
Seminggu kemudian.
Meskipun memiliki orang-orang bisa diperintah untuk melakukan apa saja. Rasanya tidak etis, jika tidak mengantar undangan langsung kepada orang-orang terdekat.
Untuk itu, hari ini Alexi dan Airin pergi mengantar undangan sendiri, dimulai dari teman-teman dekat Alexi, yang kemudian dilanjutkan menuju rumah Galang.
Saat tiba di rumah Galang, manik mata Airin memindai sekeliling halaman rumah yang pernah ia tempati selama 4-tahun itu. Hanya ada kenangan buruk di sini, kecuali sebelum orang tua Galang meninggal.
Airin menekan bell beberapa kali, sampai akhirnya seorang wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga di sini membukakan pintu.
"Nyonya Airin," sapa ART tersebut sedikit pangling.
"Iya, Mbok, ini saya. Mas Galangnya ada?" tanya Airin.
Belum sempat ART itu menjawab, sebuah teriakan melengking mama Reni terdengar dari dalam rumah. "Siapa Mbok?"
"Nyonya Airin, Nya!" sahut pelayan tersebut.
Mendengar nama anak tirinya itu disebut, wanita paruh baya berotak culas tersebut bergegas keluar. Mau apa lagi anak pembawa sial itu ke sini, awas saja jika ingin merebut Galang kembali, pikir mama Reni.
Saat melihat Airin, mata mama Reni terbelalak. Airin yang dilihatnya sekarang berpenampilan sangat berbeda dari Airin yang dikenalnya sejak dulu.
Airin yang sekarang terlihat cantik dan anggun. Pakaian yang menempel ditubuhnya juga barang-barang branded.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya mama Reni ketus.
Sungguh, melihat penampilan Airin yang seperti ini membuat mama Reni sangat khawatir. Dia takut Galang akan terkesima, lalu mengajak untuk rujuk.
"Ini, Ma. Aku mau ngantar undangan," jawab Airin seraya mengulurkan kartu undangannya. "Mama, Frita, sama Mas Galang jangan lupa datang ya," imbuhnya.
Saat kartu undangan tersebut sudah berada di tangannya, mama Reni melirik ke samping. Dia baru menyadari di sebelah Airin berdiri seorang pemuda tampan. Yang jika dibandingkan dengan Galang, maka menantunya itu akan kalah segalanya.
"Ini calon suami kamu?" tanya Mama Reni. Dalam hati ia memuji ketampanan Alexi, dan otot-otot liat yang tersembunyi di balik kemejanya.
Maklum, sudah lebih dari empat tahun dia menjanda ditinggal suami.
"Kita sudah resmi menikah, Ma. Tinggal resepsinya aja," jawab Airin.
"Oh." Mama Reni ber'Oh'ria, seolah ia tidak peduli, tapi dalam hati berpikir, beruntung sekali Airin sialan ini!
__ADS_1
Mata liar mama Reni menyusur ke halaman. Ingin tahu kendaraan apa yang Airin dan Suaminya gunakan untuk ke sini. Percuma saja tampan, jika miskin, pikirnya.
Namun, belum selesai ia membatin merendahkan. Sorot mata mama Reni sudah terkunci pada sebuah mobil SUV berlambang aksara J di depannya, membuat mama Reni harus menelan ludah dengan susah payah.
Ah, sial, lagi-lagi menantunya kalah. Galang tidak memiliki mobil semewah itu. Tidak mungkin juga itu barang sewaan, karena tidak ada rental mobil yang menyediakan mobil sejenis itu.
"Aku pamit ya, Ma. Jangan lupa datang nanti." Airin membuyarkan lamunan mama Reni.
"Iya," sahut mama Reni dengan perasaan keki.
Mama Reni memandangi mobil yang dikemudikan Alexi perlahan meninggalkan halaman rumah. Tatapannya dongkol, iri, ia tidak habis pikir, mengapa Airin selalu beruntung dalam mendapatkan suami!
Alexi sengaja menggunakan mobil jenis SUV, dibanding mobil sportnya. Karena mobil jenis ini lebih nyaman digunakan, untuk perjalanan ke kampung Airin.
Sekitar dua jam perjalanan, mereka pun di rumah Airin. Tempat yang menjadi bermulanya rumah tangga mereka.
Niat hati ingin beristirahat, Airin malah dipaksa bekerja keras di dalam rumah. Airin sampai kelelahan, suaminya itu seolah memiliki stamina yang tidak pernah habis untuk mengerjainya.
Setelah permainan melelahkannya, sepasang suami istri itu baru terbangun saat hari mulai sore. Mereka bergegas mandi, lalu keluar untuk mengantar undangan ke rumah Sarah.
Jarak tempuh yang hanya sekitar setengah kilometer dari rumah Airin itu, membuat mereka memilih berjalan kaki.
"Iya, Bu," sahut Alexi seadanya, padahal dalam hati berkata, baru seminggu lebih sedikit dia dan Airin meninggalkan kampung ini.
Di samping bu Santi, ada putrinya Siska yang terus menatap Alexi penuh minat, sesekali matanya berkedip genit tapi diabaikan oleh Alexi.
Andai saja sejak dulu ia tahu Alexi bukan mandor biasa, pasti sudah dia pepet habis sebelum pria itu menikahi Airin, sekarang pun ia masih berusaha.
Mata julid bu Santi melirik Airin dengan sorot tidak suka, lalu kembali beralih pada Alexi. "Nak Alvin. Apa kamu nggak nyesal nikahin Airin? Dia kan janda, mending cerein aja terus nikah sama anak ibu, masih gadis. Ibu juga ikhlas terima kok, nggak akan permasalahin status duda kamu!"
Mendengar istrinya direndahkan, membuat rahang Alexi mengetat. Lancang sekali mulut itu menyuruhnya menceraikan Airin, seperti tidak pernah diajarkan tata-krama saja.
"Ibu jangan membuat saya marah, ya! Saya bahagia sama Airin, dan sama sekali tidak tertarik dengan anak Anda!" balas Alexi tegas, dengan bahasa formalnya.
Lalu tangan kekar Alexi merangkul istrinya untuk beranjak pergi. Airin diam saja, dalam hati tersenyum bahagia mendengar pembelaan tegas suaminya.
Siska mematung di tempat, sambil menghentak kesal. "Sombong banget, istri kayak begitu aja dibelain!" rutuknya.
"Salah kamu sendiri! Dari dulu sudah mama suruh deketin Nak Alvin, tapi kamu ngeyel. Sok-sokan nolak, sekarang nyesal!" geram bu santi pada anaknya.
__ADS_1
"Ya mana aku tahu, Ma. Dulu aku pikir dia cuma mandor biasa," sahut Siska sebal.
"Makanya dengarin omongan mama! Feeling seorang ibu itu selalu benar!" sungut bu Santi, seraya berlalu meninggalkan putrinya dengan langkah kesal.
Airin dan Alexi yang sudah tiba di rumah Sarah, mereka mengobrol santai di ruang tamu. Tak lama kemudian tampak sosok bu Sari ibunda dari Sarah, datang membawakan teh hangat.
"Silakan diminum, Nak!" ujarnya seraya duduk di samping Sarah.
"Makasih, Tante." Tanpa sungkan Airin mengambil gelas tersebut dari atas meja, lalu menyeruput isinya.
"Wah, beruntung sekali ya kamu Airin, dapat suami seperti ini," puji bu Sari yang membuat wajah Airin merona merah.
"Memang sudah jodohnya, Bu." Alexi yang menjawab.
"Sarah nih, yang belum ketemu-ketemu jodohnya. Padahal tante pengen dia cepat nikah," celutuk bu Sari.
"Ya mau gimana lagi dong, Ma. Kan aku masih kuliah," protes Sarah.
"Banyak kok orang yang masih lanjut kuliah, walaupun udah nikah!" Ibunya tidak ingin kalah.
"Betul tuh kata mama kamu, cari dong calonnya, Sar. Aku aja udah dua kali!" celutuk Airin. Ia langsung menutup mulut sesaat setelah ucapan itu tercetus, karena mendapat pelototan tajam dari suaminya.
"Doa'in aja deh, Rin," sahut Sarah santai, seakan dia sama sekali belum kepikiran untuk menikah.
"Padahal beberapa hari yang lalu, ada cowok yang nganterin Sarah pulang pakai mobil. Terus pas tante tanya, malah dijawab ... jangankan pacar, teman aja bukan. Aneh bannget!" Bu Sari menimpali.
"Siapa, siapa? Cerita dong!" desak Airin.
"Senior yang waktu itu aku ceritain," sahut Sarah malas.
"Ya udah sama dia aja. Kan kamu bilang ganteng, kaya juga!"
Sarah memutar bola matanya. "Buat apa kaya, ganteng, kalau orangnya nyebelin banget, amit-amit deh!"
Bahkan hanya membayangkan wajah seniornya itu saja, sudah membuat Sarah ilfeel. Apalagi harus menjalin hubungan dengannya, tidak sudi!
Bersambung.
Jangan lupa like, dan komentarnya, ya! Salam hangat.
__ADS_1