terima aku ini wanita cacat, kan! Kamu boleh pergi, Mas. Silakan ... tapi jatuhkan dulu talak untukku, agar semuanya selesai. Jangan siksa aku seperti ini!" isak Airin pilu.


Alexi mengetatkan rahangnya, dia melangkah meninggalkan Airin tanpa berucap satu kata pun.


Sebenarnya Alexi hanya butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Dia dilema, tidak tahu harus bertahan atau melepaskan, karena keduanya adalah pilihan yang sama-sama sulit.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar, ya.


__ADS_2